Vaudy Starworld Ungkap Relasi Profesional dan Peluang Karier Tumbuh dari Pertemuan di IKPI

IKPI, Jawa Tengah: Ketua Umum Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Vaudy Starworldmengungkapkan bahwa berbagai relasi profesional dan peluang pengembangan karier dapat tumbuh dari pertemuan-pertemuan yang terjalin dalam kegiatan organisasi. Menurutnya, manfaat keanggotaan IKPI tidak hanya sebatas memperoleh pengetahuan perpajakan, tetapi juga membangun jejaring yang dapat mendukung perkembangan profesi konsultan pajak.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Seminar dan Gathering IKPI Pengda Jawa Tengah yang digelar di Hotel Nava Tawangmangu, Jawa Tengah, pada 6-7 Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti ratusan anggota IKPI dan menjadi ajang silaturahmi sekaligus peningkatan kapasitas profesi.

Vaudy mengapresiasi tingginya partisipasi anggota IKPI Jawa Tengah dalam berbagai kegiatan organisasi. Menurutnya, kehadiran anggota dalam seminar, gathering, maupun kegiatan kebersamaan lainnya memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding sekadar menghadiri acara formal.

“Tujuannya yang pertama menambah pertemanan dan relasi. Teman-teman sesama anggota IKPI menjadi tempat kita bertanya ketika menghadapi kendala. Selain itu, kita juga bisa saling berbagi pengalaman dan pengetahuan di bidang perpajakan,” kata Vaudy.

Ia menjelaskan, hubungan yang terbangun melalui organisasi sering kali memberikan manfaat nyata dalam perjalanan karier seorang konsultan pajak. Dari pertemanan tersebut, anggota dapat memperoleh wawasan baru, berbagi pengalaman praktik, hingga menemukan peluang kerja sama profesional.

Sebagai contoh, Vaudy mengaku pernah memperoleh banyak pengetahuan mengenai proses persidangan di Pengadilan Pajak melalui diskusi dengan sesama anggota IKPI yang lebih berpengalaman. Informasi tersebut membantunya memahami gambaran proses persidangan sehingga dapat memberikan penjelasan yang lebih baik kepada calon klien.

“Saya bertanya kepada teman-teman yang sudah pernah ikut sidang. Dari situ saya mendapat gambaran bagaimana suasana persidangan dan proses yang harus dijalani,” ujarnya.

Tak hanya itu, Vaudy juga mengungkapkan bahwa sejumlah langkah penting dalam perjalanan profesionalnya berawal dari masukan rekan-rekan sesama anggota IKPI. Salah satunya ketika ia mendapat saran untuk mengurus izin kuasa hukum setelah dinilai telah memenuhi persyaratan yang diperlukan.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa organisasi profesi dapat menjadi ruang pembelajaran yang efektif karena anggota tidak hanya memperoleh ilmu dari seminar atau pelatihan, tetapi juga dari pengalaman praktis sesama rekan seprofesi.

Ia menambahkan, relasi yang terbentuk di lingkungan IKPI kerap berkembang menjadi kolaborasi profesional. Tidak jarang anggota bekerja bersama dalam menangani berbagai penugasan sesuai bidang keahlian masing-masing, mulai dari transfer pricing, penyusunan dokumentasi perpajakan, hingga penanganan sengketa pajak.

“Kadang ada pekerjaan yang membutuhkan kompetensi tertentu. Daripada ditolak, anggota bisa bekerja bersama dengan rekan yang memiliki keahlian yang sesuai. Itu salah satu manfaat dari jaringan yang dibangun melalui organisasi,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Vaudy juga menilai rangkaian kegiatan yang diselenggarakan IKPI Pengda Jawa Tengah berhasil menciptakan ruang interaksi yang lebih luas bagi anggota. Selain seminar, panitia menggelar gala dinner dan kegiatan kebersamaan yang memungkinkan anggota saling mengenal dalam suasana yang lebih santai.

Menurut dia, interaksi semacam itu penting untuk memperkuat solidaritas organisasi sekaligus membuka peluang lahirnya kolaborasi baru di masa depan. Karena itu, ia mendorong anggota untuk aktif mengikuti kegiatan IKPI di berbagai daerah.

“Selain bertemu teman lama, kita juga bisa mendapatkan teman baru. Dari situlah sering kali muncul ide, pengetahuan baru, bahkan peluang kerja sama yang bermanfaat bagi pengembangan profesi,” ujar Vaudy.

Ia berharap semangat kebersamaan yang terus dibangun melalui berbagai kegiatan IKPI dapat semakin memperkuat kualitas dan profesionalisme anggota, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perkembangan profesi konsultan pajak di Indonesia. (bl)

Coretax sebagai Sistem Pengawasan Modern: Transaksi Barang, Jasa, dan Substansi Ekonomi

Transformasi administrasi perpajakan melalui Coretax Administration System (CTAS) bukan sekadar digitalisasi layanan pajak, tetapi merupakan perubahan paradigma dari administrasi berbasis dokumen (document-based administration) menjadi administrasi berbasis data dan risiko (data-driven tax administration).

