Mulai 13 Juli 2026, Tokopedia Buka Pengajuan Pembebasan PPh bagi Penjual

IKPI, Jakarta: Tokopedia mulai membuka pengajuan pembebasan pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) bagi penjual di platformnya mulai 13 Juli 2026.

Fasilitas ini diberikan kepada penjual perorangan dengan omzet tertentu serta badan usaha yang telah memiliki dokumen pembebasan pajak.

Dalam keterangan resminya, Tokopedia menjelaskan bahwa penjual perorangan, termasuk pedagang usaha perseorangan, dapat mengajukan pembebasan pemotongan pajak apabila total penjualan barang atau jasanya dalam satu tahun pajak belum melebihi Rp 500 juta.

“Mulai tanggal 13 Juli 2026, penjual dapat mulai mengirimkan dokumen untuk mengajukan pembebasan pajak penghasilan yang dipotong di muka,” tulis Tokopedia dalam laman resminya, dikutip Minggu (12/7).

Untuk memperoleh fasilitas tersebut, penjual dapat mengakses Seller Center > Finance > Tax Exemption, kemudian mengunggah surat pernyataan omzet pada bagian Statement Letter. Dokumen harus berformat PDF dengan ukuran maksimal 10 MB.

Sementara itu, penjual berbentuk badan usaha yang telah memiliki Surat Keterangan Bebas (SKB) PPh Pasal 22 juga dapat mengunggah dokumen pembebasan tersebut melalui menu Tax Exemption Documents pada halaman yang sama.

Tokopedia menjelaskan, langkah tersebut dilakukan sebagai persiapan penerapan mekanisme pemungutan PPh Pasal 22 oleh marketplace sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 37 Tahun 2025.

Mengacu pada ketentuan tersebut, pemotongan pajak akan mulai berlaku pada 1 Agustus 2026, setelah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menerbitkan surat penunjukan resmi kepada platform marketplace pada Juli 2026.

Sebelum kebijakan berlaku, Tokopedia mengimbau seluruh penjual memperbarui informasi perpajakan mereka, meliputi status Pengusaha Kena Pajak (PKP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau Nomor Induk Kependudukan (NIK), serta alamat penagihan pada halaman informasi pajak di Seller Center.

Selain itu, penjual yang memenuhi syarat diminta segera mengunggah dokumen pembebasan pajak. Dokumen tersebut dapat berupa SKB PPh Pasal 22 bagi badan usaha atau surat pernyataan omzet di bawah Rp 500 juta bagi penjual perorangan.

Tokopedia juga menjelaskan bahwa dana PPh Pasal 22 yang dipungut melalui platform akan disetorkan kepada Kementerian Keuangan setiap bulan.

Apabila terjadi pembatalan transaksi atau pengembalian dana (refund), pajak yang sebelumnya dipotong akan dikembalikan kepada penjual.

Sebagai bukti pemungutan, marketplace akan menerbitkan dokumen yang setara dengan Bukti Pemotongan PPh Pasal 22 setiap bulan. Dokumen tersebut memuat identitas perpajakan penjual, alamat penagihan, identitas perusahaan penyedia informasi perpajakan, serta besaran pajak yang dipotong dari penjualan. (ds)

Kemenkeu Nilai RUU Satu Data Indonesia Cegah Manipulasi Laporan Pajak

IKPI, Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai Rancangan Undang-Undang (RUU) Satu Data Indonesia (SDI) akan mempersempit celah manipulasi laporan keuangan yang selama ini dapat terjadi akibat perbedaan data yang disampaikan kepada berbagai instansi pemerintah.

Kepala Pusat Pengembangan Sistem Informasi Badan Teknologi, Informasi, dan Intelijen Keuangan (Batii) Kemenkeu Yan Inderayana mengatakan penerapan Satu Data Indonesia akan menghadirkan satu rujukan data bersama yang digunakan seluruh kementerian dan lembaga.

Dengan demikian, data yang dilaporkan oleh pelaku usaha akan menjadi lebih konsisten.

“Saat bicara laporan keuangan yang harus dilaporkan oleh perusahaan, itu harus disubmit ke Kementerian Keuangan, ke BEI, OJK, LPS, bahkan BI. Dan datanya tersebut cenderung berbeda, walaupun di-provide oleh satu instansi yang sama,” ujar Yan dalam Rapat Pleno Baleg DPR, dikutip Minggu (12/7).

