IKPI Perkuat Publikasi Digital, Pengurus Pusat Imbau Pengda dan Pengcab Aktif Laporkan Kegiatan

IKPI, Jakarta: Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) terus mendorong penguatan publikasi kegiatan organisasi melalui optimalisasi website resmi. Ketua Umum IKPI, Vaudy Starworld, menegaskan pentingnya peran aktif seluruh pengurus daerah (Pengda) dan pengurus cabang (Pengcab) dalam menyampaikan informasi kegiatan secara terstruktur dan berkelanjutan.

Imbauan tersebut tertuang dalam surat resmi Pengurus Pusat IKPI Nomor S-56/PP.IKPI/III/2026 tertanggal 17 Maret 2026 yang ditujukan kepada seluruh Ketua Pengda dan Pengcab di Indonesia. Dalam surat tersebut, IKPI menekankan bahwa publikasi menjadi bagian penting dalam memperkuat eksistensi organisasi sekaligus sarana edukasi perpajakan kepada masyarakat luas.

Vaudy Starworld menyampaikan bahwa optimalisasi website IKPI bukan sekadar dokumentasi kegiatan, tetapi juga strategi untuk memperluas dampak program kerja organisasi. “Kami ingin seluruh kegiatan IKPI, baik di tingkat pusat, daerah, maupun cabang, dapat terdokumentasi dan dipublikasikan dengan baik sehingga memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk bagi masyarakat wajib pajak,” ujarnya.

Ia menambahkan, publikasi yang baik juga akan meningkatkan transparansi serta memperkuat citra profesional organisasi di mata publik dan pemangku kepentingan. Menurutnya, setiap kegiatan yang melibatkan anggota, edukasi perpajakan, hingga program sosial memiliki nilai strategis untuk diketahui masyarakat.

Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa setiap Pengda dan Pengcab diminta untuk menyampaikan deskripsi kegiatan secara lengkap, meliputi tema, waktu, tempat, peserta, penerima manfaat, hingga dokumentasi kegiatan. Hal ini bertujuan agar informasi yang dipublikasikan memiliki standar yang seragam dan informatif.

Selain itu, kegiatan yang telah dilaksanakan sejak 1 Januari 2026 namun belum dipublikasikan juga diminta untuk segera dilaporkan ke Sekretariat IKPI. Langkah ini menjadi bagian dari upaya konsolidasi data kegiatan organisasi secara nasional.

Vaudy juga menekankan bahwa ketertiban dalam penyampaian laporan kegiatan akan menjadi salah satu indikator penilaian kinerja Pengda dan Pengcab. Dengan demikian, publikasi tidak lagi dipandang sebagai kegiatan administratif semata, tetapi bagian dari akuntabilitas organisasi.

“Dengan sistem pelaporan yang tertib dan terintegrasi, kita bisa menunjukkan bahwa IKPI adalah organisasi yang aktif, profesional, dan berkontribusi nyata dalam dunia perpajakan Indonesia,” tegas Vaudy.

Untuk mendukung kelancaran koordinasi, IKPI juga telah menunjuk narahubung khusus yang dapat dihubungi oleh Pengda dan Pengcab dalam proses penyampaian materi publikasi. Langkah ini diharapkan mampu meminimalisir kendala teknis sekaligus mempercepat proses publikasi kegiatan.

Melalui kebijakan ini, Vaudy berharap seluruh jajaran organisasi dapat semakin solid dalam membangun komunikasi publik yang efektif, sekaligus memperkuat peran konsultan pajak sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan kepatuhan perpajakan. (bl)

Libur Nyepi dan Idulfitri, Kantor Pajak Tutup Sepekan Mulai 18 Maret

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengumumkan penutupan sementara layanan tatap muka di seluruh kantor pajak pada 18–24 Maret 2026. Penutupan ini dilakukan sehubungan dengan libur dan cuti bersama Hari Raya Nyepi serta Idulfitri. Melalui unggahan resmi, DJP menyampaikan bahwa layanan akan kembali dibuka mulai 25 Maret 2026.

“Kantor pajak menutup layanan tatap muka pada tanggal 18-24 Maret 2026 sehubungan dengan libur/cuti bersama Nyepi dan Idulfitri,” tulis DJP dalam unggahan tersebut, Selasa (17/3).