Dalam konteks pengawasan, Coretax memungkinkan DJP melakukan pengawasan yang jauh lebih mendalam terhadap:

  1. Peredaran barang;
  2. Penyerahan jasa;
  3. Arus pembayaran;
  4. Hubungan afiliasi;
  5. Kewajaran transaksi;
  6. Substansi ekonomi suatu transaksi.

I. PERUBAHAN PARADIGMA PENGAWASAN PAJAK

Era Sebelum Coretax

Model pengawasan lama memiliki karakteristik:

  • Data tersebar pada berbagai aplikasi.
  • Pengawasan dilakukan setelah SPT disampaikan.
  • Pemeriksa harus meminta dokumen secara manual.
  • Analisis dilakukan berdasarkan sampling.
  • Banyak bergantung pada keterangan WP.

Akibatnya:

  • Banyak transaksi tidak terdeteksi.
  • Sulit mengidentifikasi skema penghindaran pajak.
  • Pemeriksaan memerlukan waktu panjang.

Setelah Coretax

Coretax mengintegrasikan:

  • Registrasi
  • Faktur Pajak
  • SPT
  • Pembayaran
  • Bukti Potong
  • Data pihak ketiga
  • Data kepabeanan
  • Data perbankan
  • Data instansi pemerintah

menjadi satu basis data terpadu.

Dengan demikian DJP dapat melakukan:

A. Near Real Time Monitoring

Setiap transaksi dapat dipantau secara elektronik tanpa menunggu pemeriksaan.

II. CORETAX SEBAGAI SISTEM PENGAWASAN BARANG

Pengawasan Peredaran Barang

Coretax mampu mencocokkan:

  • Pembelian
  • Persediaan
  • Penjualan
  • Impor
  • Ekspor

secara simultan.

Contoh:

PT A melaporkan:

  • Impor 100.000 unit
  • Penjualan hanya 20.000 unit

Namun:

  • Tidak ada kenaikan persediaan signifikan.

Coretax dapat menghasilkan indikator risiko:

Kemungkinan terdapat penjualan yang tidak dilaporkan.

Stock Flow Analysis

Coretax dapat membangun pola:

Persediaan Awal + Pembelian – Penjualan = Persediaan Akhir

Apabila tidak logis, maka sistem menghasilkan alert.

Customs Matching

Data:

  • PIB
  • PEB
  • Bea Masuk
  • HS Code

dapat dihubungkan dengan data PPN dan PPh.

Contoh:

WP mengimpor bahan baku Rp100 miliar.

Tetapi omzet hanya Rp20 miliar.

Muncul indikasi:

  • Underreported sales
  • Transfer pricing
  • Diversion transaction

III. CORETAX SEBAGAI SISTEM PENGAWASAN JASA

Jasa selama ini lebih sulit diawasi dibanding barang karena tidak memiliki pergerakan fisik.

Coretax mengatasinya melalui:

Digital Matching

Membandingkan:

  • Bukti Potong
  • Faktur Pajak
  • Invoice
  • Pembayaran

Contoh

PT A membayar management fee Rp50 miliar.

Namun:

  • Tidak ada pemotongan PPh.
  • Tidak ada pelaporan jasa.

Sistem dapat langsung menandai transaksi tersebut.

Cross Matching Vendor-Customer

Vendor melaporkan:

Pendapatan Rp50 miliar.

Customer melaporkan:

Biaya Rp120 miliar.

Coretax dapat menemukan gap tersebut.

IV. PENGAWASAN SUBSTANSI EKONOMI

Ini merupakan aspek paling revolusioner.

Dahulu DJP lebih banyak memeriksa:

  • Kontrak
  • Invoice
  • Dokumen formal

Kini Coretax memungkinkan pengujian:

Economic Substance

Pertanyaan yang diuji:

  1. Apakah transaksi benar-benar terjadi?
  2. Apakah transaksi memiliki manfaat ekonomi?
  3. Apakah pihak yang menerima pembayaran memiliki fungsi nyata?
  4. Apakah harga transaksi wajar?

V. PENERAPAN ECONOMIC SUBSTANCE DALAM CORETAX

Contoh 1

Management Fee

PT Indonesia membayar Rp100 miliar kepada perusahaan afiliasi di luar negeri.

Dokumen lengkap tersedia.

Namun Coretax dapat melihat:

  • Tidak ada pegawai.
  • Tidak ada aktivitas operasional.
  • Tidak ada biaya jasa.

Muncul indikator:

Economic substance rendah.

