Telat Lapor SPT Bisa Didenda hingga Rp1 Juta, DJP Ingatkan Wajib Pajak Segera Lapor

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kembali mengingatkan wajib pajak untuk segera melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Tahun Pajak 2025 sebelum batas waktu yang ditetapkan. Pasalnya, keterlambatan menyampaikan SPT dapat berujung pada sanksi administrasi berupa denda yang nilainya mencapai Rp1 juta.

Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) Pasal 7 ayat (1), wajib pajak yang tidak melaporkan SPT Tahunan sesuai tenggat waktu akan dikenai denda administrasi. Untuk wajib pajak orang pribadi, denda keterlambatan sebesar Rp100.000, sedangkan bagi wajib pajak badan mencapai Rp1.000.000.

Sanksi tersebut dapat dikenakan apabila wajib pajak tidak menyampaikan laporan hingga melewati batas waktu yang telah ditetapkan. Untuk wajib pajak orang pribadi, tenggat pelaporan SPT Tahunan jatuh pada 31 Maret 2026.

Selain pengenaan denda, DJP juga dapat mengambil langkah lanjutan terhadap wajib pajak yang belum memenuhi kewajiban pelaporan. Salah satunya dengan menerbitkan Surat Teguran sebagai pengingat resmi agar wajib pajak segera menyampaikan SPT Tahunan.

Setelah surat teguran diterbitkan, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dapat melakukan penelitian lebih lanjut terhadap data perpajakan wajib pajak yang bersangkutan. Penelitian tersebut dilakukan untuk memastikan apakah masih terdapat kewajiban pajak yang belum dipenuhi.

Apabila dari hasil penelitian ditemukan adanya pajak yang belum dibayarkan, KPP dapat menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP). Dokumen ini berisi rincian kewajiban pajak yang harus dibayarkan, termasuk denda keterlambatan serta sanksi administrasi lainnya.

Karena itu, DJP mengimbau masyarakat agar tidak menunda pelaporan SPT Tahunan hingga mendekati tenggat waktu. Selain berisiko terkena sanksi, kebiasaan melapor pada saat mendekati batas waktu juga berpotensi menimbulkan kepadatan sistem pelaporan.

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto sebelumnya juga mengingatkan masyarakat untuk menyampaikan laporan lebih awal. Menurutnya, kebiasaan melaporkan SPT pada saat “injury time” perlu dikurangi agar proses pelaporan berjalan lebih lancar.

Sementara itu, data DJP per 5 Maret 2026 menunjukkan jumlah SPT Tahunan yang telah dilaporkan baru mencapai sekitar 6 juta atau sekitar 42,85 persen dari target 14 juta SPT tahun ini. Artinya, masih ada jutaan wajib pajak yang belum menyampaikan laporan tahunannya.

Untuk mempermudah pelaporan, DJP saat ini menyediakan berbagai kanal digital, termasuk melalui sistem Coretax Form. Otoritas pajak juga tengah menyiapkan aplikasi Coretax Mobile yang diharapkan dapat semakin memudahkan wajib pajak dalam melaporkan SPT secara daring tanpa harus datang ke kantor pajak. (alf)

Ketum Vaudy Starworld Hadiri Seminar Perpajakan IKPI Jakarta Barat

IKPI, Jakarta: Ketua Umum Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Vaudy Starworld hadiri seminar Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) yang diselenggarakan IKPI Cabang Jakarta Barat pada Sabtu (7/3/2026). Kegiatan ini menjadi forum pembaruan pengetahuan sekaligus penguatan peran konsultan pajak dalam menghadapi dinamika regulasi perpajakan.

Dalam sambutannya, Vaudy menegaskan pentingnya kegiatan PPL bagi anggota IKPI untuk menjaga kompetensi profesi. Menurutnya, perkembangan kebijakan perpajakan yang sangat dinamis menuntut konsultan pajak terus memperbarui pengetahuan agar dapat memberikan layanan yang tepat kepada wajib pajak.

Seminar tersebut dihadiri sejumlah pengurus IKPI dari berbagai tingkatan organisasi. Dari unsur pengawas hadir Hamdanus.

