IKPI Dorong Klinik Pajak Gratis di Daerah, Ketum Vaudy Starworld: Wajib Pajak Butuh Pendampingan Hadapi Sistem Digital

IKPI, Jakarta: Program layanan konsultasi perpajakan gratis yang digagas Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) di berbagai daerah mendapat dukungan penuh dari Ketua Umum IKPI, Vaudy Starworld. Ia menilai kehadiran Klinik Pajak menjadi langkah konkret organisasi profesi konsultan pajak dalam membantu masyarakat memahami kewajiban perpajakan, terutama di tengah transformasi digital melalui sistem Coretax.

Program tersebut salah satunya dijalankan oleh IKPI Cabang Makassar melalui kegiatan Klinik Pajak Gratis yang membuka layanan konsultasi perpajakan bagi masyarakat. Layanan ini mencakup aktivasi akun Coretax, administrasi perpajakan, hingga pendampingan pelaporan pajak.

Ketua Umum IKPI Vaudy Starworld mengatakan, inisiatif klinik pajak merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk meningkatkan literasi perpajakan sekaligus mendukung peningkatan kepatuhan wajib pajak di Indonesia.

“Program seperti klinik pajak ini sangat penting karena banyak wajib pajak yang masih membutuhkan pendampingan langsung, terutama dalam memahami sistem administrasi perpajakan yang kini semakin digital,” ujar Vaudy, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, implementasi sistem Coretax DJP menuntut wajib pajak untuk beradaptasi dengan berbagai proses baru dalam administrasi perpajakan. Karena itu, peran konsultan pajak dinilai semakin strategis sebagai mitra pemerintah sekaligus pendamping bagi masyarakat.

Vaudy menjelaskan, melalui kegiatan klinik pajak, anggota IKPI tidak hanya memberikan konsultasi teknis, tetapi juga membantu wajib pajak memahami kewajiban mereka secara benar agar dapat memenuhi ketentuan perpajakan dengan lebih mudah.

“Kami ingin memastikan wajib pajak tidak merasa sendirian menghadapi perubahan sistem. Konsultan pajak hadir untuk memberikan edukasi, pendampingan, dan solusi yang tepat,” katanya.

Ia juga mengapresiasi langkah IKPI Cabang Makassar yang aktif menghadirkan layanan konsultasi gratis bagi masyarakat. Menurut Vaudy, kegiatan serupa di berbagai daerah menunjukkan kontribusi nyata organisasi profesi dalam mendukung sistem perpajakan nasional.

Selain membantu aktivasi akun Coretax, klinik pajak tersebut juga memberikan layanan administrasi perpajakan seperti pendaftaran NPWP, pengajuan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP), permohonan surat keterangan bebas pajak, hingga pengurusan sertifikat elektronik.

Vaudy berharap program klinik pajak dapat terus diperluas oleh cabang-cabang IKPI di seluruh Indonesia. Dengan semakin banyaknya layanan konsultasi yang mudah diakses masyarakat, diharapkan tingkat kepatuhan pajak meningkat sekaligus memperkuat penerimaan negara.

“Kolaborasi antara konsultan pajak, masyarakat, dan pemerintah sangat penting. Melalui edukasi dan pendampingan seperti ini, kita dapat membangun sistem perpajakan yang lebih kuat dan berkelanjutan,” ujarnya. (bl)

Sebanyak 1.819 Produk RI Dapat Tarif Nol Persen ke Pasar AS, Ekonom Ingatkan Daya Saing

IKPI, Jakarta: Kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat melalui skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) membuka peluang baru bagi produk Indonesia untuk memasuki pasar Amerika. Dalam kesepakatan tersebut, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia mendapatkan fasilitas tarif masuk nol persen.

Fasilitas ini dinilai berpotensi memperluas akses ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat. Namun para ekonom mengingatkan bahwa peluang tersebut tidak otomatis meningkatkan ekspor apabila industri nasional belum memiliki kesiapan daya saing yang memadai.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan fasilitas tarif nol persen juga diberikan kepada sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara sehingga persaingan tetap ketat.

“Banyak negara juga mendapat fasilitas yang sama, seperti Malaysia dan Vietnam. Artinya pasar memang terbuka, tetapi kita tetap harus bersaing dengan negara lain yang industrinya sudah kuat,” kata Tauhid dalam diskusi kajian dampak ART yang diselenggarakan Prognosa Research & Consulting pada Jumat (6/3/2026).