Ia mencontohkan, perusahaan dapat menyampaikan laporan keuangan dengan nilai yang lebih tinggi kepada perbankan untuk meningkatkan peluang memperoleh pembiayaan.

Di sisi lain, perusahaan yang sama dapat melaporkan nilai yang lebih rendah kepada otoritas pajak.

“Misalkan dia mensubmit ke bank, dia laporan keuangannya ditinggikan, tapi ketika submit di pajak, laporan keuangannya dikecilkan,” katanya.

Menurut Yan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kehadiran RUU Satu Data Indonesia sebagai rujukan tunggal bagi seluruh instansi pemerintah.

Selain meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas masing-masing kementerian dan lembaga, integrasi data juga diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan para pemangku kepentingan, termasuk wajib pajak.

“Dengan adanya Satu Data Indonesia akan menjadi satu rujukan tunggal yang tidak hanya meningkatkan dari tusi masing-masing kementerian/lembaga, tapi juga meningkatkan kepatuhan dari stakeholder kita ini,” imbuh Yan.

Yan menambahkan, Kementerian Keuangan memandang pengesahan RUU UU Satu Data Indonesia sebagai langkah penting dalam membangun ekosistem transformasi digital nasional.

Melalui ekosistem tersebut, seluruh kementerian dan lembaga dapat memanfaatkan data yang sama sehingga tidak ada lagi instansi yang tertinggal dalam transformasi digital.

Sembari menunggu terbitnya peraturan pemerintah sebagai aturan pelaksana, Kemenkeu mengaku telah menyiapkan berbagai standar untuk mendukung implementasi Satu Data Indonesia.

Persiapan tersebut meliputi penyusunan standar data, standar pertukaran data, hingga standar kualitas data melalui sejumlah regulasi internal.

Lebih lanjut, Yan mengatakan Satu Data Indonesia tidak hanya bertujuan mewujudkan interoperabilitas antarsistem pemerintahan, tetapi juga menghasilkan data yang berkualitas.

Data tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai fondasi penerapan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) guna menghasilkan analisis yang lebih akurat dalam mendukung pengambilan kebijakan pemerintah. (ds)

Pengurus Pusat IKPI Apresiasi Semangat Pengembangan Program Cabang Makassar

IKPI, Makassar: Pengurus Pusat Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) mengapresiasi semangat pengembangan program yang ditunjukkan IKPI Cabang Makassar. Apresiasi tersebut disampaikan Ketua Departemen Humas IKPI, Jemmi Sutiono, usai bersilaturahmi dengan Ketua IKPI Cabang Makassar, Ezra Palisungan, di Sekretariat IKPI Cabang Makassar, Sabtu (11/7/2026) malam.

Menurut Jemmi, pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban itu menjadi kesempatan bagi Pengurus Pusat untuk mendengar langsung perkembangan berbagai kegiatan yang telah dijalankan IKPI Cabang Makassar sekaligus membahas rencana program ke depan.

“Kami mengapresiasi semangat dan berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan IKPI Cabang Makassar. Semangat seperti ini penting untuk terus dipertahankan dan dikembangkan agar organisasi semakin memberi manfaat, baik bagi anggota maupun masyarakat,” ujar Jemmi.

Ia mengatakan, komunikasi yang terjalin antara Pengurus Pusat dan Pengurus Cabang merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan program organisasi. Melalui silaturahmi, berbagai gagasan dan kebutuhan di daerah dapat dibahas secara langsung sehingga dapat menjadi bahan penyusunan langkah strategis organisasi.

Jemmi menambahkan, hasil pertemuan tersebut juga telah disampaikan kepada Ketua Umum IKPI, Vaudy Starworld. Menurutnya, Pengurus Pusat menyambut positif berbagai inisiatif yang berkembang di IKPI Cabang Makassar dan siap memberikan dukungan terhadap program-program yang sejalan dengan arah kebijakan organisasi.