Meski layanan langsung dihentikan sementara, wajib pajak tetap dapat melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan secara daring melalui sistem Coretax DJP. Hal ini dilakukan untuk memastikan kewajiban perpajakan tetap dapat dipenuhi selama periode libur panjang.

“Pelaporan SPT Tahunan selama tanggal tersebut tetap dapat dilakukan secara online melalui coretaxdjp.pajak.go.id,” tulisnya.

Selain itu, DJP juga menyediakan panduan dan tutorial pelaporan SPT secara digital bagi wajib pajak yang membutuhkan bantuan.

Penutupan layanan ini terjadi di tengah masa pelaporan SPT Tahunan orang pribadi yang umumnya berakhir pada 31 Maret setiap tahun. Karena itu, DJP menekankan pentingnya pemanfaatan layanan digital agar pelaporan tidak terlambat.

Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas pajak memang mendorong transformasi administrasi perpajakan berbasis elektronik, termasuk melalui implementasi sistem inti administrasi perpajakan (Coretax). Sistem ini dirancang untuk memungkinkan hampir seluruh layanan pajak dilakukan tanpa harus datang ke kantor pajak.

Wajib pajak diimbau tidak menunda pelaporan hingga mendekati tenggat waktu, terutama karena periode penutupan kantor bertepatan dengan puncak masa pelaporan.

Keterlambatan pelaporan dapat berujung pada sanksi administrasi sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku. (ds)

Apakah “Coretax” Penyebab Melambatnya SPT Tahunan Dilaporkan? 

Pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi (SPT Tahunan PPh OP) Tahun 2025 yang akan jatuh tempo 31 Maret 2026 tinggal menghitung hari. Demikian halnya batas akhir pelaporan SPT Tahunan PPh Badan Tahun 2025 yang jatuh pada 30 April 2026 juga tidak lama lagi. Belum lagi kesibukan mengisi dan melaporkan SPT Tahunan akan dijeda beberapa hari karena libur Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri. Padahal jumlah pelapor SPT baru menyentuh angka delapan jutaan (Liputan 6, Minggu 15 Maret 2026).

Banyak faktor yang menyebabkan perlambatan pelaporan SPT Tahunan 2025 ini, baik faktor internal dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sendiri maupun faktor eksternal (Wajib Pajak). Hal ini tak luput dari sistem baru bernama Coretax yang konon mempermudah pelaporan pajak, meski nyatanya tidak demikian.

Beragam keluhan dari masyarakat menghadapi pelaporan SPT Tahunan di tahun ini yang dirasa sangat sulit, membingungkan dan bahkan ada sebagian kalangan yang putus asa dan memutuskan tidak melaporkan pajaknya. Hal-hal semacam ini seharusnya tidak terjadi, karena penerimaan pajak merupakan andalan penerimaan negara. Menurut Penulis ada beberapa faktor penyebab melambatnya pelaporan SPT Tahunan, setidaknya ada empat hal yang menjadi penyebab utama, berikut ulasannya:

Pertama, Masa Transisi Platform Pelaporan (DJP Online ke Coretax)

Sebagaimana telah disinggung di atas, masyarakat belum familier dengan aplikasi Coretax tersebut. Sehingga ada rasa takut salah, takut ada denda pajak, takut disurati, takut dipanggil bahkan takut ada kurang bayar pajak yang besar jika melaporkan pajak dengan Coretax. Hal lain, masih banyak WP OP yang belum melakukan aktivasi akun Coretax, karena ketidaktahuannya. Mereka masih merasa pelaporan pajak saat ini bisa masih memakai DJP Online, ternyata pada saat mau melaporkan di DJP Online, sudah tidak bisa.

Hal tersebut sebenarnya wajar terjadi pada masa transisi, tidak hanya pada sistem pajak saja, pada sistem yang lain pun akan mengalami hal yang sama. Hanya saja, pajak sangat penting bagi negara, sebagai pilar budgeter dan regulerend sehingga tak bisa dibiarkan begitu saja tanpa dorongan lebih masif untuk melakukan pelaporan pajak.