Selain itu, jajaran Pengurus Pusat IKPI yang hadir antara lain Bendahara Umum Donny Rindorindo, Kepala Biro Akuntansi Poppy Purnamawati, Kepala Biro Perpajakan Liliek, serta pengurus lainnya seperti Suhardi Sumbadji. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan terhadap kegiatan peningkatan kapasitas anggota di tingkat cabang.

Dari jajaran Pengurus Daerah IKPI DKJ turut hadir Daniel Mulia, Yenni Halim beserta jajaran pengurus daerah. Sementara dari pengurus cabang, kegiatan ini dipimpin oleh Ketua IKPI Cabang Jakarta Barat Teo Amen bersama pengurus cabang.

Acara ini juga dihadiri sejumlah senior IKPI seperti Alwi A Tjandra, Agus Suryadi, Aleng Gunawan, Alung, dan Suhendrea yang memberikan dukungan terhadap penguatan profesionalisme anggota. Kehadiran para senior tersebut menjadi bentuk kesinambungan pengalaman dan pembelajaran dalam organisasi.

Dalam kesempatan tersebut, Vaudy juga menyampaikan bahwa IKPI terus memperluas komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah. Salah satu agenda penting yang sudah dilakukan adalah audiensi dengan Wakil Presiden Gibram Rakabuming Raka, membahas berbagai isu strategis terkait perpajakan.

Seminar PPL ini menghadirkan Anwar Hidayat sebagai narasumber dengan Yustinus Taruna bertindak sebagai moderator. Melalui kegiatan ini, IKPI berharap anggota dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai perkembangan kebijakan perpajakan sekaligus meningkatkan kualitas layanan profesional kepada masyarakat. (bl)

Penerimaan Pajak NTB Februari 2026 Capai Rp339 Miliar, PPN Jadi Penopang

IKPI, Jakarta: Penerimaan pajak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Februari 2026 tercatat mencapai Rp339,15 miliar atau sekitar 8,69 persen dari target penerimaan tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp3,9 triliun. Kinerja tersebut menunjukkan tren positif pada sejumlah jenis pajak utama, dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi salah satu penopang utama penerimaan.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Nusa Tenggara, Judiana Manihuruk, mengatakan struktur penerimaan pajak di NTB masih didominasi oleh pajak berbasis penghasilan serta konsumsi domestik.

Menurut Judiana, penerimaan dari Pajak Penghasilan (PPh) hingga akhir Februari terealisasi sebesar Rp232,73 miliar. Sementara itu, penerimaan dari PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) tercatat mencapai Rp300,79 miliar.

Ia menjelaskan bahwa PPN Dalam Negeri menjadi penopang utama penerimaan dengan realisasi Rp296,44 miliar dan pertumbuhan yang sangat tinggi, mencapai 273,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Penurunan pada pos Pajak Lainnya sebesar Rp194,38 miliar terutama disebabkan pemindahbukuan atas deposit pajak ke jenis PPh dan PPnBM, sehingga bersifat administratif dan tidak mencerminkan perlambatan aktivitas ekonomi,” ujar Judiana, Jumat (6/3/2026).

Selain PPN, sejumlah jenis pajak lainnya juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan. PPh Pasal 21 tumbuh 121,6 persen, sedangkan PPh Final meningkat 29,4 persen. Hal ini mencerminkan stabilitas pembayaran penghasilan tenaga kerja serta kepatuhan wajib pajak dalam skema pajak final.

PPh Pasal 25 baik untuk badan maupun orang pribadi juga menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 11,6 persen dan 12,3 persen. Sementara itu, PPh Pasal 22 dan PPh Pasal 23 masing-masing melonjak 326,1 persen dan 47,4 persen, menandakan meningkatnya aktivitas perdagangan dan jasa di wilayah tersebut.

Dari sisi sektoral, sektor administrasi pemerintahan menjadi kontributor terbesar dengan realisasi penerimaan sebesar Rp57,3 miliar atau sekitar 39,5 persen dan tumbuh 40,7 persen. Sektor perdagangan juga mencatat pertumbuhan kuat sebesar 64,5 persen dengan realisasi Rp75,1 miliar atau sekitar 22,28 persen dari total penerimaan.

Sektor pegawai, akomodasi dan makan minum, serta industri juga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan masing-masing 61,2 persen, 63,3 persen, dan 46,1 persen. Sementara itu, sektor jasa keuangan mengalami kontraksi sebesar 20,7 persen yang dipengaruhi dinamika pembayaran serta pergeseran basis penerimaan.