Menurut Tauhid, peluang ekspor tersebut hanya bisa dimanfaatkan secara optimal apabila industri nasional mampu meningkatkan produktivitas, kualitas produk, serta efisiensi biaya produksi.

Ia mencontohkan sektor elektronik yang harus bersaing langsung dengan produsen dari negara-negara Asia Tenggara yang telah memiliki kapasitas produksi besar. Bahkan untuk komoditas unggulan seperti minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), pasar global tetap menyediakan banyak alternatif pemasok dari negara lain.

Direktur Prognosa Research & Consulting Garda Maharsi mengatakan hasil pemetaan awal terhadap struktur industri nasional menunjukkan bahwa tidak semua sektor memiliki kesiapan yang sama dalam memanfaatkan peluang dari kesepakatan perdagangan tersebut.

Beberapa sektor seperti industri nikel, energi, dan petrokimia dinilai memiliki peluang besar untuk memanfaatkan fasilitas tarif tersebut. Selain itu, komoditas kelapa sawit juga dinilai masih memiliki potensi untuk memperluas pasar ekspor.

“Beberapa sektor memang punya peluang cukup kuat. Namun agar potensi itu benar-benar terwujud, ekosistem industrinya harus diperkuat,” ujar Garda.

Ia menambahkan bahwa penguatan ekosistem industri mencakup kemudahan akses pembiayaan, perbaikan sistem logistik nasional, serta penguatan rantai pasok industri di dalam negeri.

Di sisi lain, sejumlah sektor seperti tekstil, produk logam, dan mineral dinilai masih membutuhkan peningkatan kapasitas produksi agar mampu bersaing secara optimal di pasar global.

Direktur Public Affairs Praxis Sofyan Herbowo menilai kapasitas produksi industri menjadi faktor penting dalam memanfaatkan fasilitas tarif nol persen tersebut. Ia menyebut Indonesia masih memiliki posisi kuat dalam beberapa komoditas global, salah satunya minyak sawit mentah.

“Indonesia masih menjadi salah satu produsen terbesar dunia untuk CPO sehingga memiliki pengaruh dalam pembentukan harga di pasar global,” kata Sofyan.

Namun untuk industri dengan rantai pasok yang panjang seperti tekstil, menurutnya diperlukan waktu dan strategi penyesuaian sebelum peluang ekspor dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Tauhid menegaskan bahwa fasilitas tarif nol persen seharusnya dipandang sebagai peluang, bukan jaminan peningkatan ekspor.

“Kita tidak boleh terkecoh dengan angka 1.819 pos tarif. Walaupun tarif ekspor menjadi nol persen, belum tentu ekspor kita langsung naik jika kapasitas dan daya saing industri belum siap,” ujarnya.

Dalam kajian yang dilakukan, ia memperkirakan dalam skenario tarif 19 persen dengan pengecualian tarif nol persen untuk produk tertentu, ekspor Indonesia justru berpotensi turun sekitar 1,58 persen. Pada saat yang sama, impor diperkirakan meningkat sekitar 1,51 persen.

Dampaknya terhadap perekonomian juga diperkirakan tidak kecil. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia berpotensi terkoreksi sekitar 0,41 persen, sementara ekonomi Amerika Serikat diproyeksikan tumbuh hingga 6,54 persen.

Dari sisi neraca perdagangan, Indonesia juga perlu mengantisipasi potensi tekanan defisit sekitar 5,7 miliar dolar AS, di luar komitmen pembelian komoditas Amerika senilai 38,4 miliar dolar AS yang tercantum dalam kesepakatan ART. (alf)

Serikat Buruh Jawa Barat Harap Kebijakan Pajak THR Ditinjau Ulang

IKPI, Jakarta: Serikat buruh di Jawa Barat berharap pemerintah meninjau ulang kebijakan perpajakan terhadap Tunjangan Hari Raya (THR) yang diterima pekerja menjelang Lebaran 2026. Kalangan buruh menilai THR seharusnya diperlakukan berbeda dari penghasilan rutin karena hanya diterima satu kali dalam setahun.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jawa Barat, Roy Jinto, mengatakan aspirasi mengenai perlunya evaluasi pajak THR sebenarnya sudah lama disampaikan oleh serikat pekerja.

Menurut Roy, sejumlah perwakilan buruh telah menyampaikan hal tersebut bahkan sebelum memasuki bulan Ramadan. Namun hingga kini, kebijakan tersebut dinilai belum mengalami perubahan.

