IKPI, Jakarta: Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Amir Arief mengingatkan pentingnya keteladanan pemimpin dalam membangun budaya integritas di lingkungan kerja. Menurutnya, perilaku pimpinan akan sangat memengaruhi sikap dan budaya organisasi secara keseluruhan.
Hal tersebut disampaikan Amir Arief saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pencanangan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI WBK) Pusbin JFPM di lingkungan BPPK Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Dalam sesi interaktif bersama peserta, Amir meminta para pegawai menyampaikan harapan mereka terhadap sosok pemimpin yang berintegritas. Sejumlah jawaban yang muncul di antaranya pemimpin yang transparan, konsisten, menjadi teladan, hingga bekerja lebih keras dibanding bawahannya.
“Saya ingin jawaban yang konkret, bukan yang generik,” ujar Amir.
Ia juga mencontohkan bentuk keteladanan sederhana yang menurutnya penting dijaga seorang pimpinan, seperti tidak meminta fasilitas berlebihan saat kunjungan kerja maupun tidak membebani bawahan untuk kepentingan pribadi.
“Saya butuh pemimpin yang kalau bertamu ke daerah tidak perlu minta oleh-oleh atau fasilitas tambahan,” katanya.
Menurut Amir, integritas tidak cukup hanya disampaikan dalam slogan atau pidato, tetapi harus terlihat dalam perilaku sehari-hari pimpinan. Karena itu, ia menekankan pentingnya keselarasan antara ucapan dan tindakan.
“Walk the talk itu penting. Selaras antara perkataan dan perbuatan,” ujarnya.
Amir menjelaskan, perilaku pemimpin akan membentuk perilaku kolektif di dalam organisasi. Jika pimpinan memberi contoh baik, maka budaya kerja positif akan terbentuk. Sebaliknya, pelanggaran kecil yang dilakukan pimpinan juga dapat ditiru oleh bawahan dan berkembang menjadi budaya permisif.
“Attitude individu akan membentuk behavior kolektif, lalu menjadi culture,” katanya.
Ia mencontohkan bagaimana pelanggaran kecil yang terus dibiarkan pada akhirnya dapat dianggap sebagai sesuatu yang wajar di lingkungan kerja. Karena itu, budaya saling mengingatkan dinilai penting dalam menjaga integritas organisasi.
Menurut Amir, pembangunan Zona Integritas menuju WBK tidak akan efektif tanpa komitmen pimpinan yang kuat dalam memberikan teladan kepada pegawai.
“ZI WBK harus menjadi circle yang saling mengingatkan dan saling menguatkan,” ujarnya.
Amir juga mengapresiasi langkah BPPK dan Pusbin JFPM dalam membangun budaya integritas di lingkungan kerja melalui pencanangan Zona Integritas. Ia berharap penguatan integritas dilakukan secara konsisten agar menjadi budaya organisasi yang melekat dan berkelanjutan.
Kegiatan pencanangan ZI WBK tersebut dihadiri berbagai asosiasi profesi, kementerian/lembaga, perguruan tinggi, serta mitra strategis lainnya sebagai bagian dari penguatan reformasi birokrasi dan budaya antikorupsi di lingkungan Kementerian Keuangan. (bl)