Dari sisi kepatuhan, realisasi penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan hingga Februari 2026 tercatat sebanyak 81.118 SPT. Jumlah tersebut terdiri atas 79.552 SPT wajib pajak orang pribadi dan 1.636 SPT wajib pajak badan.

Judiana menegaskan bahwa pelaporan SPT Tahunan kini sepenuhnya menggunakan sistem Coretax DJP. Wajib pajak diimbau memastikan akun aktif serta mengklik tombol “Posting SPT” sebelum pengiriman agar data tersampaikan dengan benar.

“DJP juga membuka layanan pada akhir pekan untuk mendukung kelancaran pelaporan. Seluruh layanan DJP tidak dipungut biaya dan masyarakat dihimbau waspada terhadap penipuan,” kata Judiana.

Selain itu, pemerintah juga memberikan stimulus ekonomi melalui kebijakan fiskal. Melalui PMK Nomor 4 Tahun 2026, pemerintah memberikan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) atas tiket pesawat untuk periode pembelian 10 Februari hingga 29 Maret 2026 dan periode penerbangan 14 Maret hingga 29 Maret 2026. Insentif ini diberikan menjelang Ramadan guna mendukung mobilitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. (alf)

APBN Februari 2026 Defisit Rp135,7 Triliun, Penerimaan Pajak Tetap Tumbuh 30 Persen

IKPI, Jakarta: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Februari 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp135,7 triliun atau setara 0,53 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Meski demikian, kinerja penerimaan pajak menunjukkan pertumbuhan kuat pada dua bulan pertama tahun ini.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa pengumpulan pajak pada Januari dan Februari 2026 mengalami kenaikan signifikan, bahkan stabil di kisaran pertumbuhan sekitar 30 persen.

“Pengumpulan pajak di dua bulan pertama tahun 2026 ini tumbuh sebesar 30 persen, baik di Januari maupun Februari, artinya stabil di sana. Dan kami pastikan itu akan stabil terus ke depan,” ujar Purbaya dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Secara keseluruhan, pendapatan negara hingga akhir Februari tercatat sebesar Rp358 triliun atau 11,4 persen dari target APBN 2026 yang sebesar Rp3.153,6 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari total pendapatan tersebut, penerimaan perpajakan mencapai Rp290 triliun atau sekitar 10,8 persen dari target, dengan pertumbuhan 20,5 persen secara tahunan. Penerimaan ini terdiri dari pajak sebesar Rp245,1 triliun atau 10,4 persen dari target yang tumbuh 30,4 persen, serta penerimaan kepabeanan dan cukai sebesar Rp44,9 triliun atau 13,4 persen dari target, meskipun mengalami kontraksi 14,7 persen.

Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp68 triliun atau 14,8 persen dari target, namun mengalami penurunan sebesar 11,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di sisi belanja, realisasi pengeluaran negara mencapai Rp493,8 triliun atau 12,8 persen dari pagu APBN sebesar Rp3.842,7 triliun. Nilai tersebut meningkat cukup tajam, yakni 41,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Belanja pemerintah pusat menjadi komponen yang mengalami lonjakan signifikan dengan realisasi Rp345,1 triliun atau sekitar 11 persen dari target. Nilai ini meningkat hingga 63,7 persen secara tahunan.

Jika dirinci, belanja kementerian/lembaga (K/L) mencapai Rp155 triliun atau 10,3 persen dari target dan tumbuh 85,5 persen. Sementara itu, belanja non-K/L tercatat sebesar Rp191 triliun atau 11,7 persen dari target dengan pertumbuhan 49,4 persen.

Adapun transfer ke daerah (TKD) telah terealisasi sebesar Rp147,7 triliun atau sekitar 21,3 persen dari target, meningkat 8,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan perkembangan tersebut, keseimbangan primer APBN tercatat defisit sebesar Rp35,9 triliun. Keseimbangan primer merupakan indikator penting yang mencerminkan kemampuan pemerintah dalam mengelola utang tanpa memperhitungkan pembayaran bunga utang.

Sementara itu, realisasi pembiayaan anggaran hingga akhir Februari mencapai Rp164,2 triliun atau sekitar 23,8 persen dari target pembiayaan APBN tahun ini yang sebesar Rp689,1 triliun. Pemerintah memastikan pengelolaan pembiayaan tetap dilakukan secara hati-hati untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah dinamika ekonomi global.