Kedua, Rumitnya Pengisian SPT Coretax

Tak sedikit yang mengatakan pelaporan SPT melalui Coretax itu cukup rumit. Bahkan dari kalangan yang familiar menggunakan aplikasi Coretax saja banyak yang masih mengeluhkan kesulitan memahami isian-isian pada aplikasi tersebut. Apalagi untuk orang awam yang jarang menyentuh aplikasi perpajakan, “baru buka saja sudah pusing kepala” begitu seloroh banyak orang. Menu aplikasi yang disuguhkan cukup banyak, dipadu dengan Bahasa Inggris bercampur pula dengan Bahasa Indonesia plus bahasa pajak yang hanya dipahami oleh kalangan terbatas.

Bahkan, beberapa bahasa (baca: istilah)  yang digunakan di Coretax harus dipahami oleh orang yang pernah mengenyam mata kuliah teori pajak atau setidaknya “Pengantar Perpajakan” yang  merupakan mata kuliah bagi mahasiswa jurusan perpajakan atau akuntansi. Tentunya WP tidak seluruhnya memahami hal tersebut, sebagai contoh: paham untuk membedakan frasa pembukuan dan pencatatan, fiskal dan non fiskal dan komersial dan beragam bahasa pajak yang tidak banyak dipahami khalayak.

Kemudian, banyaknya pertanyaan “ya/tidak” layaknya kuesioner penelitian, akan tetapi bahasa yang digunakan “pajak banget” bukan bahasa umum non pajak. Sehingga menimbulkan keraguan bagi WP dalam menentukan “ya/tidak” tersebut. Sementara itu isian “ya/tidak” tidak langsung terhubung dengan formulir selanjutnya yang harus diisi atau dilengkapi. Tentu saja ini cukup rumit jika dibandingkan formulir 1770SS, 1770S dan 1770 yang telah akrab di masyarakat.

Terlebih, ada beberapa kendala bukti potong yang tidak diterima oleh WP dan di Coretax pun tidak muncul, atau sebaliknya yang tiba-tiba ada bukti potong yang muncul yang sama sekali tidak relevan dengan transaksinya (atau WP tidak pernah bertransaksi dengan pihak penerbit bukti potong). Alhasil bagi WP OP yang tidak mencatat/mengakui pendapatan dan bukti potong secara tertib, akan jadi gamang.

Ketiga, Banyaknya Status SPT KB/LB yang Membingungkan

DJP tengah memperbaiki data untuk suami istri dalam satu Kartu Keluarga (KK) menjadi bergabung atau Memilih Terpisah (MT). Ada dampak yang bisa mengubah perhitungan pajak yang selama ini telah dijalankan, misal: WP (Suami) dengan status KK dan WP (Istri) dengan status KK karena menjalankan kewajiban pajak terpisah dengan suami, semula masing-masing menjalankan kewajiban pajaknya (Lapor SPT) sendiri, saat ini tidak dimungkinkan lagi untuk menjalankan perpajakan seperti ini, karena menjalankan perpajakan terpisah seperti ini akan otomatis menjadi status MT yang artinya perhitungan pajaknya akan digabung terlebih dahulu baru kemudian dibagi secara proporsional, wal hasil akan mengakibatkan status SPT KB.

Pada kasus lainnya,  posisi bukti potong BP-A1 istri ada pajak yang telah dipotong dari perusahaan dengan status PTKP TK/0 (karena perempuan maka perusahaan memotong dengan PTKP tersebut sebagaimana diatur dalam peraturan perpajakan), sementara posisi BP-A1 suami dengan kondisi Nihil (bisa disebabkan penghasilannya belum/tidak kena pajak atau sebagai WP UMKM). Kondisi rill dalam keluarga statusnya memiliki tiga tanggungan atau K/I/3, secara otomatis SPT istri akan Lebih Bayar (SPT LB) karena bertambahnya fasilitas PTKP. Kondisi ini sangat banyak terjadi dan membuat bingung WP yang tidak memahami secara keseluruhan perhitungan pajak.

Bagi petugas pajak, konsultan pajak atau orang-orang yang memahami perpajakan, tentu saja keluhan-keluhan “Coretax” di atas tidak menjadi masalah yang berarti dan tetap bisa di atasi. Tetapi bagi masyarakat awam (WP pada umumnya), hal ini menjadi membingungkan dan rumit.

