Menkeu Purbaya Siapkan Tim Khusus Kejar Pengemplang Pajak

IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah akan memperketat penegakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan yang belum memenuhi kewajiban pajaknya.

Ia mengungkapkan, saat ini masih terdapat puluhan wajib pajak yang tengah dalam proses penagihan.

Menurut Purbaya, sebelumnya ada dua perusahaan yang telah berkomitmen untuk membayar tunggakan pajak hingga ratusan miliar rupiah. Namun demikian, pemerintah masih mengantongi sekitar 40 perusahaan lain yang akan segera ditindaklanjuti.

“Masih ada 40 lagi. Saya akan kejar lagi dalam waktu dekat,” ujar Purbaya dalam Media Briefing di Jakarta, Jumat (24/4).

Purbaya juga menyoroti bahwa imbauan dari pihak luar, termasuk dari pemerintah negara asal perusahaan, tidak selalu efektif di lapangan.

Ia menyinggung pernyataan Duta Besar China yang sebelumnya menyatakan akan mendorong perusahaan-perusahaan asal negaranya untuk patuh, namun realisasinya dinilai belum optimal.

“Rupanya di lapangan tergantung duit. Kalau untung dia akan langgar terus, kalau gak ada penindakan, dia akan langgar terus,” katanya.

Untuk itu, Kementerian Keuangan akan membentuk tim khusus yang melibatkan Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Tim ini rencananya akan berada langsung di bawah koordinasi inspektorat jenderal atau pejabat tinggi seperti sekretaris jenderal guna memastikan independensi dan efektivitas penindakan. Tim Khusus tersebut juga rencananya akan dibawahi langsung oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg).

Ia mengindikasikan adanya potensi perlindungan di level operasional yang membuat penanganan kasus tidak optimal. Karena itu, pembentukan tim khusus diharapkan dapat memotong hambatan tersebut.

“Jadi kalau dikasih ke orang pajak yang di situ aja sepertinya dilindungin juga itu kelihatannya,” tegas Purbaya. (ds)

Menkeu Purbaya Pertimbangkan Perpanjang Batas Lapor SPT Badan

IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keluhan terhadap sistem administrasi perpajakan Coretax mulai berkurang, namun pemerintah tetap mempertimbangkan kemungkinan perpanjangan batas waktu pelaporan SPT Tahunan Badan.

Purbaya mengaku memantau langsung perkembangan keluhan wajib pajak, termasuk dari media sosial. Ia menyebut intensitas komplain menurun dibandingkan sebelumnya, meski masih ada sebagian pengguna yang mengalami kendala.

“Kalau saya monitor dari TikTok, sudah berkurang banyak yang komplain. Berarti masih ada sebagian orang yang keganggu,” ujar Purbaya dalam Media Briefing, Jumat (24/4).

Ia menjelaskan, gangguan yang sempat terjadi umumnya berupa kesalahan berulang dalam sistem, yang membuat pengguna seperti terjebak dalam proses berputar.

Pemerintah telah mengambil langkah perbaikan, termasuk menonaktifkan akses dari penyedia jasa tertentu yang diduga menjadi sumber masalah.

“Harusnya sekarang sudah lebih bagus karena sudah kita matikan akses ke service itu. Tapi sempat ada orang dalam yang menghidupkan lagi, jadi terjadi muter-muter,” katanya.

Seiring dengan perbaikan tersebut, Kementerian Keuangan kini menimbang apakah perlu memberikan tambahan waktu bagi wajib pajak badan dalam menyampaikan SPT Tahunan. Masa pelaporan sendiri disebut sudah mendekati batas akhir.

Menurut Purbaya, keputusan akan diambil setelah evaluasi dalam waktu dekat. Jika perpanjangan diberikan, durasinya tidak akan panjang.

“Kita akan evaluasimungkin minggu depan lah. Seperti apa keadaannya. Kalau kita perpanjang, kita perpanjang sedikit, jangan panjang-panjang,” imbuh Purbaya. (ds)

Dari Bitung ke Jakarta, Ketum IKPI Matangkan Wacana Pembentukan Pengda Suluttenggo Malut

IKPI, Jakarta: Wacana pembentukan Pengurus Daerah (Pengda) baru di tubuh Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) kian menguat. Dalam pertemuan yang digelar di AEON Mall Jakarta Timur pada Senin (20/4/2026) malam, Ketua Umum IKPI Vaudy Starworld menegaskan bahwa organisasi siap melangkah lebih jauh untuk memperkuat struktur di kawasan timur Indonesia.