Artinya: investasi rendah

Uang mengalir ke luar.

Contoh 2

Royalti

Royalti dibayar kepada perusahaan holding.

Tetapi:

  • Holding tidak mengembangkan IP.
  • Tidak memiliki R&D.
  • Tidak memiliki tenaga ahli.

Secara substansi:

holding hanya conduit company.

Coretax dapat menjadikan transaksi tersebut sebagai objek pengawasan risiko tinggi.

VI. KAITANNYA DENGAN TRANSFER PRICING

Coretax sangat kuat dalam area transfer pricing.

Karena sistem dapat menghubungkan:

  • Country-by-Country Report
  • Master File
  • Local File
  • SPT
  • Laporan Keuangan

dalam satu dashboard risiko.

Pengawasan tidak lagi fokus pada:

“Apakah dokumen TP ada?”

tetapi:

“Apakah transaksi afiliasi memiliki substansi ekonomi dan arm’s length result?”

VII. HUBUNGAN DENGAN PMK 172 TAHUN 2023

Semangat PMK 172 mengadopsi prinsip OECD bahwa:

Analisis transfer pricing harus mempertimbangkan:

  • Functions
  • Assets
  • Risks

(FAR Analysis)

Coretax membantu DJP melakukan FAR Analysis secara lebih cepat dan sistematis.

VIII. HUBUNGAN DENGAN PMK 15 TAHUN 2025

Dalam ekosistem pemeriksaan baru, Coretax menjadi sumber utama:

  1. Risk Profiling
  2. Case Selection
  3. Evidence Gathering
  4. Monitoring Tindak Lanjut

Akibatnya pemeriksaan menjadi:

  • Lebih terarah.
  • Lebih berbasis data.
  • Lebih sedikit bergantung pada permintaan dokumen awal.

IX. ANALISIS STRATEGIS: DAMPAK BAGI WAJIB PAJAK

Risiko Utama

1. Form Over Substance Tidak Lagi Efektif

Memiliki:

  • Kontrak
  • Invoice
  • Faktur

belum cukup.

DJP akan melihat substansi ekonomi.

2. Inconsistency Data Mudah Terdeteksi

Perbedaan antara:

  • SPT
  • Faktur
  • Bukti Potong
  • Laporan Keuangan

akan muncul dalam dashboard risiko.

3. Transfer Pricing Akan Menjadi Fokus Utama

Terutama:

  • Management fee
  • Royalti
  • Cost sharing
  • Intragroup service
  • Financing transaction

4. Audit Trail Semakin Kuat

Setiap aktivitas:

  • pelaporan,
  • koreksi,
  • pembetulan,
  • pembayaran,

terekam secara digital.

X. KESIMPULAN

Secara konseptual, Coretax mengubah fungsi DJP dari “tax administrator” menjadi “data-driven tax authority”. Sistem ini tidak hanya mengawasi kepatuhan formal, tetapi juga menguji substansi ekonomi di balik setiap transaksi.

Pengawasan modern melalui Coretax dilakukan melalui tiga lapisan:

  1. Pengawasan Barang → stock flow, impor-ekspor, persediaan, dan omzet.
  2. Pengawasan Jasa → matching pembayaran, bukti potong, dan faktur pajak.
  3. Pengawasan Substansi Ekonomi → fungsi, aset, risiko, manfaat ekonomi, dan kewajaran transaksi.

Bagi wajib pajak, terutama grup usaha dan perusahaan dengan transaksi afiliasi, fokus pertahanan (tax defence) tidak lagi cukup pada kelengkapan dokumen.

Pertahanan yang lebih kuat adalah kemampuan membuktikan bahwa transaksi memiliki:

  • economic substance
  • business purpose
  • arm’s length outcome

karena ketiga aspek tersebut merupakan area yang paling mudah diidentifikasi oleh sistem pengawasan berbasis data seperti Coretax.

Penulis adalah anggota Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Jakarta Timur

Adv. Cosmas Budiyantoro, S.E., S.H., M.A. (Tax)., BKP., CMA., CERA., CLA.

Email: cosmas.budiyantoro@gmail.com

Artikel ini merupakan opini profesional dan pandangan pribadi penulis. Seluruh isi, analisis, dan kesimpulan yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, serta tidak merepresentasikan sikap, pandangan, maupun posisi resmi  IKPI.

DJP Papabrama Blokir Rekening 36 Wajib Pajak di 14 Bank Nasional

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus memperkuat langkah penegakan hukum perpajakan.

Melalui Kantor Wilayah DJP Papua, Papua Barat, dan Maluku (Papabrama), otoritas pajak melakukan pemblokiran serentak terhadap rekening milik puluhan wajib pajak yang masih menunggak kewajiban perpajakannya.