Keempat, Ketidakpastian Aturan Pajak UMKM

Permasalahan ini sangat terasa, dimana Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Erlangga Hartarto telah menyatakan fasilitas pajak UMKM (0,5%) diperpanjang, sementara aturan tertulisnya belum ada. Kondisi ini sangat berpengaruh pada WP UMKM yang telah mendapatkan angin segar dengan tarif tersebut, kini beberapa Petugas Pajak menyarankan untuk lapor dan setor dengan NPPN.

Mungkin bagi petugas pajak ini sepele, tetapi bagi kalangan pengusaha kecil ini masalah besar, karena tarif NPPN jauh lebih besar ketimbang tarif final yang hanya 0.5% dari omzet, sementara NPPN jauh lebih besar dan tidak seluruhnya memahami pengisian dan pelaporannya. Untuk jenis usaha dagang saja, margin keuntungan riil tidak banyak yang menyentuh angka 10%, tetapi laba (penghasilan neto) menurut NPPN jauh di atas angka tersebut. Ini sangat memberatkan bagi UMKM. Pengusaha UMKM bisa gulung tikar karena tekanan pajak yang besar, belum lagi tekanan bisnis lainnya seperti membanjirnya produk impor yang berharga murah. Akhirnya banyak UMKM yang memilih lapor nanti saja.

Langkah Antisipasi dan Upaya Sosialisasi SPT Tahunan Coretax

Sebenarnya DJP tidak tinggal diam, hingga saat ini DJP tengah mengerahkan beragam upaya untuk tercapai target pajak dan target pelaporan pajak, seperti: (a) Menyediakan kanal pelaporan Coretax Form serta aplikasi Coretax Mobile atau M-Pajak, (b) Asistensi Coretax di berbagai tempat (jemput bola ke perusahaan-perusahaan) dan di Kantor Pajak  untuk Pelaporan SPT Tahunan, (c) Membuka layanan tanpa libur atau  Sabtu-Minggu tetap buka, (d) Membuat program Ngabuburit Spectaxcular 2026 (mendampingi sampai berhasil), dan (e) Membentuk Relawan Pajak dari berbagai kampus dan Tax Center (telah berlangsung beberapa tahun terakhir).

Selain itu pula, sejak pertengahan tahun 2025, DJP juga sangat masif membuat kegiatan sosialisasi pengisian dan pelaporan SPT. Asosiasi konsultan pajak seperti IKPI juga turut memberikan layanan probono di berbagai daerah (cabang) dalam rangka turut membantu meningkatkan ketercapaian target pelaporan pajak. Namun pada akhirnya tetap semua dikembalikan lagi pada WP masing-masing dengan beragam alasan di atas, lapor sekarang, atau menunggu last minute, bahkan ada yang tetap menunda “menunggu ditagih saja”.

Seyogiaya hasil dari implementasi Coretax (yang telah digunakan selama satu tahun ini plus implementasi SPT Tahunan), bisa menjadi bahan evaluasi menyeluruh baik di DJP maupun lebih luas lagi bagi Kementerian Keuangan untuk melihat seberapa besar dampaknya bagi pembayar pajak. Selain itu, peraturan pajak yang digantung (tidak kunjung dikeluarkan aturan tertulisnya) juga memiliki dampak buruk tak hanya bagi  pajak semata tetapi juga bagi dunia usaha. Tentu saja kita semua ingin usaha lancar dan Indonesia maju!

Penulis adalah Anggota Departemen Penelitian & Pengkajian Kebijakan Fiskal (PPKF), IKPI.

Dr. Nur Hidayat, SH, SE, Ak, CA, Asean-CPA, BKP

e-mail: nurhidayat@taxacconsulting.com

Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis

BI Tahan Suku Bunga di 4,75% di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

IKPI, Jakarta: Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16–17 Maret 2026. Selain itu, suku bunga Deposit Facility tetap di 3,75% dan Lending Facility di 5,50%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah memburuknya kondisi global, terutama akibat eskalasi perang di Timur Tengah.

“Serta menjaga pencapaian inflasi di 2026-2027 dalam sasaran 2,5% plus minus 15,” kata Perry dalam Konferensi Pers, Selasa (17/3).

Bank sentral menegaskan akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal Indonesia dari dampak lanjutan konflik geopolitik. Penyesuaian kebijakan akan ditempuh jika diperlukan agar stabilitas perekonomian nasional tetap terjaga.