“Itu aspirasi lama yang sebelum bulan puasa sudah disuarakan beberapa kali,” ujar Roy Jinto, Senin (9/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa pemerintah memang telah melakukan penyesuaian terkait batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang membuat sebagian pekerja di sektor industri padat karya dengan penghasilan tertentu tidak dikenai Pajak Penghasilan Pasal 21.

Namun, Roy menilai kondisi tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh pekerja di lapangan. Menurutnya, meskipun gaji bulanan sebagian pekerja berada di bawah batas tertentu, potongan pajak masih kerap muncul ketika THR dibayarkan.

“Kalau gaji bulanan mungkin tidak kena pajak, tetapi THR tetap dipotong pajak. Padahal THR bukan penghasilan rutin setiap bulan, melainkan hanya diterima sekali dalam setahun,” ujarnya.

Bagi sebagian buruh, lanjut Roy, THR memiliki peran penting untuk memenuhi kebutuhan tambahan menjelang hari raya. Oleh karena itu, serikat pekerja berharap kebijakan perpajakan tersebut dapat ditinjau kembali agar tidak mengurangi manfaat yang diterima pekerja.

Selain persoalan THR, serikat buruh di Jawa Barat juga sempat menyampaikan perhatian terkait pemotongan pajak atas manfaat Jaminan Hari Tua (JHT). Mereka berharap pemerintah dapat memberikan kejelasan serta mempertimbangkan aspek perlindungan kesejahteraan pekerja.

Roy menegaskan bahwa kalangan buruh tidak menolak kewajiban perpajakan secara umum. Namun, mereka berharap pemerintah dapat mempertimbangkan karakter penghasilan yang tidak bersifat rutin seperti THR dalam penyusunan kebijakan pajak.

Menurutnya, evaluasi kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan rasa keadilan bagi pekerja sekaligus menjaga daya beli masyarakat menjelang perayaan hari besar keagamaan. (alf)

SPT Tahunan Kini Banyak Bupot, DJP: Efek Data Otomatis di Coretax

IKPI, Jakarta: Sejumlah wajib pajak menemukan jumlah bukti potong (bupot) yang lebih banyak saat mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan tahun ini. Fenomena tersebut muncul setelah penerapan sistem administrasi perpajakan digital Coretax DJP yang menghadirkan fitur prepopulated data sehingga data pemotongan pajak otomatis muncul di dalam SPT.

Melalui sistem ini, wajib pajak tidak lagi harus memasukkan bukti potong secara manual. Data pemotongan pajak yang dilaporkan oleh pihak pemotong akan langsung terintegrasi dan muncul pada lampiran SPT Tahunan orang pribadi.

Dalam artikel yang ditulis Muhammad Rifqi Saifudin di laman resmi Direktorat Jenderal Pajak (DJP), dijelaskan bahwa data bupot pada Coretax akan tampil di Lampiran I bagian D dan E dalam SPT Tahunan orang pribadi.

Jenis bukti potong yang paling umum adalah formulir A1 dan A2. Bupot A1 merupakan bukti pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh 21) yang diberikan kepada pegawai tetap atau penerima pensiun yang bekerja di sektor swasta.

Sementara itu, bupot A2 diberikan kepada aparatur negara seperti pegawai negeri sipil (PNS), anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), pejabat negara, serta para pensiunannya.

Selain dua jenis tersebut, Coretax juga mencatat bukti potong lain yang dikenal sebagai BP21. Bukti potong ini umumnya diterbitkan setiap masa pajak untuk penghasilan tertentu yang dikenai pemotongan PPh 21, baik yang bersifat final maupun tidak final.

Rifqi menjelaskan, dua jenis penghasilan yang kini sering muncul dalam BP21 adalah cashback dan komisi affiliate. Cashback merupakan pengembalian sebagian nilai transaksi yang diberikan setelah pembayaran dilakukan secara penuh.

Dalam ketentuan perpajakan, cashback tetap dianggap sebagai tambahan kemampuan ekonomis bagi penerimanya. Karena itu, perusahaan yang memberikan cashback kepada individu wajib memotong PPh 21 dan menerbitkan bukti potong.

Jenis lainnya adalah komisi affiliate, yakni penghasilan yang diterima afiliator setelah produk yang dipromosikan berhasil terjual melalui kanal digital seperti media sosial, situs web, atau blog.