“Pengurus Pusat ingin setiap cabang terus aktif mengembangkan program yang relevan dengan kebutuhan di daerah masing-masing. Dengan komunikasi yang baik, berbagai gagasan dapat diwujudkan menjadi kegiatan yang memberikan dampak nyata,” katanya.

Ia berharap semangat yang ditunjukkan IKPI Cabang Makassar dapat terus dipertahankan sebagai bagian dari upaya memperkuat peran organisasi dalam meningkatkan kompetensi anggota sekaligus memperluas kontribusi IKPI dalam edukasi perpajakan di berbagai daerah. (bl)

Ketum IKPI Sebut Kepatuhan Pajak UMKM Terkendala Formalisasi Usaha

IKPI, Manado: Ketua Umum Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Vaudy Starworld menilai rendahnya kepatuhan pajak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih dipengaruhi oleh lemahnya formalisasi usaha, bukan semata-mata karena besaran tarif pajak yang berlaku.

Pernyataan tersebut disampaikan Vaudy saat menjadi narasumber dalam Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) bertajuk “Seputar UMKM dan Kontribusinya” yang membahas implementasi PP Nomor 20 Tahun 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Sulawesi Utara itu berlangsung di Hotel Gran Puri Manado, Jumat (10/7/2026).

PPL dibuka dengan sambutan Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara (Suluttenggomalut), Devyanus Christopel N. Polii. Kegiatan tersebut diketuai Dr. Meidy Kantohe dan dilaksanakan secara hybrid, dengan peserta mengikuti kegiatan baik secara luring maupun daring.

Sementara itu, para narasumber dan sebagian peserta lainnya mengikuti kegiatan secara daring. Selain menghadirkan Ketua Umum IKPI Vaudy Starworld, PPL juga menghadirkan Penyuluh Kanwil DJP Suluttenggomalut Indrianto Kusbandono serta Owner KJA Ferry Tulung sebagai narasumber yang membahas implementasi kebijakan perpajakan UMKM dari berbagai perspektif.

Dalam paparannya, Vaudy menjelaskan bahwa pemerintah telah memberikan berbagai kemudahan kepada UMKM melalui skema PPh Final dan penyederhanaan administrasi perpajakan. Namun, menurutnya, tingkat kepatuhan pajak belum optimal karena masih banyak pelaku UMKM yang belum memasuki sektor formal.

“Persoalan utama bukan pada tarif pajaknya, tetapi pada masih rendahnya tingkat formalisasi usaha,” ujar Vaudy.

Ia menjelaskan, masih banyak pelaku UMKM yang belum memiliki legalitas usaha, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), maupun pembukuan yang memadai. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi kepatuhan perpajakan, tetapi juga membatasi akses pelaku usaha terhadap pembiayaan perbankan, pengadaan barang dan jasa pemerintah, serta peluang memperluas pasar.

Menurut Vaudy, peningkatan kepatuhan pajak tidak cukup dilakukan melalui pendekatan administrasi semata. Diperlukan upaya mendorong UMKM masuk ke sektor formal melalui kemudahan perizinan, peningkatan literasi perpajakan, penguatan pembukuan, dan pendampingan usaha agar pelaku UMKM mampu berkembang secara berkelanjutan.

Selain paparan dari para narasumber, kegiatan juga menghadirkan sesi berbagi pengalaman dari dua pelaku UMKM, yakni Ketua UMKM Kota Manado Santje Pontoh dan Owner Momilan Cake & Bakery Juliani Mogot. Keduanya menceritakan pengalaman mengembangkan usaha sekaligus pentingnya legalitas, pencatatan keuangan, dan kepatuhan perpajakan dalam mendukung pertumbuhan bisnis.

Melalui forum tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai implementasi PP Nomor 20 Tahun 2026 sekaligus tantangan yang masih dihadapi UMKM dalam meningkatkan kepatuhan perpajakan.  (bl)

IKPI Tegaskan Tarif Pajak UMKM Tidak Berubah

IKPI, Manado: Ketua Umum Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Vaudy Starworld menegaskan bahwa tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap 0,5 persen dan tidak mengalami perubahan dengan berlakunya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 20 Tahun 2026. Menurutnya, regulasi tersebut lebih menitikberatkan pada penyempurnaan pengaturan terkait subjek pajak, jangka waktu pemanfaatan tarif final, serta mekanisme pelaksanaannya.