Di sisi lain, kebijakan makroprudensial akan terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya melalui peningkatan penyaluran kredit atau pembiayaan ke sektor riil, tanpa mengabaikan stabilitas sistem keuangan.

Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran diarahkan untuk menopang aktivitas ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur pembayaran nasional.

Langkah terpadu tersebut diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik sekaligus meredam tekanan eksternal di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (ds)

Pemerintah Buka Opsi Penundaan Pajak UMKM Jika Konflik Global Berlarut

IKPI, Jakarta: Pemerintah tengah mematangkan sejumlah opsi kebijakan fiskal darurat sebagai langkah antisipasi jika konflik geopolitik di Timur Tengah terus berlanjut dan berdampak lebih dalam terhadap perekonomian nasional. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penundaan kewajiban pajak bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Saat dikonfirmasi, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto membenarkan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari wacana antisipasi kondisi jika perang berlangsung panjang.

Sayangnya, Haryo tidak menjelaskan secara detail terkait pembahasan wacana penundaan pajak UMKM tersebut.

“Ini wacana antisipasi kondisi jika perang panjang. Saya belum terinfo detailnya,” kata Haryo melalui pesan singkat, Selasa (17/3).

Pernyataan ini memperkuat apa yang sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).

Airlangga mengusulkan penundaan pajak bagi UMKM dan industri padat energi sebagai salah satu poin dalam rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) yang sedang dipersiapkan pemerintah.

Selain penundaan pajak UMKM, beberapa kebijakan lain yang dipertimbangkan antara lain insentif darurat Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi sektor terdampak, serta pembebasan bea masuk bahan baku tertentu untuk menjaga kegiatan ekspor tetap berjalan.

Airlangga menyebut, mekanisme Perppu ini mengacu pada Perpu Nomor 1 Tahun 2020 yang pernah diterbitkan pemerintah pada masa pandemi Covid-19, dengan sejumlah penyesuaian sesuai kondisi terkini. (ds)

IKPI Pangkalpinang Gandeng KPP Pratama Perkuat Sosialisasi SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi

IKPI, Pangkalpinang: Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Pangkalpinang terus memperkuat sinergi dengan otoritas pajak dalam rangka meningkatkan kepatuhan pelaporan pajak masyarakat. Jajaran pengurus IKPI Pangkalpinang melakukan kunjungan resmi ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pangkalpinang, Senin (17/3/2026).

Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua IKPI Cabang Pangkalpinang, Mindra, bersama dua pengurus lainnya, yakni Gunawan dan Hengky. Mereka disambut oleh Kepala KPP Pratama Pangkalpinang, Deny, didampingi oleh Kepala Seksi Account Representative (AR) serta Kepala Seksi Pelayanan.

Mindra menjelaskan bahwa pertemuan ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat kolaborasi antara konsultan pajak dan otoritas pajak, khususnya dalam mendorong kesadaran masyarakat terkait kewajiban pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi.

“Hari ini kami dari IKPI Cabang Pangkalpinang melakukan kunjungan dan bertemu langsung dengan Kepala KPP Pratama Pangkalpinang beserta jajaran dalam rangka sosialisasi pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi,” ujar Mindra.

Ia menegaskan bahwa peran konsultan pajak sangat strategis dalam menjembatani pemahaman wajib pajak terhadap regulasi perpajakan yang terus berkembang. Oleh karena itu, sinergi dengan Direktorat Jenderal Pajak melalui KPP menjadi kunci untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap akurat dan terkini.

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi dalam pelaporan SPT Tahunan, termasuk masih adanya kendala teknis maupun tingkat literasi perpajakan masyarakat yang beragam.

Kepala KPP Pratama Pangkalpinang, Deny, menyambut baik inisiatif IKPI Cabang Pangkalpinang dalam membangun komunikasi aktif dengan pihak KPP. Ia menilai kolaborasi seperti ini dapat membantu meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak.

Selain itu, dukungan dari konsultan pajak dinilai mampu memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat, terutama dalam menghadapi batas waktu pelaporan SPT Tahunan yang semakin dekat.