Skema komisi affiliate sendiri beragam, mulai dari pay-per-sale (PPS), pay-per-click (PPC), hingga pay-per-impression (PPI). Sama seperti cashback, pemberi komisi juga berkewajiban memotong PPh 21 dan menerbitkan bukti potong kepada penerima penghasilan.

Dengan integrasi data melalui Coretax, seluruh bukti potong tersebut dapat langsung terprefill ke dalam SPT Tahunan. Kondisi ini membuat jumlah bupot yang terlihat dalam SPT tahun ini menjadi lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Meski demikian, DJP menegaskan bahwa banyaknya bupot tidak otomatis membuat pajak yang harus dibayar menjadi lebih besar. Status akhir SPT tetap ditentukan oleh perbandingan antara total penghasilan dalam satu tahun dengan jumlah pajak yang telah dipotong atau dibayar sebelumnya.

Karena itu, hasil akhir pelaporan SPT bisa saja tetap nihil, kurang bayar, atau bahkan lebih bayar. DJP juga menegaskan bahwa kemunculan banyak bupot merupakan bukti integrasi data perpajakan yang semakin baik, bukan karena adanya pajak baru.

Rifqi mengingatkan wajib pajak untuk memastikan pengisian data dalam lampiran SPT sudah benar, khususnya pada Lampiran I bagian D yang memuat penghasilan neto dan bagian E yang berisi daftar bukti potong.

Apabila data tersebut tidak diisi secara tepat, hasil perhitungan pajak dalam induk SPT berpotensi menghasilkan status lebih bayar atau kurang bayar yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

“Banyak bupot di Coretax DJP merupakan bukti integrasi data perpajakan. Tidak ada pajak baru yang dipungut oleh DJP, dan DJP juga tidak menambah penghasilan wajib pajak,” tulis Rifqi. (alf)

Mendagri Dorong Sistem Pembayaran Pajak Daerah Mirip QRIS

IKPI, Jakarta: Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mendorong pemerintah daerah mempercepat inovasi digital dalam sistem pembayaran pajak daerah guna memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sistem yang tengah didorong pemerintah itu dirancang terintegrasi secara daring dan memiliki mekanisme serupa dengan sistem pembayaran digital QRIS yang dikembangkan oleh Bank Indonesia.

Tito menjelaskan, sistem tersebut memungkinkan pembayaran pajak daerah dilakukan secara langsung melalui kanal digital sehingga dana yang dibayarkan masyarakat dapat langsung masuk ke rekening pemerintah daerah tanpa harus melalui perantara.

“Kalau yang nasionalnya, saya sudah bicara dengan Gubernur BI. Beliau membuat sistem yang seperti QRIS itu, tapi online. Supaya nanti bisa di-connect dengan semua pemerintah daerah, sehingga bisa masuk langsung ke Dispenda,” ujar Tito dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).

Pernyataan itu disampaikan Tito saat menghadiri penutupan Kepulauan Riau Ramadan Fair 2026 yang digelar di halaman Gedung Dekranasda, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Minggu (8/3/2026).

Menurut Tito, digitalisasi sistem pembayaran pajak daerah penting untuk memastikan pajak yang dibayarkan masyarakat benar-benar masuk ke kas daerah. Ia menegaskan bahwa upaya meningkatkan PAD tidak harus dilakukan dengan menambah jenis pajak baru yang berpotensi membebani masyarakat.

Ia mencontohkan transaksi di sektor perhotelan, restoran, dan kafe, di mana konsumen sebenarnya telah membayar pajak setiap kali melakukan transaksi. Namun dalam praktiknya, pajak tersebut lebih dulu dikumpulkan oleh pelaku usaha sebelum disetorkan ke pemerintah daerah.

“Pertanyaannya, apakah uang itu disampaikan ke Dispenda sama dengan yang dikumpulkan?” ujar Tito.

Dengan sistem pembayaran pajak yang terhubung secara digital dan real time, pemerintah berharap pembayaran pajak oleh konsumen dapat langsung tercatat dan masuk ke rekening pemerintah daerah. Skema ini dinilai dapat mengurangi potensi kebocoran sekaligus meningkatkan transparansi pengelolaan pajak daerah.

Tito menilai digitalisasi tersebut juga berpotensi meningkatkan penerimaan daerah secara signifikan. Menurutnya, apabila sistem ini berjalan baik, maka PAD dapat meningkat tanpa perlu menaikkan tarif atau menciptakan jenis pajak baru.

