Pemerintah Bentuk Satgas Percepatan Ekonomi, Antisipasi Dampak Gejolak Global

IKPI, Jakarta: Pemerintah terus memperkuat upaya percepatan pertumbuhan ekonomi nasional melalui kebijakan yang terintegrasi dan adaptif terhadap dinamika global.

Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui penetapan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 4 Tahun 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto tentang pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Pemerintah.

Satgas tersebut memiliki mandat utama untuk mempercepat implementasi program prioritas secara kolaboratif lintas sektor, termasuk melalui penguatan monitoring, evaluasi, serta perumusan kebijakan strategis.

Dalam rapat perdana, Satgas membahas langkah antisipatif terhadap dinamika global, termasuk potensi dampak gejolak di kawasan Selat Hormuz.

Pemerintah memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga, dengan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) yang relatif rendah, yakni sekitar 20% serta sumber pasokan yang telah terdiversifikasi dari berbagai kawasan dunia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemerintah juga mengambil langkah cepat untuk mengatasi kendala pasokan bahan baku industri, khususnya nafta yang digunakan untuk kebutuhan packaging.

“Untuk jangka pendek, nafta tersebut dapat disubstitusi oleh LPG. Oleh karena itu tadi diputuskan bahwa bea masuk LPG yang biasanya 5% khusus untuk industri kita 0% kan, sehingga diharapkan kekurangan nafta bisa diganjel oleh LPG,” ujar Airlangga dalam keterangannya, dikutip Minggu (3/5).

Selain itu, pemerintah mempercepat reformasi perizinan melalui penyederhanaan mekanisme Persetujuan Teknis (Pertek) dengan penerapan Service Level Agreement (SLA).

Dengan skema ini, permohonan yang tidak diproses dalam batas waktu tertentu dapat langsung dilanjutkan guna memberikan kepastian bagi pelaku usaha.

Perbaikan juga dilakukan pada sistem Standar Nasional Indonesia (SNI) melalui penerapan sistem pelacakan yang transparan dan berbatas waktu jelas. Di sektor konstruksi, percepatan perizinan seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) turut didorong, khususnya untuk mendukung UMKM dan proyek prioritas pemerintah.

Di sisi global, pemerintah memandang keikutsertaan Indonesia dalam forum internasional seperti BRICS sebagai langkah strategis untuk memperluas pasar. Dengan kontribusi sekitar 40% terhadap perdagangan global, BRICS dinilai menjadi sumber permintaan yang signifikan bagi Indonesia.

Selain itu, penyelesaian perundingan Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement juga menjadi tonggak penting untuk membuka akses pasar ekspor ke 27 negara Uni Eropa. Pemerintah menargetkan implementasi efektif perjanjian tersebut dapat dimulai pada awal 2027 setelah proses ratifikasi rampung.

Pemerintah juga tengah menyiapkan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Financial Center sebagai alternatif destinasi investasi global. Di sektor ekonomi digital, investasi pusat data (data center) terus didorong seiring meningkatnya kebutuhan teknologi kecerdasan buatan (AI), didukung posisi strategis Indonesia dengan infrastruktur kabel optik internasional.

Melalui berbagai kebijakan tersebut, pemerintah optimistis kolaborasi dengan sektor swasta akan menjadi motor utama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. (ds)

Coretax Integrasikan Data Transaksi, Manipulasi SPT Kian Sulit

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperkuat pengawasan perpajakan melalui pemanfaatan sistem Coretax yang mampu mengintegrasikan berbagai data transaksi wajib pajak.

Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, menegaskan langkah ini membuat ruang manipulasi dalam pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) semakin sempit.

Menurut Bimo, Coretax kini dilengkapi fitur pre-populated yang memungkinkan data perpajakan terisi otomatis berdasarkan informasi dari berbagai sumber. Data tersebut mencakup transaksi dari lawan transaksi, pemberi kerja, pemasok, konsumen, hingga lembaga jasa keuangan.