Aksi penagihan aktif tersebut berlangsung pada 2 hingga 4 Juni 2026 dan menyasar 36 wajib pajak dengan rekening yang tersebar di 14 perbankan nasional.

Rekening yang diblokir berada pada bank milik negara, bank pembangunan daerah, hingga bank swasta nasional yang berkantor pusat di Jakarta, Tangerang, dan Jayapura.

Kepala Kanwil DJP Papabrama, Sekti Widihartanto, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan kewenangan penagihan pajak yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan.

Menurutnya, tindakan pemblokiran rekening dilakukan untuk mengamankan hak negara atas tunggakan pajak yang belum diselesaikan oleh wajib pajak.

Data DJP menunjukkan total tunggakan pajak dari para wajib pajak yang menjadi target penagihan mencapai Rp 17,08 miliar.

“Nilai tersebut menunjukkan masih adanya potensi penerimaan negara yang perlu diamankan melalui langkah penegakan hukum perpajakan yang konsisten dan berkesinambungan,” ujar Sekti dalam keterangannya, dikutip Senin (8/6).

Pelaksanaan blokir serentak ini melibatkan tujuh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di lingkungan Kanwil DJP Papabrama yang berkoordinasi dengan pihak perbankan.

Sinergi tersebut dinilai penting untuk memastikan proses penagihan berjalan efektif dan sesuai ketentuan yang berlaku.

DJP menegaskan bahwa tindakan penagihan aktif bukan semata-mata bertujuan memberikan sanksi kepada wajib pajak. Langkah tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran serta mendorong kepatuhan dalam memenuhi kewajiban perpajakan.

Melalui pemblokiran rekening, wajib pajak diharapkan segera melunasi tunggakan yang dimiliki sehingga tidak perlu menghadapi tindakan penagihan lanjutan yang lebih tegas.

Otoritas pajak menegaskan bahwa seluruh proses penegakan hukum dilakukan secara profesional, terukur, dan berlandaskan regulasi.

Ke depan, DJP menyatakan akan terus menjalankan fungsi penagihan secara berkelanjutan guna menjaga penerimaan negara.

Di sisi lain, pendekatan persuasif dan edukatif tetap menjadi bagian penting dalam upaya membangun kepatuhan sukarela di kalangan wajib pajak. (ds)

Setelah Sempat Tertekan, Penerimaan Bea dan Cukai Berbalik Positif

IKPI, Jakarta: Kinerja penerimaan kepabeanan dan cukai mulai menunjukkan perbaikan hingga Mei 2026. Setelah sempat tertekan pada awal tahun, realisasi penerimaan dari sektor ini berangsur pulih dan kembali mencatatkan pertumbuhan positif.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan penerimaan kepabeanan dan cukai sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai Rp 123,8 triliun atau sekitar 36,8% dari target APBN tahun ini yang sebesar Rp336 triliun. Secara tahunan, penerimaan tersebut tumbuh 0,7%.

Pemerintah optimistis laju penerimaan akan semakin menguat pada bulan-bulan berikutnya.

“Pabean dan cukai makin baik, kita lihat tadinya negatif pertumbuhannya, pada April 2026 sudah positif 0,6%, dan Mei tumbuh positif 0,7%. Ke depan akan lebih positif lagi pertumbuhannya,” kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita, dikutip Sabtu (8/6).

Dari sisi komponen penerimaan, kontribusi terbesar masih berasal dari cukai yang mencapai Rp 90,4 triliun. Penerimaan cukai tumbuh 0,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pemerintah menilai pertumbuhan tersebut didukung oleh meningkatnya produksi hasil tembakau pada kuartal I-2026.

Kondisi itu sekaligus menunjukkan bahwa industri rokok masih mencatat aktivitas produksi yang relatif kuat di tengah tidak adanya kenaikan tarif cukai pada tahun ini.

Sementara itu, penerimaan bea masuk mencatatkan kinerja paling impresif. Hingga akhir Mei 2026, setoran bea masuk mencapai Rp 21,5 triliun atau tumbuh 9,7% secara tahunan.

Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya impor bahan baku dan barang penolong yang digunakan sektor industri.

Pemerintah memandang perkembangan ini sebagai sinyal positif karena mencerminkan aktivitas manufaktur yang mulai meningkat.

Di sisi lain, penerimaan bea keluar masih berada dalam zona kontraksi. Hingga Mei 2026, penerimaan bea keluar tercatat Rp 11,9 triliun atau turun 8,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, pemerintah mencatat tren perbaikan pada penerimaan bea keluar dalam beberapa bulan terakhir. Penguatan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sejak Maret hingga Mei 2026 turut memberikan dukungan terhadap kenaikan penerimaan dari komoditas ekspor tersebut. (ds)

DJP Sesuaikan Layanan VAT Refund Turis Asing

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyesuaikan prosedur khusus untuk melayani pengembalian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) kepada wisatawan mancanegara yang terdampak penghentian sementara operasional sistem Coretax DJP.