Pernyataan itu disampaikan Vaudy saat menjadi narasumber dalam Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) bertajuk Seputar UMKM dan Kontribusinya yang membahas implementasi PP Nomor 20 Tahun 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Sulawesi Utara tersebut berlangsung di Hotel Gran Puri Manado, Jumat (10/7/2026).

PPL dibuka dengan sambutan Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Sulawesi Utara, Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara (Suluttenggomalut), Devyanus Christopel N. Polii. Kegiatan tersebut diketuai Dr. Meidy Kantohe dan dilaksanakan secara hybrid, dengan sebagian peserta mengikuti kegiatan secara luring dan sebagian lainnya bergabung secara daring.

Sementara itu, para narasumber juga mengikuti kegiatan secara luring maupun daring. Selain menghadirkan Ketua Umum IKPI Vaudy Starworld, PPL juga menghadirkan Penyuluh Kanwil DJP Suluttenggomalut Indrianto Kusbandono yang memaparkan implementasi PP Nomor 20 Tahun 2026 dari sisi administrasi perpajakan, serta Owner KJA Ferry Tulung yang memberikan perspektif praktis mengenai pengelolaan usaha dan kepatuhan perpajakan.

Dalam paparannya, Vaudy mengingatkan agar masyarakat, khususnya pelaku UMKM, tidak salah menafsirkan terbitnya PP Nomor 20 Tahun 2026 sebagai kebijakan yang menaikkan tarif pajak.

“Tarif PPh Final UMKM tetap 0,5 persen. Yang diatur dalam PP Nomor 20 Tahun 2026 adalah penyempurnaan ketentuan mengenai siapa yang dapat memanfaatkan fasilitas tersebut, jangka waktu penggunaannya, serta berbagai aspek administrasi perpajakan,” jelasnya.

Ia mengatakan, penyempurnaan regulasi tersebut bertujuan memberikan kepastian hukum bagi wajib pajak sekaligus memastikan fasilitas PPh Final benar-benar dimanfaatkan sesuai karakteristik UMKM. Dengan demikian, kebijakan perpajakan tidak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga mendorong pelaku usaha membangun tata kelola yang lebih baik.

Menurut Vaudy, pemahaman yang benar terhadap substansi PP Nomor 20 Tahun 2026 menjadi penting agar pelaku UMKM dapat memanfaatkan fasilitas perpajakan secara optimal tanpa menimbulkan kesalahpahaman mengenai besaran pajak yang harus dibayar.

Selain sesi pemaparan materi, kegiatan juga menghadirkan sesi berbagi pengalaman dari Ketua UMKM Kota Manado Santje Pontoh dan Owner Momilan Cake & Bakery Juliani Mogot. Keduanya menceritakan pengalaman mengembangkan usaha, mulai dari membangun legalitas, menyusun pembukuan, hingga memenuhi kewajiban perpajakan sebagai bagian dari pengembangan bisnis.

Melalui forum tersebut, peserta memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai implementasi PP Nomor 20 Tahun 2026, baik dari sisi kebijakan, administrasi perpajakan, maupun praktik di lapangan. Vaudy berharap sosialisasi yang berkelanjutan dapat meningkatkan pemahaman pelaku UMKM terhadap regulasi perpajakan sehingga fasilitas yang diberikan pemerintah dapat dimanfaatkan secara tepat dan mendukung pertumbuhan usaha secara berkelanjutan. (bl)

Purbaya Andalkan Manajemen Kas untuk Genjot Perekonomian Indonesia

IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah mulai mengoptimalkan pengelolaan kas negara sebagai instrumen fiskal baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Langkah tersebut diharapkan dapat melengkapi peran belanja negara yang selama ini dinilai hanya menyumbang sebagian kecil terhadap aktivitas ekonomi nasional.

Menurut Purbaya, belanja pemerintah hanya berkontribusi sekitar 7% hingga 10% terhadap aktivitas ekonomi.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya menggerakkan sekitar 90% aktivitas ekonomi yang berasal dari sektor swasta melalui pengelolaan kas negara yang lebih optimal.