Melalui pertemuan ini, IKPI Cabang Pangkalpinang berharap dapat terus menjalin kerja sama berkelanjutan dengan KPP Pratama Pangkalpinang, sekaligus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pelayanan perpajakan di daerah.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen IKPI dalam mendukung upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara melalui optimalisasi kepatuhan pajak masyarakat. (bl)

Mudik Lebaran Lewat Pesawat Diprediksi Tembus 4,5 Juta Penumpang

IKPI, Jakarta: Mudik Lebaran 2026 melalui jalur udara diperkirakan akan melibatkan lebih dari 4,5 juta penumpang. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memproyeksikan total penumpang pesawat selama periode angkutan Lebaran mencapai 4.571.347 orang, naik sekitar 2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Angkutan Udara Kemenhub, Agustinus Budi Hartono menyampaikan bahwa peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan penumpang domestik maupun internasional, meski dengan tren yang berbeda.

Untuk penerbangan domestik, jumlah penumpang diperkirakan mencapai 3.641.655 orang atau naik sekitar 2% dibandingkan Lebaran 2025.

Sementara itu, penumpang internasional diproyeksikan mengalami lonjakan lebih tinggi atau tumbuh sekitar 20% dibandingkan tahun lalu.

“Tentunya kita prediksi untuk total penumpang domestik dan internasional itu sebanyak 4.571.347 penumpang. Mengalami kenaikan sebesar 2% dibandingkan dengan angkutan lebaran tahun lalu,” ujar Agustinus dalam Konferensi Pers yang digelar secara daring, Selasa (17/3).

Puncak arus mudik Lebaran melalui udara diprediksi terjadi pada 18 Maret 2026 dengan jumlah penumpang sekitar 265.810 orang.
Adapun puncak arus balik diperkirakan berlangsung pada 29 Maret 2026 dengan jumlah penumpang sekitar 275.000 orang.

Namun, berdasarkan perkembangan penjualan tiket, terdapat indikasi bahwa lonjakan penumpang sudah mulai terjadi lebih awal.

Data menunjukkan tingkat keterisian kursi pada beberapa rute meningkat signifikan sejak pertengahan Maret, sehingga kemungkinan puncak mudik dapat bergeser dari prediksi awal.

Untuk mendukung kelancaran arus mudik, Kementerian Perhubungan telah membuka Posko Angkutan Lebaran secara nasional sejak 13 Maret hingga 30 Maret 2026. Posko ini melibatkan berbagai kementerian, lembaga, dan operator transportasi untuk memantau pergerakan penumpang lintas moda secara terpadu.

Selain itu, pemerintah juga melakukan berbagai upaya untuk menjaga keterjangkauan tarif pesawat, antara lain melalui pemberian diskon sejumlah komponen biaya kebandarudaraan, diskon pajak, serta dukungan penurunan harga avtur di puluhan bandara.

Pemerintah menilai tingginya harga tiket yang beredar di masyarakat sebagian dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan kursi. Pada periode puncak mudik, tiket kelas ekonomi langsung sering kali sudah habis sehingga yang tersisa adalah penerbangan dengan transit atau kelas layanan lebih tinggi yang harganya jauh lebih mahal.

“Kalau kita perhatikan ternyata juga yang ditawarkan oleh online travel agent itu juga rute-rute yang mungkin kalau secara direct rutenya sudah habis, dan ternyata juga dilakukan adanya beberapa transit dan ternyata transitnya ini lebih dari satu kali transit dan mengakibatkan memang harganya ini cukup membengkak. Itu yang akhirnya menjadi persepsi yang sedikit salah di masyarakat, dianggapnya harga tiket itu sangat mahal,” katanya. (ds)

Kolaborasi Kampus dan Praktisi Pajak dalam Edukasi Perpajakan Era Coretax

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sistem administrasi perpajakan yang baru, berbagai kegiatan edukasi terus dilakukan. Tidak ketinggalan kalangan akademisi turut mengambil peran dalam memberikan edukasi mengenai pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilandi era implementasi sistem Coretax DJP. Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan melalui edukasi dan workshop Coretax DJP di lingkungan akademik, yaitu di Universitas Buddhi DharmaTangerang, yang di beri judul Pengisian dan Pelaporan SPT Tahunan Wajib Pajak Pribadi berbasis Coretax

Kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama antara Tax Center Universitas Buddhi Dharma, Asosiasi Manajemen Tangerang Raya (AMATaRa), serta Maghabudhi Provinsi Banten. Seminar edukasi ini dilaksanakan di Kampus UBD di Tangerang pada hari Sabtu, 7 Maret 2026.