Ia menjelaskan, integrasi data tersebut memungkinkan DJP melakukan pencocokan silang (cross-check) secara lebih cepat dan akurat. Setiap laporan wajib pajak dapat langsung dibandingkan dengan data yang telah terekam dalam sistem, sehingga potensi ketidaksesuaian dapat segera terdeteksi.

“Dengan itu saja kita bisa melihat, teman-teman bisa mendapat pengalaman bahwa SPT sudah sulit untuk dalam tanda kutip di sekayasa. Karena informasi-informasi terkait dengan transaksi sudah ada di situ semua,” ujar Bimo dalam keterangannya, dikutip Minggu (3/5).

Selain memperkuat pengawasan, sistem ini juga meningkatkan efisiensi administrasi. Petugas pajak di lapangan kini dapat lebih fokus pada upaya peningkatan kepatuhan wajib pajak, tanpa terbebani pekerjaan administratif yang tidak berdampak langsung terhadap penerimaan.

Bimo menambahkan, peningkatan kepatuhan menjadi kunci utama dalam mendongkrak penerimaan negara. Dengan dukungan sistem digital yang terintegrasi, DJP optimistis dapat menciptakan sistem perpajakan yang lebih transparan dan akuntabel. (ds)

DJP Bisa Cabut Status Wajib Pajak Patuh jika Terdapat Pelanggaran

IKPI, Jakarta: Fasilitas restitusi dipercepat tidak bersifat permanen. Pemerintah membuka kemungkinan pencabutan status Wajib Pajak kriteria tertentu apabila terjadi pelanggaran tertentu.

Ketentuan tersebut diatur dalam PMK 28 Tahun 2026 melalui Pasal 5.

Pencabutan dapat dilakukan jika Wajib Pajak tidak lagi memenuhi standar kepatuhan yang dipersyaratkan.

Salah satu indikator utama adalah keterlambatan pelaporan. Keterlambatan SPT Tahunan atau SPT Masa dalam pola tertentu dapat menjadi dasar pencabutan status.

Selain itu, kepatuhan pembayaran juga diawasi ketat. Adanya utang pajak yang tidak dilunasi pada saat jatuh tempo dapat berujung pada hilangnya status tersebut.

Dari sisi laporan keuangan, status dapat dicabut apabila laporan tidak lagi diaudit atau tidak memperoleh opini wajar tanpa pengecualian.

Ketentuan juga mencakup kondisi apabila laporan keuangan mengalami koreksi signifikan atau disajikan ulang akibat kesalahan.

Aspek penegakan hukum turut menjadi pertimbangan. Status dapat dicabut apabila Wajib Pajak masuk dalam proses pemeriksaan bukti permulaan atau penyidikan tindak pidana perpajakan.

Pencabutan dilakukan melalui keputusan resmi dan disampaikan kepada Wajib Pajak.

Meski demikian, Wajib Pajak tetap diberikan kesempatan untuk mengajukan kembali permohonan setelah kembali memenuhi persyaratan. (bl)

Tak Ada Jawaban 30 Hari, Permohonan Restitusi Pajak Dianggap Disetujui

IKPI, Jakarta: Proses penetapan Wajib Pajak untuk memperoleh restitusi dipercepat kini dibatasi waktu. Pemerintah menetapkan tenggat maksimal bagi otoritas pajak untuk memberikan keputusan atas permohonan yang diajukan.

Ketentuan ini diatur dalam PMK 28 Tahun 2026, tepatnya pada Pasal 4. Wajib Pajak diwajibkan mengajukan permohonan penetapan melalui portal DJP paling lambat tanggal 10 Januari.

Dalam kondisi tertentu, pengajuan juga dapat dilakukan secara langsung atau melalui jasa pengiriman ke Kantor Pelayanan Pajak.

Setelah permohonan diterima, Direktur Jenderal Pajak melakukan penelitian atas pemenuhan kriteria yang telah ditentukan.

Aturan ini menetapkan batas waktu 30 hari kerja bagi DJP untuk mengambil keputusan. Dalam periode tersebut, permohonan harus disetujui atau ditolak secara resmi.