“Saya perhatikan bahwa manajemen cash, manajemen uang pemerintah bisa mempengaruhi ekonomi Indonesia secara signifikan. Itu bisa menghidupkan yang 90 persen ekonomi selain belanja langsung yang 7% hingga 10%,” ujar Purbaya, dalam keterangannya, dikutip Sabtu (11/7).

Ia menjelaskan, salah satu kebijakan yang ditempuh adalah menempatkan dana pemerintah yang sebelumnya tersimpan di Bank Indonesia ke sistem perbankan.

Dana tersebut diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan nasional sehingga meningkatkan kemampuan bank dalam menyalurkan kredit.

Menurut Purbaya, kebijakan tersebut juga berkontribusi terhadap peningkatan base money (M0) sehingga dapat mendukung transmisi kebijakan moneter tanpa mengganggu independensi Bank Indonesia.

Selain itu, pemerintah juga melakukan penempatan dana negara di perbankan ketika aktivitas ekonomi melambat pada Mei dan Juni tahun ini.

Langkah tersebut dimaksudkan untuk memperkuat likuiditas perbankan agar penyaluran kredit tetap tumbuh dan aktivitas ekonomi kembali bergairah.

“Jadi saya taruh di perbankan Rp400 triliun, itu akan memperkuat kondisi likuiditas perbankan sehingga mereka bisa memberikan kredit dan ekonominya bisa tumbuh lagi,” kata Purbaya.

Ke depan, pemerintah akan terus mengoptimalkan manajemen kas sebagai bagian dari kebijakan fiskal.

Dengan demikian, instrumen fiskal tidak hanya mengandalkan belanja negara, tetapi juga memanfaatkan pengelolaan likuiditas untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Jadi fiskal ke depan bukan hanya belanja pemerintah saja. Anda nanti bisa mempengaruhi ekonomi secara langsung dengan cash management yang lebih baik,” kata Purbaya. (ds)

Lunasi Tunggakan, Wajib Pajak Terima Kembali Barang Sitaan dari DJP

IKPI, Jakarta: Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Semarang Selatan mengembalikan barang sitaan milik seorang wajib pajak setelah seluruh tunggakan pajaknya dilunasi.

Pengembalian aset tersebut menjadi bagian dari penyelesaian proses penagihan pajak sekaligus menegaskan bahwa penyitaan dilakukan sebagai jaminan pelunasan utang negara, bukan untuk mengambil alih kepemilikan aset.

Barang sitaan diserahkan langsung oleh Juru Sita Pajak Negara (JSPN) KPP Pratama Semarang Selatan, Deny Nugroho, kepada wajib pajak yang bersangkutan.

Penyerahan dilakukan dengan penandatanganan Berita Acara Pengembalian Barang Sitaan.

Juru Sita Pajak Negara KPP Pratama Semarang Selatan, Deny Nugroho, mengatakan pengembalian aset dilakukan setelah wajib pajak memenuhi seluruh kewajiban perpajakannya dengan melunasi utang pajak yang sebelumnya menjadi dasar dilakukannya tindakan penegakan hukum.

“Kami sangat mengapresiasi sikap kooperatif wajib pajak yang telah melunasi seluruh tunggakannya. Pengembalian aset ini adalah bukti bahwa penegakan hukum di Direktorat Jenderal Pajak selalu mengedepankan asas keadilan. Tindakan penyitaan yang kami lakukan bukan untuk menguasai aset, melainkan murni sebagai jaminan pelunasan utang negara,” ujar Deny dalam keterangannya, dikutip Sabtu (11/7).

Dalam kesempatan yang sama, wajib pajak yang menerima kembali asetnya menyampaikan apresiasi kepada petugas KPP Pratama Semarang Selatan.

Ia menilai proses penagihan hingga pengembalian barang dilakukan secara profesional, transparan, serta tetap mengedepankan pendekatan yang edukatif dan humanis.

KPP Pratama Semarang Selatan menegaskan akan terus mengoptimalkan penerimaan negara melalui tindakan penagihan yang persuasif namun tetap tegas sesuai ketentuan perpajakan.