Ia juga mencontohkan keberhasilan Kabupaten Badung di Provinsi Bali yang mampu membangun kemandirian fiskal dari sektor pariwisata, khususnya melalui pajak hotel dan restoran. Tingginya PAD membuat daerah tersebut tetap stabil meskipun terjadi pengurangan Dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat.

Tito melihat potensi serupa juga dimiliki Provinsi Kepulauan Riau, khususnya di wilayah Batam, Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun yang memiliki sektor hospitality dan pariwisata yang berkembang pesat.

Menurutnya, kawasan tersebut berpeluang menjadi destinasi MICE (Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition) berskala nasional, sejajar dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta, dan Surabaya.

“Ini kalau bisa dibuat sistem seperti itu, baik nasional maupun inisiatif daerah sendiri silakan. Intinya tidak bocor, PAD akan kuat sehingga daerah bisa mandiri secara fiskal,” kata Tito. (alf)

DJP Catat 6,68 Juta Wajib Pajak Sudah Lapor SPT Tahunan, Target 15 Juta Hingga Akhir Maret

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan melaporkan jumlah pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan (PPh) terus bertambah menjelang batas waktu penyampaian. Hingga Senin, 9 Maret 2026, tercatat sebanyak 6,68 juta wajib pajak telah menyampaikan SPT Tahunan untuk tahun pajak 2025.

Data tersebut menunjukkan peningkatan cukup signifikan dibandingkan posisi awal bulan. Pada 1 Maret 2026, jumlah SPT yang telah dilaporkan baru mencapai sekitar 5,1 juta laporan.

“Progres pelaporan SPT Tahunan PPh untuk periode sampai dengan 8 Maret 2026 (Tahun Pajak 2025) tercatat sebanyak 6.691.081 SPT,” demikian keterangan resmi DJP yang disampaikan pada Senin (9/3/2026).

DJP sendiri menargetkan jumlah pelaporan SPT tahun ini dapat mencapai 15 juta wajib pajak. Untuk mencapai target tersebut, otoritas pajak berharap tren pelaporan terus meningkat menjelang tenggat waktu penyampaian SPT Tahunan.

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto sebelumnya menyampaikan bahwa dalam beberapa waktu terakhir jumlah pelaporan SPT yang masuk melalui sistem perpajakan digital terus bertambah. Rata-rata laporan yang diterima setiap hari kerja bahkan sudah melampaui 250 ribu SPT.

“Jadi kami menargetkan kalau bisa setiap hari aktivitas wajib pajak yang melapor itu di atas 250 ribu,” ujar Bimo dalam media briefing di Jakarta pada Kamis, 5 Maret 2026.

Menurutnya, sistem administrasi perpajakan baru berbasis digital, yakni Coretax DJP, sejauh ini mampu mengantisipasi lonjakan laporan harian yang cukup tinggi dari para wajib pajak.

Selain itu, DJP juga memperluas kanal layanan dalam ekosistem Coretax guna mempermudah masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Dua kanal tambahan yang diperkenalkan adalah Coretax Form dan Coretax Mobile atau M-Pajak.

Coretax Form merupakan fasilitas tambahan yang memungkinkan wajib pajak orang pribadi dengan status SPT nihil untuk melaporkan kewajiban pajaknya secara lebih fleksibel. Melalui kanal ini, wajib pajak dapat mengunduh formulir elektronik dari sistem Coretax, mengisinya secara offline, lalu mengunggah kembali dokumen tersebut ke dalam sistem.

Sementara itu, Coretax Mobile hadir sebagai aplikasi layanan perpajakan berbasis perangkat seluler. Melalui aplikasi ini, wajib pajak dapat melakukan aktivasi akun Coretax sekaligus registrasi Kode Otorisasi atau Sertifikat Elektronik (KOSE) secara lebih praktis melalui telepon genggam.

DJP berharap kehadiran berbagai kanal layanan tersebut dapat meningkatkan inklusivitas layanan perpajakan, terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses internet atau tingkat literasi digital yang beragam. Dengan demikian, proses pelaporan SPT diharapkan semakin mudah diakses oleh seluruh wajib pajak di Indonesia.