Pemerintah Buka Peluang Insentif Pajak untuk Industri Emas

IKPI, Jakarta: Pemerintah membuka peluang pemberian insentif perpajakan bagi industri emas sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan ekosistem bank emas atau bullion bank di Indonesia. Kebijakan tersebut tengah dikaji untuk memastikan industri emas nasional dapat berkembang sekaligus menjaga stabilitas nilai dan keamanan penyimpanan emas.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah akan meninjau berbagai kebijakan yang dapat mendorong kemudahan usaha di sektor bullion. Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan dukungan fiskal yang dapat memperkuat rantai industri emas di dalam negeri.

“Kita lihat apa insentif lain yang perlu kita dorong agar emas ini bisa dijaga secara nilai, namun juga aman dari segi fisik,” kata Airlangga saat acara peluncuran roadmap ekosistem bullion Indonesia di Jakarta, Jumat, (6/3/2026).

Menurut Airlangga, penguatan ekosistem bullion bank diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional. Melalui sistem yang terintegrasi, emas tidak hanya berfungsi sebagai aset investasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen pembiayaan dan likuiditas yang lebih produktif.

Ia menilai keberadaan bullion bank yang telah dirintis pemerintah dapat dimaksimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, industri emas berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi baru.

Selain mempertimbangkan insentif pajak, pemerintah juga mendorong agar perdagangan emas lebih banyak dilakukan di dalam negeri. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan bahan baku bagi industri perhiasan nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah dari komoditas emas.

“Kalau sekarang kan kita dorong supaya emas itu diperdagangkan di dalam negeri dengan bea keluar, dan juga untuk mendukung ketersediaan bahan baku bagi industri perhiasan,” ujar Airlangga.

Meski demikian, rencana pemberian insentif perpajakan masih berada pada tahap kajian. Pemerintah berencana meminta masukan dari pelaku industri emas untuk mengetahui apakah dukungan kebijakan tambahan masih diperlukan atau kebijakan yang ada saat ini sudah memadai.

“Ke depan nanti tanyakan ke para pelaku usahanya masih butuh insentif tambahan atau sudah cukup,” tuturnya.

Sementara itu, perkembangan layanan bank emas di Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan. Airlangga mengungkapkan jumlah nasabah bullion bank meningkat dari sekitar 3,2 juta orang pada Februari 2025 menjadi 5,7 juta orang dalam waktu satu tahun.

Layanan bank emas sendiri resmi diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025. Dua lembaga keuangan yang pertama memperoleh izin menjalankan layanan tersebut adalah PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia.

Airlangga juga memaparkan bahwa aktivitas transaksi emas melalui lembaga tersebut terus meningkat. Nilai emas yang digadaikan di Pegadaian tercatat naik menjadi sekitar 144,7 ton dari sebelumnya 94 ton. Sementara itu, pemanfaatan emas sebagai pinjaman juga meningkat hingga mencapai 38,5 ton dengan nilai sekitar Rp102 triliun.

Di sisi lain, layanan bullion bank di Bank Syariah Indonesia juga menunjukkan perkembangan positif dengan total simpanan emas yang kini telah mencapai sekitar 22 ton. Pemerintah berharap peningkatan tersebut menjadi fondasi bagi terbentuknya ekosistem bullion nasional yang kuat dan mampu memberikan dampak lebih luas bagi perekonomian Indonesia. (alf)

Peran Konsultan Pajak dalam Edukasi Coretax bagi Nasabah Perbankan

Konsultan pajak adalah   mitra strategis pemerintah dalam bidang perpajakan, dan IKPIsebagai organisasi profesi yang menaungi para konsultan pajak di Indonesia secara konsisten mengambil peran dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi perpajakan di berbagai lini masyarakat, guna mendorong terciptanya masyarakat yang semakin sadar dan patuh dalam menjalankan kewajiban perpajakannya.

Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan berbagai institusi perbankan. Pada kesempatan ini, saya mendapat kehormatan dan kepercayaan untuk memberikan edukasi perpajakan kepada para nasabah yang diundang oleh Bank Mega Cabang Kemang, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini terselenggara pada Jumat, 6 Maret 2026, berkat dukungan dan inisiatif Kepala Cabang Bank Mega Kemang, Jakarta, Gustina Dewi beserta Jan Runtu sebagai Area Manager Bank Mega, yang berkomitmen memberikan nilai tambah bagi para nasabah melalui peningkatan pemahaman di bidang perpajakan. 