Apabila batas waktu terlampaui tanpa adanya keputusan, permohonan dianggap dikabulkan. Dalam kondisi ini, otoritas pajak tetap wajib menerbitkan keputusan penetapan.

Pengaturan ini memberi kepastian bagi Wajib Pajak, sekaligus menempatkan kewajiban ketepatan waktu pada administrasi otoritas pajak. (bl)

Pelaporan SPT di Sumbar–Jambi Tembus 459 Ribu, Dekati Target Tahunan

IKPI, Jakarta: Kinerja pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di wilayah Sumatera Barat dan Jambi menunjukkan capaian yang cukup kuat menjelang akhir April 2026. Hingga 30 April 2026 pukul 17.00 WIB, sebanyak 459.140 SPT Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Tahun Pajak 2025 telah diterima.

Jumlah tersebut sudah mendekati 90 persen dari target tahunan sebesar 494.990 SPT. Angka ini mencerminkan tingkat kepatuhan wajib pajak yang terus membaik, meskipun di saat yang sama Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tengah menjalankan transformasi sistem administrasi perpajakan.

Kepala Kantor Wilayah DJP Sumatera Barat dan Jambi, Tarmizi, menyebut capaian ini tidak terlepas dari berbagai upaya pendampingan yang dilakukan sepanjang tahun terakhir.

“Sejak awal 2025 kami intensif melakukan edukasi, konsultasi, hingga bimbingan teknis untuk membantu wajib pajak beradaptasi dengan sistem baru,” ujar Tarmizi melalui keterangan tertulisnya, Minggu (3/5/2026).

Transformasi yang dimaksud adalah penerapan Coretax, sistem administrasi perpajakan terintegrasi yang mulai digunakan secara luas. Meski membawa kemudahan dalam jangka panjang, proses transisi tidak sepenuhnya berjalan mulus di tahap awal.

Sejumlah wajib pajak, terutama dari kalangan UMKM, masih menghadapi kendala teknis, mulai dari aktivasi akun hingga gangguan sistem saat pelaporan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, DJP memperluas layanan, termasuk membuka pelayanan di akhir pekan pada kantor wilayah, KPP Pratama, dan KP2KP.

Langkah tersebut dinilai cukup efektif dalam menjaga momentum pelaporan. Tarmizi menilai tren positif ini menjadi sinyal bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak tetap terjaga di tengah perubahan sistem.

“Ini menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang tepat, wajib pajak tetap bisa memenuhi kewajibannya meskipun ada penyesuaian sistem,” katanya.

Selain capaian pelaporan, pemerintah juga memberikan ruang tambahan bagi wajib pajak badan melalui kebijakan relaksasi batas waktu penyampaian SPT hingga 31 Mei 2026. Kebijakan ini sekaligus memberikan penghapusan sanksi administratif dalam periode tertentu.

Dengan tren yang ada saat ini, DJP optimistis jumlah pelaporan SPT Tahunan di wilayah Sumatera Barat dan Jambi akan melampaui capaian tahun sebelumnya. Fokus ke depan diarahkan pada penguatan layanan dan pemanfaatan sistem yang semakin terintegrasi.

“Yang kami bangun bukan hanya angka pelaporan, tetapi fondasi kepatuhan jangka panjang,” kata Tarmizi. (bl)

Ngopi Bareng Usai Lapor SPT, IKPI Jambi Perkuat Soliditas Anggota

IKPI, Jambi: Usai menuntaskan pelaporan SPT Tahunan, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Jambi langsung menggelar pertemuan antaranggota bertajuk “Ngopi Bareng”, di Resto Kembang Desa, Sabtu (2/5/2026).

Ketua IKPI Cabang Jambi, Edi Kurniawan, mengatakan kegiatan ini menjadi ruang temu setelah periode sibuk pelaporan SPT Tahunan Orang Pribadi maupun Badan.

