IKPI, Jakarta: Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat tetap terjaga meskipun mengalami peningkatan. Total ULN Indonesia pada periode tersebut mencapai US$ 437,9 miliar, naik dibandingkan posisi pada Januari 2026 yang sebesar US$ 434,9 miliar.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Anton Pitono, mengatakan secara tahunan ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5% year on year/yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,7% yoy.
“Peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” ujar Anton dalam keterangannya, Rabu (15/4).
Sementara itu, posisi ULN swasta pada periode yang sama justru mengalami penurunan. Dari sisi sektor publik, ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 215,9 miliar atau secara tahunan tumbuh 5,5% yoy, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang mencapai 5,6% (yoy).
“Perkembangan posisi ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang,” katanya.
Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib, jasa pendidikan, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan.
Struktur ULN pemerintah juga didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah.
Sementara peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.
Di sisi lain, ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 193,7 miliar atau secara tahunan turun 0,7% yoy. Penurunan ini dipengaruhi oleh kontraksi pada kelompok peminjam lembaga keuangan yang turun 2,8% yoy serta perusahaan bukan lembaga keuangan yang menurun 0,2% yoy.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian dengan pangsa mencapai 80,3% terhadap total ULN swasta.
Struktur ULN swasta juga didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0%.
Secara keseluruhan, struktur ULN Indonesia dinilai tetap sehat. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap produk domestik bruto (PDB) yang tercatat sebesar 29,8%, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,9% dari total ULN.
Menurut Anton, Bank Indonesia bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN guna menjaga struktur utang tetap sehat.
Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan dengan tetap meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian. (ds)