Peserta edukasi adalah para nasabah undangan serta para pegawai Bank Mega Cabang Kemang menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti kegiatan edukasi perpajakan ini. Hal tersebut terlihat dari partisipasi aktif selama sesi pemaparan maupun diskusi, yang mencerminkan tingginya minat untuk memahami ketentuan perpajakan secara lebih baik.

Pemaparan materi juga dihubungkan dengan berbagai produk yang dimiliki Bank Mega, seperti tabungan deposito, asuransi, kredit usaha, serta KPR rumah dan lainnya. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas kepada para nasabah mengenai perlakuan perpajakan untuk berbagai jenis penghasilan atau transaksi yang berkaitan dengan produk-produk perbankan tersebut.

Selain itu, juga dijelaskan secara praktis bagaimana pelaporan kewajiban perpajakan tersebut dilakukan melalui sistem Coretax, sehingga para peserta dapat memahami dengan lebih jelas proses pengisian dan pelaporannya.

Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini diawali dengan sesi pemaparan materi, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab menjadi bagian yang cukup menarik bagi saya. Melalui berbagai pertanyaan yang disampaikan oleh para peserta, sebagai konsultan pajak kita dapat memahami secara langsung pengalaman dan kendala yang dihadapi oleh para wajib pajak, khususnya dalam proses pelaporan perpajakan yang masih dirasakan cukup sulit oleh sebagian masyarakat.

Hal ini terutama dirasakan oleh wajib pajak yang belum terbiasa menggunakan sistem Coretax, sehingga pemahaman terhadap setiap fitur dan tahapan pengisian dalam sistem tersebut sering kali menimbulkan kebingungan.

Kegiatan ini tentunya memiliki nilai yang sangat tinggi bagi profesi konsultan pajak. Selain menjadi sarana untuk memperkenalkan profesi konsultan pajak kepada masyarakat, kegiatan ini juga merupakan wujud dari salah satu tugas mulia profesi, yaitu berbagi pengetahuan serta memberikan pemahaman yang benar mengenai ketentuan perpajakan kepada para wajib pajak.

Di sisi lain, kegiatan seperti ini juga membuka ruang untuk membangun relasi dan mempererat hubungan profesional antara konsultan pajak, dunia perbankan, serta para wajib pajak.Semoga kegiatan edukasi seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, sehingga semakin banyak masyarakat yang memahami pentingnya pajak serta mampu menjalankan kewajiban perpajakannya dengan baik.

Penulis adalah Kepala Biro Keuangan IKPI

Tintje Beby

Email : tibeb.sugandi@gmail.com

Disclaimer: Tulisan merupakan pendapat pribadi penulis

Indri Dhandria: Coretax Sederhanakan SPT Orang Pribadi, Kini Hanya Satu Formulir

IKPI, Kabupaten Tangerang: Sistem administrasi perpajakan Coretax membawa perubahan signifikan dalam format pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan bagi wajib pajak orang pribadi. Wakil Ketua Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Kabupaten Tangerang Indri Dhandria Alwi menjelaskan bahwa dalam sistem sebelumnya terdapat tiga jenis formulir SPT yang harus dipilih wajib pajak sesuai dengan kondisi penghasilannya.

Penjelasan tersebut disampaikan dalam talk show dan konsultasi edukasi SPT Coretax yang digelar IKPI Cabang Kabupaten Tangerang di Maxx Box Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Jumat (6/3/2025).

“Kalau dulu penghasilan di bawah Rp60 juta cukup menggunakan formulir 1770SS. Jika penghasilan lebih dari Rp60 juta menggunakan formulir 1770S. Sedangkan untuk wajib pajak dengan usaha atau pekerjaan bebas menggunakan formulir 1770,” jelas Indri.

Namun dalam sistem Coretax saat ini, formulir SPT orang pribadi hanya tersedia dalam satu format sehingga wajib pajak tidak perlu lagi memilih jenis formulir seperti sebelumnya.