“Setelah semua anggota menyelesaikan pekerjaan pelaporan SPT, kami mengadakan ‘Ngopi Bareng’ agar komunikasi tatap muka tetap terjaga dalam suasana santai,” ujar Edi.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengurus cabang untuk memperkuat soliditas dan kekompakan anggota. Selain itu, pertemuan juga dimanfaatkan untuk bertukar pikiran terkait perkembangan peraturan perpajakan terkini.

“Diskusinya ringan, diselingi canda tawa, supaya bisa mengurangi penat setelah masa pelaporan SPT yang cukup padat,” katanya.

Edi menambahkan, “Ngopi Bareng” direncanakan menjadi agenda rutin yang digelar minimal satu kali dalam sebulan. Menurutnya, kegiatan ini dinilai bermanfaat, terutama bagi anggota baru dalam membangun komunikasi dan jejaring.

“Kami melihat ini berdampak positif bagi anggota, termasuk yang baru bergabung, karena bisa lebih cepat beradaptasi,” ujarnya.

Kegiatan tersebut juga berlangsung dalam suasana kekeluargaan karena bertepatan dengan perayaan ulang tahun salah satu anggota, Lita, yang saat ini menjabat sebagai Bendahara Pengda Sumbagsel.

“Kami berharap dari kegiatan sederhana ini, IKPI Cabang Jambi memiliki hubungan erat antaranggota. Kedepan bisa semakin solid dan komunikasi tetap terjaga di tengah dinamika profesi konsultan pajak,” ujarnya. (bl)

PMK 28/2026: Perusahaan Omzet Maksimal Rp 50 Miliar Bisa Ikut Jalur Cepat Restitusi Pajak

IKPI, Jakarta: Perusahaan dengan peredaran usaha di bawah Rp 50 miliar kini memiliki kesempatan untuk menikmati jalur cepat pengembalian kelebihan pembayaran pajak atau restitusi pendahuluan.

Fasilitas ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 28 Tahun 2026 tentang Tata Cara Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak yang resmi berlaku sejak 1 Mei 2026.

Dalam beleid yang ditandatangani Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, wajib pajak badan masuk dalam kategori wajib pajak yang memenuhi persyaratan tertentu.

Berdasarkan Pasal 9 ayat (2) huruf c beleid tersebut, wajib pajak badan yang bisa memanfaatkan jalur ini harus memenuhi dua syarat sekaligus.

Pertama, jumlah peredaran usaha di atas Rp 0 hingga maksimal Rp 50 miliar untuk suatu tahun pajak atau bagian tahun pajak.

Kedua, jumlah lebih bayar PPh paling banyak Rp 1 miliar untuk suatu tahun pajak atau bagian tahun pajak.

Kedua syarat ini bersifat kumulatif, artinya perusahaan harus memenuhi keduanya sekaligus, bukan salah satu saja.

Tidak perlu prosedur rumit. Berdasarkan Pasal 10 ayat (1), wajib pajak badan yang memenuhi persyaratan cukup mengisi kolom pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak dalam SPT Tahunan PPh Badan yang disampaikan ke DJP.

Setelah permohonan masuk, DJP akan melakukan penelitian atas SPT yang mencakup kebenaran penulisan dan penghitungan pajak, bukti pemotongan atau pemungutan PPh yang dikreditkan, serta kesesuaian kredit pajak dengan data dalam sistem administrasi DJP.

Berdasarkan Pasal 11 ayat (2), DJP wajib menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP) atau pemberitahuan penolakan paling lama 1 bulan sejak permohonan diterima.

Jika DJP tidak memberikan keputusan dalam batas waktu tersebut, permohonan wajib pajak dianggap dikabulkan secara otomatis dan DJP tetap wajib menerbitkan SKPPKP. (ds)

DJP Apresiasi Pelaporan SPT, Partisipasi Wajib Pajak Tembus 13 Juta

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan apresiasi kepada para wajib pajak yang telah melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan secara tepat waktu dan penuh tanggung jawab.

Hingga periode 30 April 2026, tercatat sebanyak 13.056.881 wajib pajak telah menyampaikan SPT Tahunan.