Kebijakan ini diterbitkan guna memastikan layanan pengembalian pajak tetap berjalan meskipun terjadi gangguan operasional sistem.

Berdasarkan Pengumuman Nomor PENG-37/PJ.09/2026, pemeliharaan sistem Coretax berlangsung mulai Jumat (5/6/2026) pukul 18.00 WIB hingga Senin (8/6/2026) pukul 05.59 WIB.

Selama periode tersebut sejumlah layanan tidak dapat digunakan, termasuk penerbitan faktur pajak oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) serta pemrosesan permohonan pengembalian PPN dan PPnBM melalui aplikasi VAT Refund for Tourists.

Dalam skema pengembalian pajak bagi wisatawan asing, faktur pajak merupakan salah satu dokumen utama yang harus ditunjukkan saat mengajukan refund. Kendala muncul karena dokumen tersebut tidak dapat diterbitkan selama sistem Coretax tidak beroperasi.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, DJP memberikan penyesuaian mekanisme pelayanan. PKP toko ritel peserta program VAT Refund tetap diperbolehkan menerbitkan faktur pajak setelah sistem kembali normal dengan tanggal penerbitan yang disesuaikan dengan tanggal transaksi penyerahan Barang Kena Pajak (BKP).

Selanjutnya, faktur tersebut wajib diunggah melalui portal wajib pajak dan memperoleh persetujuan DJP paling lambat tanggal 20 pada bulan berikutnya setelah tanggal penerbitannya.

Secara umum, pengembalian PPN dan PPnBM kepada wisatawan asing dilakukan secara tunai apabila nilai refund tidak melebihi Rp 5 juta.

Apabila nilai pengembalian lebih besar dari batas tersebut, pembayaran dilakukan melalui transfer ke rekening penerima menggunakan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak.

Khusus selama masa transisi akibat downtime Coretax, DJP menetapkan bahwa permohonan pengembalian PPN dan PPnBM yang diajukan turis asing namun belum dapat menunjukkan faktur pajak atas pembelian pada tanggal 5, 6, 7, dan/atau 8 Juni 2026 tetap dapat diproses melalui mekanisme transfer. Syaratnya, faktur pajak tersebut telah diterbitkan oleh PKP toko ritel terkait.

Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk permohonan pengembalian PPN dan PPnBM yang diajukan dalam rentang waktu 5 Juni sampai 8 Juli 2026.

Melalui kebijakan ini, wisatawan asing yang berbelanja pada saat sistem Coretax mengalami gangguan tetap dapat memperoleh hak pengembalian pajak setelah proses penerbitan faktur pajak diselesaikan.

DJP juga mengingatkan bahwa seluruh biaya yang timbul dalam proses transfer dana refund ke rekening penerima akan dibebankan kepada turis asing.

Biaya tersebut akan mengurangi nilai pengembalian pajak yang diterima. Apabila biaya transfer melebihi nilai PPN dan PPnBM yang seharusnya dikembalikan, maka proses refund tidak dapat dilaksanakan. (ds)

Cadangan Devisa Susut US$ 1,3 Miliar, BI Ungkap Penyebabnya

IKPI, Jakarta: Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar US$ 144,9 miliar, turun dibandingkan posisi akhir April 2026 yang mencapai US$ 146,2 miliar.

Meski mengalami penurunan, Bank Indonesia (BI) menegaskan level cadangan devisa tersebut masih berada pada posisi yang kuat dan mampu menopang stabilitas ekonomi nasional.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, perkembangan cadangan devisa pada Mei 2026 dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.

Namun, pada saat yang sama terdapat kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan BI di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Selain itu, permintaan valuta asing domestik yang meningkat secara musiman turut memengaruhi posisi cadangan devisa selama periode tersebut.

“Secara keseluruhan, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 tetap kuat,” ujar Ramdan dalam keterangan resmi, Senin (8/6).

Bank Indonesia mencatat cadangan devisa sebesar US$ 144,9 miliar tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka tersebut juga jauh berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya berkisar sekitar tiga bulan impor.

Menurut BI, tingkat cadangan devisa yang memadai tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional di tengah dinamika global yang masih tinggi.

Ke depan, Bank Indonesia optimistis ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga. Optimisme tersebut didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta prospek aliran masuk modal asing yang masih positif.

Ramdan menuturkan, persepsi investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap baik serta imbal hasil investasi domestik yang menarik menjadi faktor pendukung masuknya modal asing ke dalam negeri.

Untuk menjaga stabilitas perekonomian, BI juga akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam meningkatkan ketahanan sektor eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (ds)

DJP Tegaskan PP 20/2026 Bentuk Dukungan Pemerintah Perkuat UMKM

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa fasilitas Pajak Penghasilan (PPh) Final UMKM sebesar 0,5% tetap dipertahankan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026.