“Sekarang formulirnya hanya satu. Jadi Bapak-Ibu tidak perlu bingung lagi memilih formulir seperti sebelumnya,” ujarnya.

Indri menambahkan bahwa sistem Coretax dirancang lebih adaptif karena hanya menampilkan bagian formulir yang relevan dengan kondisi wajib pajak.

“Di Coretax, ketika Bapak-Ibu login dan masuk ke halaman SPT, Bapak-Ibu akan langsung berada di halaman induk. Di situ cukup menjawab pertanyaan sesuai kondisi Bapak-Ibu,” kata Indri.

Ia menjelaskan, jika wajib pajak tidak memiliki jenis penghasilan tertentu, maka sistem tidak akan menampilkan lampiran terkait sehingga proses pengisian menjadi lebih sederhana.

Dengan sistem tersebut, pelaporan SPT diharapkan menjadi lebih mudah dipahami oleh masyarakat serta mengurangi kebingungan yang sebelumnya sering terjadi saat memilih jenis formulir. (bl)

Bina Sapa Imlek IKPI Medan 2026 Pererat Silaturahmi dan Berlangsung Meriah 

IKPI, Medan: Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Medan menggelar kegiatan Bina Sapa Imlek dalam rangka menyemarakkan Tahun Baru Imlek 2577 sekaligus mempererat tali silaturahmi antaranggota. Kegiatan berlangsung meriah di Kewin Cafe and Dine, Sabtu, (28/2/2026).

Sebanyak 33 anggota hadir dalam kegiatan tersebut dengan mengenakan busana bernuansa Imlek. Dominasi warna merah dan sentuhan emas menambah semarak suasana sekaligus menghadirkan nuansa hangat dalam perayaan kebersamaan tersebut.

(Foto: DOK. IKPI Cabang Medan)

Ketua IKPI Cabang Medan Ebenezer Simamora menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru Imlek kepada seluruh anggota yang hadir. Ia berharap tahun yang baru membawa kesehatan, kebahagiaan, serta kesuksesan bagi seluruh anggota dalam menjalankan profesi sebagai konsultan pajak.

“Semoga di Tahun Baru Imlek ini kita semua diberikan kesehatan, kebahagiaan, serta kesuksesan dalam menjalankan profesi. Kebersamaan seperti ini juga diharapkan semakin mempererat hubungan antaranggota IKPI Cabang Medan,” ujar Ebenezer, Sabtu (7/3/2026).

(Foto: DOK. IKPI Cabang Medan)

Salah satu momen yang paling dinantikan dalam kegiatan ini adalah prosesi Yu Sheng yang dilakukan secara bersama-sama. Tradisi ini menjadi simbol doa dan harapan akan keberuntungan, kemakmuran, serta kebersamaan di tahun yang baru.

Dengan penuh semangat, para anggota mengaduk dan mengangkat Yu Sheng sambil menyampaikan doa serta harapan baik. Suasana sukacita pun terasa saat seluruh peserta mengikuti tradisi tersebut dengan antusias.

(Foto: DOK. IKPI Cabang Medan)

Selain merayakan Imlek, acara juga diramaikan dengan perayaan ulang tahun bagi lima anggota IKPI yang lahir pada Februari dan hadir dalam kegiatan Bina Sapa, yaitu Meilani, Lony Yety, Moina, Lidya Veriyang, dan Jenny. Perayaan sederhana ini berlangsung hangat dengan doa serta ucapan selamat dari para anggota yang hadir.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan. Acara dipandu secara energik oleh Meilani sebagai pembawa acara, sehingga suasana semakin hidup dan interaktif.

(Foto: DOK. IKPI Cabang Medan)

Beragam hiburan turut memeriahkan kegiatan, mulai dari penampilan lagu oleh Lony Yety dan Ebenezer Simamora, permainan konsentrasi kata yang mengundang gelak tawa, hingga permainan “Lucky Match Angpao” yang menambah antusiasme peserta.

Sepanjang kegiatan, canda dan tawa menghiasi kebersamaan para anggota. Seluruh peserta tampak menikmati setiap rangkaian acara hingga akhirnya kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai kenangan atas kebersamaan hangat dalam Bina Sapa Imlek IKPI Cabang Medan tahun ini. (bl)

Rakorda IKPI Sumbagteng Dorong Komunikasi Internal Lebih Efektif antar Pengurus

IKPI, Pekanbaru: Pengurus Daerah Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Sumatera Bagian Tengah menekankan pentingnya komunikasi yang efektif antar pengurus dalam menjalankan kegiatan organisasi.