Dalam unggahan resminya, DJP menekankan bahwa kepatuhan wajib pajak tidak hanya sebatas memenuhi kewajiban administratif, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.

Pelaporan SPT yang benar dan tepat waktu dinilai menjadi salah satu fondasi utama dalam mendukung penerimaan negara.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada wajib pajak yang telah melaporkan SPT dengan penuh tanggung jawab,” dikutip dari pengumuman tersebut, Sabtu (2/5).

Capaian lebih dari 13 juta pelapor ini menunjukkan partisipasi masyarakat yang cukup tinggi, meskipun masih terdapat ruang untuk peningkatan mengingat jumlah wajib pajak terdaftar yang wajib lapor SPT masih lebih besar.

Berdasarkan rinciannya, mayoritas pelaporan berasal dari wajib pajak orang pribadi (OP) karyawan sebanyak 10.743.907 SPT, diikuti OP nonkaryawan 1.438.498 SPT.

Sementara itu, pelaporan dari wajib pajak badan tercatat 846.682 SPT untuk yang menggunakan rupiah dan 1.379 SPT dalam dolar AS. Adapun sektor migas menyumbang pelaporan dalam jumlah terbatas, yakni 13 SPT (rupiah) dan 181 SPT (dolar AS).

Untuk wajib pajak dengan tahun buku berbeda (yang mulai melaporkan sejak 1 Agustus 2025), tercatat pelaporan sebanyak 26.184 SPT badan (rupiah) dan 37 SPT badan (dolar AS).

Sebelumnya, DJP juga telah memberikan kelonggaran bagi wajib pajak badan dengan menghapus sanksi administratif atas keterlambatan pembayaran dan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Tahun Pajak 2025.

Kebijakan ini tertuang dalam Pengumuman Nomor PENG-31/PJ.09/2026 yang diterbitkan pada 30 April 2026, sebagai bagian dari penyesuaian implementasi sistem inti administrasi perpajakan (Coretax).

Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa batas waktu normal pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 29 dan penyampaian SPT Tahunan badan adalah empat bulan setelah akhir tahun pajak.

Namun, DJP memberikan relaksasi bagi wajib pajak yang belum memenuhi kewajiban hingga tenggat tersebut.

Wajib pajak badan yang tetap melakukan pembayaran dan pelaporan hingga satu bulan setelah jatuh tempo tidak akan dikenakan sanksi administratif, baik berupa denda maupun bunga.

Selain itu, DJP juga tidak akan menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP) atas keterlambatan tersebut.

DJP juga memastikan bahwa apabila sanksi administratif telah terlanjur diterbitkan, penghapusan akan dilakukan secara jabatan oleh Kepala Kantor Wilayah DJP. (ds)

CORE Wanti-wanti Risiko Shortfall Rp 484 Triliun pada APBN 2026

IKPI, Jakarta: Direktur Riset Bidang Makroekonomi Kebijakan Fiskal dan Moneter Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Akhmad Akbar Susanto, memperingatkan potensi kekurangan penerimaan negara (shortfall) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dapat mencapai Rp 484 triliun.

Menurutnya, rentang risiko shortfall yang berada di kisaran Rp 171 triliun hingga Rp 484 triliun mencerminkan tingginya ketidakpastian dalam kapasitas penerimaan negara sepanjang tahun.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa ruang fiskal Indonesia masih rapuh di tengah meningkatnya kebutuhan belanja.

“Rentang yang besar ini menunjukkan ketidakpastian yang tinggi pada penerimaan negara. Artinya, ruang fiskal kita masih sangat terbatas,” Ujar Akbar dalam paparan Quarterly Economic Review Q1-2026, dikutip Sabtu (2/5).

Ia menjelaskan, meskipun penerimaan pajak pada kuartal I-2026 tercatat tumbuh, peningkatan tersebut belum bisa menjadi indikator kuat untuk keseluruhan tahun. Pasalnya, pertumbuhan tersebut dinilai masih bersifat temporer dan belum mencerminkan penguatan struktural.