Kebijakan baru ini disebut sebagai upaya pemerintah untuk memperkuat dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus memastikan insentif perpajakan lebih tepat sasaran.

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengatakan, pemerintah terus menyempurnakan kebijakan perpajakan UMKM seiring perkembangan sektor usaha.

Menurutnya, PP Nomor 20 Tahun 2026 merupakan kelanjutan dari berbagai kebijakan sebelumnya, mulai dari PP 46 Tahun 2013 dengan tarif 1%, PP 23 Tahun 2018 dengan tarif 0,5%, hingga PP 55 Tahun 2022.

“Setelah evaluasi menyeluruh, PP Nomor 20 Tahun 2026 ini hadir sebagai penyempurnaan agar dukungan pemerintah semakin adil dan tepat sasaran,” ujar Bimo dalam keterangannya, Senin (8/6).

Ia menegaskan, fasilitas PPh Final UMKM 0,5% tidak dihapus dan tetap dapat dimanfaatkan oleh wajib
pajak dengan omzet hingga Rp 4,8 miliar per tahun.

Selain itu, ketentuan omzet sampai Rp 500 juta per tahun bagi wajib pajak orang pribadi yang tidak dikenai pajak penghasilan juga tetap dipertahankan.

Dalam aturan terbaru tersebut, pemerintah juga memberikan kemudahan administrasi bagi wajib pajak tertentu.

Wajib Pajak Orang Pribadi dan Perseroan Terbatas (PT) Perorangan yang memenuhi syarat dapat memanfaatkan tarif final 0,5% tanpa batas waktu, sementara koperasi diberikan masa pemanfaatan fasilitas selama empat tahun sejak terdaftar.

Kebijakan ini dimaksudkan agar pelaku usaha dapat lebih fokus mengembangkan bisnisnya tanpa
terbebani administrasi perpajakan yang kompleks.

DJP juga menekankan bahwa PP Nomor 20 Tahun 2026 dirancang untuk mencegah penyalahgunaan fasilitas perpajakan.

Pemerintah akan mengawasi berbagai praktik yang berpotensi menghindari pajak, seperti pemecahan usaha atau pembentukan sejumlah entitas baru hanya untuk tetap memperoleh tarif pajak yang lebih rendah.

Selain itu, DJP mengingatkan bahwa badan usaha seperti PT dan CV yang beralih ke mekanisme perpajakan umum tidak serta-merta menghadapi beban pajak yang lebih besar.

Pasalnya, dalam sistem umum, pajak dihitung berdasarkan laba bersih setelah dikurangi biaya operasional yang diperkenankan, bukan berdasarkan total omzet usaha.

Menurut Bimo, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara pemberian insentif bagi UMKM dan terciptanya sistem perpajakan yang sehat serta berkeadilan.

Untuk itu, implementasi aturan baru akan disertai masa transisi, edukasi, dan pendampingan agar pelaku usaha dapat beradaptasi dengan baik.

“Pemerintah ingin hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai mitra yang mendampingi perjalanan para pelaku usaha. Kami ingin memastikan UMKM kita bertransformasi menjadi usaha yang semakin kuat, mandiri, dan memiliki daya saing tinggi,” ujar Bimo.

DJP pun mengimbau seluruh pelaku UMKM untuk memanfaatkan layanan edukasi dan pendampingan yang tersedia di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) maupun melalui berbagai saluran resmi DJP. (ds)

Padukan Edukasi, Hiburan, dan Wisata, Gathering IKPI Jateng Tuai Respons Positif Peserta

IKPI, Jawa Tengah: Seminar dan Gathering Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Pengda Jawa Tengah pada 6-7 Juni 2026 menuai respons positif dari para peserta. Kegiatan yang diikuti lebih dari 100 anggota tersebut dinilai berhasil memadukan unsur edukasi, hiburan, dan wisata dalam satu rangkaian acara yang menarik.

Ketua Panitia, Ferry Habibie, mengatakan antusiasme peserta terlihat sejak hari pertama hingga penutupan kegiatan. Seluruh rangkaian acara diikuti dengan baik oleh peserta, baik pada sesi seminar maupun kegiatan kebersamaan yang telah disiapkan panitia.

“Kegiatan gathering dan seminar berlangsung sangat seru. Para peserta mengikuti seluruh rangkaian acara dengan antusias. Ini tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seluruh panitia,” ujar Ferry, Senin (8/2026).

Pada hari pertama, peserta mengikuti seminar perpajakan dengan tema “Kupas Tuntas Aturan Restitusi Pasca SPT Era Coretax dan Pengawasan Kepatuhan Pasca Pemberlakuan Coretax.” Tema tersebut dipilih untuk membantu anggota memahami perkembangan regulasi perpajakan terkini sekaligus meningkatkan kompetensi profesional di tengah transformasi administrasi perpajakan.