Dalam kegiatan tersebut, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) sebagai organisasi profesi konsultan pajak turut mengambil bagian dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Kehadiran Buddhi Benny Wibowo dan Tintje Beby sebagai konsultan pajak yang berada di wilayah Pengurus Daerah Banten menjadi bagian dari kontribusi nyata para praktisi dalam mendukung peningkatan pemahaman wajib pajak terhadap sistem Coretax DJP.

Edukasi materi disampaikan oleh Buddhi Benny Wibowo dari IKPI sementara pemaparan teknis penggunaan sistem Coretax disampaikan oleh Benyamen Melatnebar Wuarmanuk, yang juga merupakan Ketua Tax Center sekaligus dosen perpajakan Universitas Buddhi Dharma.

Turut memberikan dukungan dalam kegiatan ini adalah Ketua AMATaRa, Assoc Prof.DR. Limajantini, yang juga merupakan lektor di Universitas Buddhi Dharma, serta Romo Sima Budy yang merupakan ketua PD Maghabudhi Provinsi Banten.

Seminar perpajakan ini diselenggarakan secara hybrid, yaitu melalui kehadiran langsung (offline) maupun secara daring (online) melalui media zoom. Peserta yang mengikuti secara daring pada umumnya berasal dari kalangan dosen, para pengusaha, serta para pandita atau pemuka agama Buddha yang tergabung dalam Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Maghabudhi). Partisipasi dari berbagai kalangan ini menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam memahami perkembangan sistem administrasi perpajakan, khususnya terkait implementasi Coretax DJP.

Rangkaian kegiatan edukasi ini dimulai dengan pengenalan sistem Coretax DJP, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai persiapan data yang diperlukan dalam rangka pemenuhan kewajiban wajib pajak, khususnya untuk pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan. Selanjutnya peserta diberikan pemahaman mengenai proses pengisian melalui sistem Coretax secara praktis, serta penjelasan mengenai klasifikasi dan pemahaman berbagai jenis penghasilan yang perlu dilaporkan oleh wajib pajak dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan.

Materi juga mencakup pemahaman terkait penggunaan bukti potong pajak sebagai dasar pelaporan, serta penjelasan mengenai perlakuan atas sumbangan keagamaan yang dapat diperhitungkan sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku

Dengan pendekatan tersebut, diharapkan peserta dapat memahami proses pelaporan pajak secara lebih sistematis, tepat, dan sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.

Karena Coretax DJP merupakan sistem yang relatif baru dalam proses pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan, para peserta menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi untuk memahami cara penggunaannya. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan saat sesi tanya jawab yang berlangsung sehingga seminar lebih interaktif. Para peserta tidak hanya mengajukan pertanyaan terkait penggunaan Coretax DJP, tetapi juga mendiskusikan berbagai persoalan praktis yang sering dihadapi dalam proses pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan.

Harapan terbesar melalui seminar ini para peserta tidak hanya memahami secara teknis penggunaan Coretax, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya kepatuhan dalam pelaporan SPT Tahunan Pajak Penghasilan. Kegiatan edukasi seperti ini diharapkan dapat terus dilakukan sebagai bagian dari upaya bersama antara akademisi, praktisi, dan masyarakat dalam mendukung terciptanya budaya sadar dan patuh pajak.

Penulis adalah Kepala Biro Keuangan IKPI

Tintje Beby

Email : tibeb.sugandi@gmail.com

Disclamer: Tulisan merupakan pendapat pribadi penulis

IKPI Jakarta Barat Salurkan Santunan untuk Anak Yatim dan Dhuafa

IKPI, Jakarta Barat: Ikatan Konsultan Pajak Indonesia Cabang Jakarta Barat menggelar kegiatan bakti sosial dan santunan bagi anak yatim piatu serta dhuafa dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Yayasan Yatim Piatu Aisyiyah pada Sabtu (14/3/2026).

Ketua IKPI Cabang Jakarta Barat, Teo Takismen, mengatakan bahwa kegiatan santunan ini merupakan agenda sosial tahunan organisasi sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat, khususnya anak-anak yatim dan dhuafa di sekitar wilayah Jakarta Barat.