Adapun batas waktu pelaporan SPT Tahunan PPh bagi wajib pajak orang pribadi ditetapkan hingga 31 Maret 2026, sedangkan untuk wajib pajak badan hingga 30 April 2026. DJP mengimbau masyarakat untuk tidak menunda pelaporan guna menghindari potensi kendala teknis akibat lonjakan akses menjelang tenggat waktu. (alf)

Ini Pemenang dan Juara Favorit Sayembara Logo dan Gestur HUT ke-61 IKPI

IKPI, Jakarta: Panitia peringatan Hari Ulang Tahun ke-61 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) resmi mengumumkan para pemenang Sayembara Desain Logo dan Tagline serta Lomba Gestur Tangan IKPI. Penetapan pemenang dilakukan setelah melalui proses voting anggota dan rapat penjurian yang digelar, Minggu (8/32026).

Ketua Panitia HUT ke-61 IKPI, Novalina Magdalena, menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara bertahap untuk memastikan hasil yang objektif dan transparan. Tahap pertama adalah voting terbuka yang melibatkan seluruh anggota IKPI untuk menentukan lima besar karya terbaik di masing-masing kategori.

“Dari lima besar tersebut, masing-masing juri kemudian diminta untuk menentukan dua karya terbaik,” ujar Novalina.

Selanjutnya, dari dua karya terbaik tersebut dilakukan pembahasan bersama dalam rapat penjurian dengan mendengarkan pandangan dari masing-masing anggota tim juri. Melalui proses diskusi tersebut akhirnya ditetapkan juara utama dan juara favorit pada masing-masing kategori.

Pada kategori Lomba Gestur Tangan IKPI, juara utama berhasil diraih oleh Tintje Beby dari IKPI Cabang Kota Tangerang. Sementara itu, Muhammad Ichwani dari IKPI Cabang Kota Tangerang ditetapkan sebagai Juara Favorit.

Adapun pada kategori Sayembara Desain Logo dan Tagline HUT ke-61 IKPI, juara utama diraih oleh John Pieter dari IKPI Cabang Jakarta Selatan. Sedangkan penghargaan Juara Favorit diberikan kepada Angela Budiman dari IKPI Cabang Jakarta Barat.

Novalina menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengirimkan karya serta kepada anggota IKPI yang telah berpartisipasi dalam proses voting.

“Karya-karya yang masuk sangat kreatif dan mencerminkan semangat anggota dalam membangun identitas organisasi. Kami mengucapkan selamat kepada para pemenang,” katanya.

Logo yang terpilih nantinya akan digunakan sebagai identitas resmi dalam berbagai rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-61 IKPI. Sementara gestur tangan pemenang diharapkan dapat menjadi simbol kebersamaan yang mudah dikenali dan merepresentasikan solidaritas anggota IKPI di seluruh Indonesia.

Menurut Novalina, sayembara ini menjadi salah satu bentuk partisipasi aktif anggota dalam memperkuat citra organisasi yang telah berkiprah lebih dari enam dekade di bidang perpajakan.

“Simbol yang terpilih diharapkan mampu merepresentasikan nilai profesionalisme, integritas, serta semangat kolaborasi yang menjadi jati diri IKPI,” ujarnya.

Pengumuman pemenang ini sekaligus menandai berakhirnya rangkaian sayembara dalam peringatan HUT ke-61 IKPI yang diharapkan semakin memperkuat kebanggaan anggota terhadap organisasi profesi konsultan pajak tersebut. (bl)

Juri Tetapkan Pemenang Sayembara Logo dan Gestur HUT ke-61 IKPI

IKPI, Jakarta: Tim juri resmi menetapkan dan mengesahkan pemenang Sayembara Desain Logo dan Tagline serta Lomba Gestur Tangan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI). Keputusan tersebut diambil dalam rapat penjurian yang digelar, Minggu (8/3/2026) malam.

Rapat penjurian dilaksanakan secara daring dan diikuti oleh tim juri yang sebelumnya telah mempelajari seluruh karya yang masuk ke tahap final. Proses ini menjadi tahap akhir setelah sebelumnya dilakukan voting terbuka oleh seluruh anggota IKPI untuk menentukan lima besar nominasi pada masing-masing kategori.

Ketua Panitia HUT ke-61 IKPI, Novalina Magdalena, menyampaikan bahwa proses penjurian berlangsung dengan diskusi yang konstruktif dan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kreativitas, makna filosofis, hingga kesesuaian dengan identitas organisasi.