Usai seminar, suasana berlanjut lebih santai melalui gala dinner yang menghadirkan grup hiburan lokal Pangsit Teamlo Solo. Acara tersebut semakin meriah dengan pembagian berbagai doorprize menarik, termasuk hadiah utama berupa televisi 43 inci dan telepon genggam.

Menurut Ferry, gala dinner menjadi salah satu momen yang mempererat hubungan antaranggota karena memberikan ruang interaksi yang lebih luas di luar forum formal seminar.

Pada hari kedua, peserta diajak menikmati suasana alam Tawangmangu melalui sejumlah kegiatan wisata. Sebagian peserta mengikuti wisata jeep menuju Air Terjun Jumog Putri dan kegiatan petik stroberi, sementara peserta lainnya memilih mengikuti hiking menuju kawasan wisata Air Terjun Grojogan Sewu.

Kombinasi antara seminar, hiburan, dan wisata tersebut sengaja dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda kepada peserta. Selain memperoleh pembaruan pengetahuan perpajakan, peserta juga dapat membangun jejaring dan memperkuat kebersamaan dengan sesama anggota IKPI.

Untuk mengukur tingkat kepuasan peserta, panitia menyebarkan kuesioner pada akhir kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan respons yang sangat positif terhadap penyelenggaraan acara.

“Kami menyebarkan kuesioner kepada peserta dan hasilnya sangat membahagiakan bagi panitia. Hampir seluruh peserta menyatakan puas terhadap kegiatan ini dan berharap acara serupa dapat diselenggarakan setiap tahun,” kata Ferry.

Ia menilai hasil tersebut menjadi indikator bahwa konsep yang menggabungkan peningkatan kompetensi profesi dengan kegiatan kebersamaan mampu memberikan pengalaman yang berkesan bagi peserta.

Keberhasilan penyelenggaraan Seminar dan Gathering IKPI Pengda Jawa Tengah tahun ini diharapkan dapat menjadi motivasi untuk menghadirkan kegiatan yang semakin berkualitas pada masa mendatang, sekaligus memperkuat soliditas dan profesionalisme anggota IKPI di wilayah Jawa Tengah maupun secara nasional. (bl)

IKPI Jadi Wadah Kolaborasi Profesi, Ketum Vaudy: Banyak Anggota Tumbuh dari Pertemanan di Organisasi

IKPI, Jawa Tengah: Ketua Umum Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Vaudy Starworld menegaskan bahwa Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) tidak hanya berperan sebagai organisasi profesi, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi yang mendorong perkembangan kompetensi dan karier para anggotanya. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Seminar dan Gathering IKPI Pengda Jawa Tengah di Hotel Nava Tawangmangu, Jawa Tengah, pada 6-7 Juni 2026.

Menurut Vaudy, salah satu kekuatan utama IKPI adalah kemampuannya mempertemukan para konsultan pajak dari berbagai daerah dan latar belakang praktik. Melalui berbagai kegiatan organisasi, anggota dapat membangun relasi, bertukar pengalaman, hingga saling membantu dalam menghadapi berbagai persoalan perpajakan.

Ia mengapresiasi tingginya partisipasi anggota IKPI Jawa Tengah dalam berbagai kegiatan organisasi. Menurutnya, keaktifan anggota menghadiri seminar, gathering, maupun kegiatan lainnya akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibanding sekadar memperoleh pengetahuan teknis perpajakan.

“Tujuannya yang pertama menambah pertemanan dan relasi. Teman-teman sesama anggota IKPI itu menjadi tempat kita bertanya ketika menghadapi kendala. Selain itu, kita juga bisa saling berbagi pengalaman dan pengetahuan di bidang perpajakan,” kata Vaudy.

Menurut dia, hubungan yang terjalin dalam organisasi sering kali berkembang menjadi kerja sama profesional yang saling menguntungkan. Tidak sedikit anggota yang akhirnya mengerjakan suatu proyek bersama karena memiliki keahlian yang saling melengkapi.

Vaudy mengungkapkan bahwa dirinya juga merasakan langsung manfaat dari jejaring yang dibangun melalui IKPI. Salah satunya ketika ia ingin memahami proses persidangan di Pengadilan Pajak. Pengetahuan tersebut diperolehnya dari diskusi dan berbagi pengalaman dengan anggota lain yang telah lebih dulu berpengalaman menangani sengketa pajak.

“Saya dulu belum pernah ikut sidang di Pengadilan Pajak. Saya bertanya kepada teman-teman yang sudah berpengalaman. Dari situ saya mendapat gambaran mengenai proses persidangan sehingga ketika ada calon klien yang akan bersidang, saya bisa menjelaskan seperti apa suasananya,” ujarnya.