Otoritas pajak berharap penyelesaian kasus tersebut dapat menjadi contoh bagi wajib pajak lainnya untuk segera memenuhi kewajiban perpajakan secara sukarela sehingga dapat mendukung pembiayaan pembangunan nasional. (ds)

Lewat Behavioural Insight, DJP Berhasil Himpun Pembayaran Pajak Rp 1,37 Triliun

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan berhasil menghimpun pembayaran tunggakan pajak sebesar sekitar Rp 1,37 triliun melalui penerapan pendekatan behavioural insight (BI).

Pendekatan tersebut dilakukan dengan mengirimkan email pengingat kepada wajib pajak yang masih memiliki utang pajak.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP, Inge Diana Rismawanti, mengatakan hingga saat ini DJP telah mengirimkan 1.853.854 email kepada wajib pajak yang menjadi target penagihan. Total tunggakan yang menjadi sasaran pengiriman email tersebut mencapai sekitar Rp36 triliun.

“Terkait email blast yang dikirim kepada para penunggak pajak yang dipilih berdasarkan pendekatan BI Penagihan Pajak adalah sebanyak 1.853.854 email. Adapun total nilai tunggakan adalah sebesar Rp36 triliun,” ujar Inge dalam keterangannya, dikutip Sabtu (11/7).

Inge menambahkan, dari total tunggakan yang menjadi target tersebut, DJP telah menerima pembayaran sekitar Rp 1,37 triliun.

Capaian tersebut menunjukkan pendekatan yang lebih persuasif melalui media digital mulai memberikan hasil dalam mendorong kepatuhan wajib pajak.

Mengutip situs DJP, pendekatan behavioural insight merupakan metode yang digunakan DJP untuk mengedukasi sekaligus mengingatkan wajib pajak mengenai kewajiban pelunasan utang pajak.

Selain mendorong pelunasan, pendekatan ini juga memberikan informasi mengenai berbagai opsi penyelesaian kewajiban, termasuk mekanisme pengangsuran maupun penundaan pembayaran sesuai ketentuan perpajakan.

Berdasarkan Pasal 9 ayat (4) Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP), DJP dapat memberikan persetujuan kepada wajib pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak apabila mengalami kesulitan likuiditas atau keadaan di luar kendalinya sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban tepat waktu.

Penerapan behavioural insight di Indonesia mengadopsi praktik yang telah diterapkan sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Polandia, Australia, dan Selandia Baru.

Di Amerika Serikat, otoritas pajak mengirimkan surat elektronik secara otomatis kepada wajib pajak yang terlambat menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT), disertai informasi mengenai potensi sanksi.

Sementara itu, otoritas pajak Inggris (Her Majesty’s Revenue and Customs/HMRC) sejak 2013 mengintegrasikan behavioural insight ke dalam sistem manajemen utang pajak dan berhasil meningkatkan penerimaan pajak sekitar 1,6%.

Bank Dunia juga mencatat penerapan pendekatan serupa di Polandia mampu meningkatkan penerimaan pajak sebesar 6,7% dengan biaya yang relatif rendah.

Australia memanfaatkan teknologi digital untuk mengirimkan pengingat kewajiban pajak yang akan jatuh tempo, sedangkan Selandia Baru menggunakan sistem yang menyampaikan pemberitahuan melalui SMS, surat elektronik, media sosial, hingga telepon.

DJP menyebut program behavioural insight dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas penagihan pajak.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya memperbaiki pengelolaan piutang pajak setelah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LHP LKPP) Tahun 2022 menemukan masih adanya utang pajak macet senilai Rp 7,20 triliun yang belum ditindaklanjuti secara memadai. (ds)

Airlangga Yakin Ekonomi Indonesia Mulai Bangkit di Semester II-2026

IKPI, Jakarta: Meskipun sejumlah indikator ekonomi menunjukkan pelemahan dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah menilai kondisi fundamental perekonomian Indonesia masih terjaga dan optimistis situasi akan membaik pada semester II-2026.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan berbagai indikator, seperti ekspor dan aktivitas manufaktur, diperkirakan kembali menguat pada kuartal III hingga kuartal IV tahun ini.

“Nanti kita lihat menjelang kuartal ke-III, kuartal ke-IV akan naik lagi (ekspor dan PMI manufaktur),” ujar Airlangga di Jakarta, dikutip Sabtu (11/7).