“Tim juri telah menelaah seluruh karya finalis dan akhirnya menetapkan pemenang untuk kategori sayembara logo dan tagline serta lomba gestur tangan IKPI. Selain itu juga ditetapkan juara favorit berdasarkan hasil voting anggota,” ujar Novalina.

Ia menjelaskan bahwa mekanisme penilaian dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah voting terbuka oleh anggota IKPI yang menentukan lima karya terbaik pada masing-masing kategori. Tahap kedua adalah penilaian final oleh tim juri untuk menentukan juara utama.

Menurut Novalina, kehadiran juara favorit menjadi bentuk apresiasi terhadap pilihan anggota yang telah berpartisipasi aktif dalam proses pemilihan karya terbaik.

“Partisipasi anggota sangat luar biasa dalam proses voting. Karena itu panitia juga memberikan penghargaan juara favorit sebagai bentuk apresiasi terhadap suara anggota IKPI,” katanya.

Logo yang terpilih nantinya akan digunakan sebagai identitas resmi peringatan HUT ke-61 IKPI dalam berbagai kegiatan organisasi. Sementara gestur tangan yang menjadi pemenang diharapkan dapat menjadi simbol kebersamaan dan identitas visual yang mudah dikenali oleh seluruh anggota.

Panitia menilai seluruh karya yang masuk menunjukkan kreativitas tinggi serta semangat anggota dalam membangun citra organisasi profesi konsultan pajak yang semakin kuat dan modern.

“Semua karya yang masuk sangat baik dan mencerminkan kecintaan anggota terhadap IKPI. Kami berharap simbol yang terpilih nantinya dapat menjadi kebanggaan bersama,” ujar Novalina.

Pengumuman resmi para pemenang Sayembara Logo dan Tagline serta Lomba Gestur Tangan HUT ke-61 IKPI rencananya akan disampaikan kepada seluruh anggota sebagai bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun organisasi tersebut. (bl)

Bank Dunia: Ambang Batas PKP Rp4,8 Miliar Terlalu Tinggi, Hambat Integrasi UMKM ke Ekonomi Formal

IKPI, Jakarta: Kebijakan ambang batas Pengusaha Kena Pajak (PKP) di Indonesia kembali menjadi sorotan World Bank atau Bank Dunia. Dalam laporan terbarunya, lembaga tersebut menilai batas omzet Rp4,8 miliar per tahun untuk kewajiban memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terlalu tinggi dan berpotensi menghambat transformasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi bisnis yang lebih formal dan berkembang.

Sorotan tersebut tertuang dalam laporan berjudul Reformasi untuk Indonesia yang Formal dan Makmur. Bank Dunia menyebut kebijakan ambang batas PKP sebagai salah satu hambatan struktural dalam sistem perpajakan yang secara tidak langsung mendorong banyak UMKM tetap berada dalam sektor informal.

Menurut Bank Dunia, tingginya batas omzet tersebut membuat sebagian pelaku usaha justru memilih untuk tidak memperbesar usahanya. Alih-alih naik kelas, mereka cenderung menjaga skala usaha tetap di bawah batas PKP agar tidak terbebani kewajiban administrasi dan kepatuhan pajak yang lebih kompleks.

Laporan itu juga mencatat bahwa ambang batas PKP di Indonesia mencapai hampir enam kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata batas pendaftaran PPN di negara-negara maju yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Kondisi ini dinilai mempersempit basis pemungutan PPN di Indonesia.

Akibat dari kebijakan tersebut, kontribusi pelaku usaha kecil terhadap penerimaan PPN menjadi sangat terbatas. Bank Dunia mencatat saat ini hanya sekitar 0,3 persen usaha kecil di Indonesia yang terdaftar dan berkontribusi dalam sistem PPN.

Laporan yang dipimpin oleh dua ekonom senior Bank Dunia, William Seitz dan Wael Mansour, menjelaskan bahwa ambang batas yang terlalu tinggi membuat jumlah usaha menengah yang masuk dalam sistem PPN menjadi sangat sedikit. Hal ini pada akhirnya berdampak pada kurang optimalnya efisiensi pengumpulan pajak.

“Karena ambang batas PPN jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan usaha mikro dan kecil di Indonesia, ambang batas yang tinggi ini terutama membatasi jumlah usaha menengah yang terdaftar dalam sistem PPN, sehingga mengurangi efisiensi pengumpulan pajak,” tulis laporan tersebut.