(Foto: DOK. IKPI Cabang Jakarta Barat)

“Bakti sosial ini menjadi salah satu wujud kepedulian IKPI Jakarta Barat untuk berbagi kebahagiaan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kami berharap bantuan dan sumbangan dari para anggota Jakarta Barat yang diberikan dapat memberikan manfaat dan membawa kebahagiaan bagi anak-anak di yayasan ini,” ujar Teo, Senin (16/3/2026).

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 35 anak yatim dan piatu beserta jajaran pengurus yayasan dan masjid menerima santunan yang disalurkan oleh IKPI Jakarta Barat. Bantuan yang diberikan berupa paket sembako serta donasi dari para anggota Jakarta Barat untuk yayasan dengan total nilai mencapai Rp 32.937.672,00

Teo menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum bagi para anggota IKPI untuk mempererat kebersamaan sekaligus menumbuhkan semangat berbagi kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Momen ini menjadi ajang bagi kami untuk memperkenalkan organisasi kita IKPI. Bukan hanya sekedar organisasi dalam bidang profesi dan edukasi perpajakan, tetapi juga melalui kegiatan sosial yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” jelasnya.

(Foto: DOK. IKPI Cabang Jakarta Barat)

Kegiatan bakti sosial tersebut turut dihadiri oleh jajaran pengurus dan anggota IKPI Cabang Jakarta Barat, antara lain Devi Arista, Wiwik Budianti, Sophia Rengganis dan Tony, yang bersama-sama menyerahkan santunan kepada anak-anak yatim di yayasan tersebut.

Diungkapkan Teo, anak-anak penerima santunan tampak antusias mengikuti rangkaian acara yang digelar secara sederhana namun penuh makna.

Melalui kegiatan ini, IKPI Jakarta Barat berharap dapat terus memperkuat nilai kepedulian sosial di kalangan anggotanya sekaligus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, khususnya dalam menyambut momentum Idul Fitri yang identik dengan semangat berbagi dan kebersamaan. (bl)

Pemerintah Pertimbangkan Windfall Tax jika Harga Komoditas Terus Melonjak

IKPI, Jakarta: Pemerintah membuka peluang penerapan windfall tax atau pajak atas keuntungan tak terduga dari sektor komoditas, seiring memanasnya harga komoditas global akibat konflik bersenjata di Timur Tengah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan opsi tersebut bisa diambil jika kenaikan harga komoditas berlangsung dalam tren jangka panjang, bukan sekadar lonjakan sesaat.

“Jadi kalau dari penerimaan itu pada saat terjadi windfall profit. Makanya itu bisa kita kenakan windfall tax,” ujar Airlangga dalam Media Briefing di Jakarta, Selasa (17/3).

Meski demikian, Airlangga menegaskan pemerintah belum mengambil keputusan apa pun. Ia menyebut angka kenaikan harga komoditas yang pasti belum tersedia, sehingga evaluasi terhadap durasi dan kedalaman tren kenaikan masih harus dilakukan terlebih dahulu.

“Kita lihat saja, belum diputuskan karena angkanya tidak ada. Angka kenaikan komoditas kan belum. Kalau itu kan kita harus tanya, lihat berapa lama dia trennya naik. Kalau cuma spike aja sih tidak,” katanya.

Untuk diketahui, windfall tax merupakan bentuk pajak khusus yang dikenakan pada pendapatan yang tak terduga atau diluar perkiraan yang diperoleh oleh suatu industri atau perusahaan tertentu.

Penerapan pajak ini bertujuan untuk mengambil keuntungan yang berlebihan yang diperoleh dari perubahan harga komoditas atau situasi pasar yang menguntungkan secara tiba-tiba.

Dengan mengenakan pajak pada keuntungan yang tak terduga ini, pemerintah bisa mendapatkan dana tambahan untuk berbagai keperluan pembangunan, infrastruktur, atau untuk program sosial.

Wacana windfall tax ini muncul di tengah tekanan fiskal yang semakin berat setelah konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meletus sejak akhir Februari 2026.

Konflik tersebut mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$ 104 per barel pada 16 Maret 2026, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang dipatok US$ ira70 per barel. (ds)

id_ID