Selain memperoleh pengetahuan baru, Vaudy juga mengaku mendapatkan dorongan untuk mengembangkan kapasitas profesionalnya dari sesama anggota IKPI. Ia mencontohkan bagaimana dirinya akhirnya mengurus izin kuasa hukum setelah mendapatkan masukan dari rekan-rekan di organisasi.

Menurut Vaudy, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa organisasi profesi dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif karena anggota tidak hanya belajar dari seminar atau pelatihan formal, tetapi juga dari pengalaman praktis sesama rekan profesi.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti rangkaian kegiatan yang diselenggarakan IKPI Pengda Jawa Tengah. Selain seminar yang membahas isu-isu perpajakan terkini, panitia juga menggelar gala dinner dan kegiatan kebersamaan yang dirancang untuk mempererat hubungan antaranggota.

“Kegiatan seperti ini penting karena bukan hanya seminar. Ada interaksi yang lebih cair melalui gathering dan gala dinner. Anggota bisa saling mengenal, bertemu teman lama, sekaligus mendapatkan teman baru,” katanya.

Tak hanya itu, peserta juga diajak mengikuti kegiatan kebersamaan di kawasan Tawangmangu, mulai dari trekking hingga wisata menggunakan jeep yang diikuti sekitar 150 peserta. Menurut Vaudy, kegiatan tersebut menjadi sarana membangun kedekatan dan memperkuat solidaritas antaranggota di luar suasana formal.

Ia berharap semangat kebersamaan dan kolaborasi yang terbangun dalam kegiatan organisasi terus dipelihara. Dengan jejaring yang semakin kuat, anggota IKPI tidak hanya dapat meningkatkan kompetensi profesional, tetapi juga menciptakan berbagai peluang kerja sama yang bermanfaat bagi perkembangan profesi konsultan pajak di Indonesia.

Hadir pada kegiatan tersebut:

1. Anggota Dewan Kehormatan IKPI JM Harianto
2. Ketua Pengda Jawa Tengah Slamet Umbaran dan jajarannya
3. Ketua Pengcab Semarang Jan Prihadi
4. Ketua Pengcab Tegal Imron
5. Ketua Pengcab Surakarta Suparman
6. Perwakilan Ketua Pengcab Banyumas
7. Senior dan Mantan Ketua Pengcab Jawa Tengah Suprianto
8. Panitia Ferry Habibie

(bl)

Rencana Pelantikan Said Iqbal Buka Ruang Aspirasi Buruh, Termasuk Isu Pajak Pekerja

IKPI, Jakarta: Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melantik Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (8/6/2026) sore.

Said Iqbal mengatakan informasi mengenai rencana pelantikan tersebut diterimanya dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya pada Minggu malam. Menurut dia, pelantikan dijadwalkan berlangsung pukul 16.30 WIB di Istana Kepresidenan.

“Iya, jam 16.30 dilantik di Istana. Ditelepon semalam oleh Pak Seskab Letkol Teddy,” kata Said Iqbal saat dihubungi Kompas.com.

Ia mengaku mendapat informasi bahwa dirinya akan dilantik sebagai Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Ketenagakerjaan. Jabatan tersebut, menurut Said, memiliki kedudukan setingkat menteri sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 137 Tahun 2024.

Kabar mengenai kemungkinan bergabungnya Said Iqbal ke lingkungan Istana sebelumnya juga telah disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Pada Kamis (4/6/2026), Prasetyo menyebut pemerintah sedang mendiskusikan posisi yang akan diberikan kepada Said dan berkaitan dengan urusan buruh serta tenaga kerja.

Rencana penunjukan Said Iqbal menarik perhatian karena selama ini ia dikenal sebagai salah satu tokoh serikat pekerja yang aktif menyuarakan berbagai isu ketenagakerjaan. Melalui KSPI, Said dan organisasi buruh kerap menyampaikan aspirasi terkait upah, perlindungan pekerja, jaminan sosial, hingga kebijakan yang berdampak pada kesejahteraan tenaga kerja.

Selain isu ketenagakerjaan, organisasi buruh juga beberapa kali menyampaikan pandangan mengenai kebijakan fiskal yang berpengaruh terhadap penghasilan pekerja. Di antaranya adalah persoalan daya beli pekerja, penghasilan yang diterima setelah pemotongan pajak, serta kebijakan lain yang berkaitan dengan kesejahteraan tenaga kerja.

Karena itu, rencana pelantikan Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan turut memunculkan perhatian terhadap kemungkinan semakin terbukanya ruang penyampaian aspirasi kalangan pekerja kepada pemerintah. Namun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Said Iqbal mengenai agenda, program, maupun usulan kebijakan yang akan dibawanya apabila resmi menjabat. (bl)

id_ID