Di sisi lain, Bank Dunia mengakui bahwa pembebasan dari kewajiban PPN memang memberi manfaat bagi sebagian besar UMKM. Tanpa status PKP, pelaku usaha tidak perlu menanggung beban administratif dan biaya kepatuhan yang biasanya melekat pada kewajiban pemungutan dan pelaporan PPN.

Namun, kebijakan ini juga memiliki konsekuensi lain. UMKM yang tidak berstatus PKP tidak dapat menerbitkan faktur PPN, sehingga seringkali dianggap kurang menarik sebagai mitra bisnis bagi perusahaan besar yang membutuhkan faktur pajak untuk mengkreditkan pajak masukan mereka.

Kondisi administratif tersebut pada akhirnya menghambat terbentuknya hubungan rantai pasok antara sektor informal dan sektor formal. Padahal, keterhubungan dengan perusahaan besar dan akses ke pasar yang lebih luas menjadi faktor penting bagi pertumbuhan UMKM.

Bank Dunia menilai keterkaitan dalam rantai pasok merupakan salah satu indikator kuat bagi peningkatan kinerja usaha. Oleh karena itu, lembaga tersebut menilai ambang batas PKP yang terlalu tinggi justru menimbulkan dampak ganda bagi perekonomian.

“Ambang batas PPN yang tinggi tidak hanya menurunkan potensi penerimaan pajak, tetapi juga menghambat integrasi UMKM ke dalam ekonomi formal, sehingga membatasi potensi pertumbuhan dan kontribusi UMKM terhadap pembangunan ekonomi,” demikian kesimpulan Bank Dunia dalam laporan tersebut. (alf)

Wajib Pajak Antusias Tanya Hibah Properti Anak dalam Talk Show Coretax IKPI Kabupaten Tangerang

IKPI, Kabupaten Tangerang: Puluhan wajib pajak orang pribadi mengikuti talk show dan konsultasi perpajakan mengenai penggunaan sistem administrasi perpajakan baru, Coretax, yang diselenggarakan Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Kabupaten Tangerang di Maxx Box Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Jumat (6/3/2025).

Kegiatan ini menghadirkan Ketua IKPI Cabang Kabupaten Tangerang Dhaniel Hutagalung dan Wakil Ketua IKPI Cabang Kabupaten Tangerang Indri Dhandria Alwi sebagai narasumber yang memberikan edukasi mengenai pelaporan pajak melalui sistem terbaru Direktorat Jenderal Pajak tersebut.

Selain sesi pemaparan, kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif yang dimanfaatkan peserta untuk menanyakan berbagai persoalan perpajakan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu peserta, Rudi Santoso, menanyakan kasus yang dialaminya terkait pembelian ruko atas nama anaknya, sementara pembayaran kredit masih ditanggung olehnya sebagai orang tua.

“Saya pernah membeli ruko atas nama anak saya. Sertifikatnya sudah atas nama anak, tetapi cicilan kreditnya masih saya yang bayar. Yang ingin saya tanyakan, itu dicatatnya bagaimana di SPT? Apakah di SPT saya atau di SPT anak?” ujarnya dalam sesi tanya jawab.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Indri Dhandria Alwi menjelaskan bahwa karena properti tersebut sudah menjadi milik anak, maka pencatatan hartanya sebaiknya masuk dalam SPT anak.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa kewajiban kredit yang masih berjalan dapat tetap dicatat dalam SPT orang tua yang membayar kewajiban tersebut kepada bank.

“Karena properti sudah dihibahkan kepada anak, maka hartanya dicatat di SPT anak. Tetapi jika utang kreditnya masih atas nama orang tua dan dibayarkan oleh orang tua, maka utangnya tetap dicatat di SPT orang tua,” jelas Indri.

Sementara itu, Dhaniel Hutagalung menambahkan bahwa dalam pelaporan tersebut yang paling penting adalah konsistensi antara sumber penghasilan dan kemampuan membayar kewajiban kredit.

Menurutnya, selama rasio antara penghasilan dan pembayaran cicilan masih masuk akal serta dapat dibuktikan, maka tidak akan menimbulkan persoalan dalam proses klarifikasi perpajakan.

Kegiatan diskusi tersebut menunjukkan tingginya antusiasme wajib pajak dalam memahami berbagai aspek teknis pelaporan pajak, khususnya yang berkaitan dengan kepemilikan aset keluarga dan kewajiban perpajakan dalam sistem Coretax. (bl)

en_US