Akbar menekankan bahwa penerimaan yang berkelanjutan seharusnya ditopang oleh perluasan basis pajak, peningkatan kepatuhan wajib pajak, aktivitas ekonomi yang solid, serta administrasi perpajakan yang semakin baik. Tanpa faktor-faktor tersebut, kenaikan penerimaan di awal tahun berpotensi tidak bertahan.

“Angka awal yang tampak positif belum tentu mencerminkan penguatan struktur pajak,” katanya.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap APBN 2026 tidak hanya berasal dari sisi penerimaan, tetapi juga dari belanja negara yang terus meningkat. Risiko pembengkakan subsidi energi, terutama jika harga minyak global tetap tinggi, turut mempersempit ruang fiskal.

Akbar menilai, jika penerimaan negara melemah pada kuartal berikutnya, maka tekanan terhadap defisit dan kebutuhan pembiayaan akan semakin besar. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko fiskal dan memengaruhi persepsi pasar terhadap kredibilitas kebijakan pemerintah.

Ia menegaskan bahwa pasar tidak hanya melihat besaran defisit, tetapi juga memperhatikan kualitas belanja dan keberlanjutan pembiayaan. Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan anggaran tetap konsisten dan diarahkan pada belanja yang produktif. (ds)

DPR Siapkan Regulasi Baru untuk Dongkrak Tax Ratio Indonesia

IKPI, Jakarta: Ketua Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Mukhamad Misbakhun, mengungkapkan bahwa parlemen saat ini tengah merancang kerangka regulasi guna mendorong peningkatan rasio pajak terhadap produk domestik bruto (tax ratio).

Menurutnya, langkah ini menjadi krusial karena tax ratio Indonesia dalam satu dekade terakhir cenderung stagnan di level 9%–10%, meskipun perekonomian nasional tetap mencatat pertumbuhan sekitar 5% per tahun.

Dalam pernyataannya, Misbakhun menegaskan bahwa upaya memperbaiki tax ratio bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau DPR semata, melainkan seluruh pemangku kepentingan. Ia menilai, persoalan pajak memiliki dampak luas karena menyangkut berbagai aspek kehidupan berbangsa.

“Indonesia saat ini sedang melakukan upaya-upaya yang sangat serius memperbaiki tax ratio. Tax ratio kita pada kisaran sekitar 9-10%, dan ini adalah PR bersama, tidak hanya oleh pemerintah, tidak hanya oleh DPR, tapi seluruh stakeholder,” ujar Misbakhun dikutip dari situs fraksigolkar, Sabtu (2/5).

Ia juga menyoroti posisi Indonesia sebagai anggota G20 yang justru memiliki tingkat tax ratio relatif rendah dibandingkan negara lain dalam kelompok tersebut. Kondisi ini, kata dia, menjadi isu serius yang perlu segera diatasi.

Lebih lanjut, Misbakhun mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya pernah mencatat tax ratio yang lebih tinggi, yakni di kisaran 12,7% hingga 13,6% terhadap PDB. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, angka tersebut justru menurun meskipun ekonomi terus tumbuh.

Ia menilai fenomena tersebut sebagai anomali, karena secara teori pertumbuhan ekonomi seharusnya diikuti oleh peningkatan penerimaan pajak.

“Idealnya itu di atas 14%, tapi kita 13,6%, 12,7% itu kan sudah mendekati dibandingkan sekarang sekitar 9% atau 10%. Ini menjadi pekerjaan kita bersama karena ada situasi ekonomi secara pertumbuhan, PDB kita tumbuh, tetapi tax ratio kita tidak tumbuh. Dan ini kan sebuah paradigma yang sangat anomali,” katanya.

Misbakhun juga menekankan bahwa meskipun Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mampu mencapai target penerimaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), hal itu belum cukup untuk mengerek tax ratio secara signifikan.

Sebagai tindak lanjut, DPR bersama pemerintah kini tengah mencari formula kebijakan yang tepat untuk memperbaiki kondisi tersebut. Sayangnya, ia belum membeberkan secara rinci bentuk regulasi yang sedang disiapkan tersebut. (ds)

en_US