Hal tersebut disampaikan Ketua IKPI Pengda Sumbagteng Gazali Tjaya Indra dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) IKPI Sumbagteng yang digelar di Hotel Premier Pekanbaru, Kamis  (5/3/2026).

Gazali menjelaskan bahwa koordinasi yang baik akan membantu pengurus daerah dan cabang dalam melaksanakan berbagai program organisasi secara lebih terarah.

Salah satu langkah konkret yang disepakati dalam Rakorda tersebut adalah pembentukan grup komunikasi khusus antara pengurus daerah dengan pengurus cabang Pekanbaru dan Padang.

Menurut Gazali, keberadaan kanal komunikasi tersebut diharapkan dapat mempercepat pertukaran informasi terkait kegiatan organisasi maupun berbagai isu yang dihadapi anggota.

“Koordinasi yang baik akan mempermudah pelaksanaan kegiatan organisasi dan memastikan setiap program dapat berjalan sesuai rencana,” kata Gazali.

Dalam forum diskusi, pengurus cabang juga memberikan masukan terkait etika komunikasi internal organisasi.

Salah satu saran yang muncul adalah agar setiap kesalahan atau kekhilafan dalam pelaksanaan kegiatan organisasi disampaikan secara personal, bukan melalui grup komunikasi bersama.

Gazali menilai pendekatan tersebut penting untuk menjaga keharmonisan hubungan antar pengurus sekaligus memperkuat soliditas organisasi.

Ia berharap melalui komunikasi yang lebih baik, IKPI Sumbagteng dapat semakin solid dalam menjalankan berbagai agenda organisasi di masa mendatang. (bl)

Dhaniel Hutagalung: Coretax Bikin Wajib Pajak Tak Perlu Lagi Kumpulkan Bukti Potong

IKPI, Kabupaten Tangerang: Sistem administrasi perpajakan baru Coretax dinilai mampu menyederhanakan proses pelaporan pajak, terutama bagi wajib pajak orang pribadi yang selama ini harus mengumpulkan berbagai dokumen bukti potong secara manual.

Hal tersebut disampaikan Ketua Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Kabupaten Tangerang Dhaniel Hutagalung dalam kegiatan talk show dan konsultasi edukasi SPT Coretax yang diselenggarakan IKPI Cabang Kabupaten Tangerang di Maxx Box Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Jumat (6/3/2025).

Dhaniel menjelaskan, melalui sistem Coretax, data perpajakan wajib pajak pada dasarnya sudah tersedia dalam sistem sehingga wajib pajak tidak perlu lagi melakukan pengumpulan dokumen seperti sebelumnya.

“Jadi Bapak-Ibu tidak perlu lagi mengumpulkan bukti-bukti secara manual. Jika Bapak-Ibu sudah pernah login di Coretax, semua rekanan yang menerbitkan daftar bukti potong kepada Bapak-Ibu dapat dilihat di sana. Tinggal kita cek apakah datanya sudah benar atau belum,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa sistem Coretax menggunakan konsep prepopulated data, yaitu data yang telah tersedia dan dapat langsung digunakan oleh wajib pajak ketika melakukan pelaporan SPT.

Dengan mekanisme tersebut, proses pelaporan pajak menjadi lebih praktis karena wajib pajak hanya perlu melakukan pengecekan serta klarifikasi apabila terdapat data yang tidak sesuai.

Dhaniel menilai sistem ini sebenarnya dirancang untuk mempermudah administrasi perpajakan masyarakat.

“Secara hakikat, Coretax ini tujuannya mempermudah. Kalau masih ada kebingungan, di sinilah peran kami untuk membantu masyarakat dalam memberikan edukasi,” katanya.

Selain mempermudah pelaporan, sistem Coretax juga dinilai mampu meningkatkan transparansi data perpajakan karena seluruh informasi transaksi perpajakan dapat terlihat secara langsung dalam akun wajib pajak.

Melalui kegiatan edukasi ini, IKPI berharap masyarakat semakin memahami cara kerja sistem Coretax sehingga proses pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) dapat dilakukan dengan lebih mudah dan benar. (bl)

id_ID