Optimisme tersebut muncul di tengah pelemahan sejumlah indikator ekonomi domestik. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 tercatat turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026.

Angka tersebut menjadi penurunan selama tiga bulan berturut-turut sekaligus merupakan level terendah sejak September 2025.

Meski demikian, Airlangga menegaskan level IKK yang masih berada di atas 100 menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi belum terganggu secara signifikan.

“IKK di atas 100 masih aman, kemarin kan ada Lebaran, habis Lebaran pasti turun dikit,” katanya.

Tekanan juga terlihat pada sektor industri. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026, menandakan aktivitas manufaktur kembali berada di zona kontraksi.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar pada Juni 2026. Capaian tersebut menjadi defisit bulanan pertama sejak 2020.

Di pasar keuangan, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin secara kumulatif sejak Mei 2026 sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.

Sementara itu, nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat (10/7) masih berada di kisaran Rp 18.090 per dolar Amerika Serikat.

Kendati sejumlah indikator menunjukkan perlambatan, pemerintah tetap menilai fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat.

Airlangga meyakini peningkatan aktivitas ekonomi pada semester II akan mendorong kembali kinerja ekspor dan sektor manufaktur, sekaligus menjaga optimisme dunia usaha maupun masyarakat.(ds)

MUI Usulkan Zakat Jadi Pengurang Pajak Langsung, Bukan Tax Deduction

IKPI, Jakarta: Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) mengusulkan agar zakat diakui sebagai pengurang pajak secara langsung (tax credit), bukan hanya sebagai pengurang penghasilan kena pajak (tax deduction) seperti ketentuan yang berlaku saat ini.

Ketua Badan Pengurus DSN-MUI KH M Cholil Nafis mengatakan perubahan kebijakan tersebut akan memberikan keadilan yang lebih besar bagi umat Islam yang telah memenuhi kewajiban membayar zakat sekaligus pajak kepada negara.

“Ketentuan kita sekarang, zakat dapat mengurangi penghasilan kena pajak, jadi tax deduction, bukan tax credit. Kami sedang memperjuangkan agar zakat menjadi tax credit, sehingga yang dikeluarkan sebagai zakat sekaligus menjadi bagian dari kewajiban pajak kita,” ujar Kiai Cholil dalam keterangannya, dikutip Sabtu (11/7).

Ia menjelaskan, dalam skema yang berlaku saat ini, zakat hanya mengurangi besaran penghasilan yang menjadi dasar pengenaan pajak. Ke depan, DSN-MUI berharap nilai zakat yang dibayarkan dapat langsung mengurangi jumlah pajak yang harus disetor oleh wajib pajak.

Menurutnya, kebijakan tersebut akan menjadi insentif bagi masyarakat maupun pelaku usaha untuk menyalurkan zakat melalui lembaga resmi.

Selain itu, peningkatan penghimpunan zakat dinilai dapat memperkuat kontribusi ekonomi syariah terhadap pembangunan nasional.

“Kalau kita bicara pertumbuhan ekonomi dengan zakat, itu bukan berarti hartanya hilang. Semakin besar perusahaan, semakin besar pula zakatnya. Semakin banyak zakat yang mengalir, semakin besar pula daya beli masyarakat dan pada akhirnya kembali menggerakkan perekonomian,” katanya.

Kiai Cholil menambahkan, umat Islam pada dasarnya memiliki dua kewajiban yang harus dipenuhi, yakni membayar zakat sebagai perintah agama dan membayar pajak sebagai kewajiban kepada negara.

Oleh karena itu, menurutnya, sistem perpajakan seharusnya memberikan pengakuan yang lebih optimal terhadap pembayaran zakat.

“Umat Islam ini sebenarnya membayar dua kewajiban, zakat dan pajak. Karena itu kami terus berjuang agar zakat dapat diakui sebagai tax credit. Namun, apa pun kondisinya, kewajiban zakat tetap harus ditunaikan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT,” ujarnya.

DSN-MUI berharap usulan tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah dalam rangka memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Selain memberikan kepastian bagi para wajib zakat, pengakuan zakat sebagai tax credit dinilai berpotensi meningkatkan penghimpunan dana zakat yang pada akhirnya mendukung pemerataan kesejahteraan masyarakat. (ds)

id_ID