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari surat resmi yang sebelumnya dikirim oleh Pengurus Cabang (Pengcab) Bitung kepada Pengurus Pusat. Dalam surat itu, Pengcab Bitung mengusulkan pembentukan Pengda baru yang mencakup wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Maluku Utara (Suluttenggo Malut).

Turut hadir dalam diskusi tersebut Ketua Pengcab Bitung Denny Makisanti dan Bendahara Pengcab Bitung Abu Hasan. Ketiganya membahas secara intens urgensi pembentukan Pengda baru yang dinilai semakin mendesak.

Vaudy menyampaikan bahwa cakupan wilayah yang saat ini ditangani Pengda Sulawesi Maluku dan Papua sudah terlalu luas. Kondisi tersebut dinilai kurang ideal untuk mendorong efektivitas organisasi, terutama dalam pelayanan kepada anggota dan pelaksanaan program kerja di daerah.

“Sudah waktunya melahirkan Pengda Suluttenggo Malut. Wilayahnya luas, tantangannya besar, dan membutuhkan fokus tersendiri agar roda organisasi bisa berjalan optimal,” ujar Vaudy, Sabtu (25/4/2026).

Lebih lanjut, ia juga menyoroti adanya tiga kantor wilayah (kanwil) di kawasan tersebut yang menjadi indikator kuat bahwa struktur organisasi perlu disesuaikan. Menurutnya, secara ideal, selain Pengda Suluttenggo Malut, ke depan juga dapat dipertimbangkan pembentukan Pengda tersendiri untuk wilayah Papua dan Maluku.

“Dengan struktur yang lebih proporsional, kita bisa memperkuat koordinasi, meningkatkan kualitas layanan kepada anggota, dan mempercepat program-program strategis IKPI di daerah,” tambahnya.

Vaudy juga mencontohkan keberhasilan pembentukan Pengda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang lahir pada akhir 2024. Ia menilai Pengda DIY mampu menunjukkan kinerja yang aktif dan produktif dalam menjalankan roda organisasi, sehingga menjadi model yang bisa direplikasi di wilayah lain.

Pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa IKPI tengah bersiap melakukan konsolidasi organisasi secara lebih serius, khususnya di kawasan timur Indonesia. Jika terealisasi, pembentukan Pengda Suluttenggo Malut diharapkan tidak hanya memperkuat struktur internal, tetapi juga meningkatkan peran IKPI dalam mendukung sistem perpajakan nasional secara lebih merata. (bl)

Di Forum IKPI, Hadi Poernomo Soroti Penguatan Sistem Pajak

IKPI, Jakarta: Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menggelar forum diskusi terbatas di The Dharmawangsa Jakarta pada Jumat (24/6/2026). Kegiatan ini dihadiri secara terbatas oleh Ketua Umum IKPI Vaudy Starworld beserta jajaran pengurus pusat, dewan kehormatan, dewan penasehat, serta anggota kehormatan IKPI.

Dalam forum tersebut, Mantan Direktur Jenderal Pajak Hadi Poernomo atau yang akrab disapa Pung, menyoroti pentingnya penguatan sistem perpajakan nasional berbasis data dan teknologi.

Dalam paparannya, Pung menegaskan bahwa fondasi sistem perpajakan Indonesia sebenarnya telah tersedia sejak lama. Namun demikian, implementasi yang belum optimal membuat potensi penerimaan negara belum tergarap secara maksimal.

“Sebetulnya sistemnya sudah ada. Tinggal bagaimana kita menjalankan secara konsisten dan memanfaatkan data yang tersedia,” ujar Pung di hadapan peserta forum.

Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini menjelaskan, bahwa penguatan sistem pajak tidak bisa dilepaskan dari integrasi data lintas sektor. Menurutnya, data dari berbagai instansi mulai dari perbankan, pertanahan, hingga aktivitas usaha perlu dihubungkan dalam satu ekosistem perpajakan yang saling terintegrasi.

“Kalau data itu terhubung dan dilakukan link and match, maka transparansi akan terbentuk dengan sendirinya. Dari situ kepatuhan akan meningkat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Pung juga menyoroti pentingnya penguatan mekanisme pengawasan dalam sistem self-assessment. Ia menilai, sistem tersebut tetap relevan, namun memerlukan dukungan monitoring berbasis teknologi agar berjalan lebih efektif.

“Self-assessment itu tetap dipakai, tetapi harus ada monitoring. Tanpa pengawasan, sulit mengandalkan kepatuhan,” tegasnya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya sinkronisasi antara regulasi di tingkat undang-undang dengan aturan turunannya. Menurutnya, keselarasan regulasi akan memberikan kepastian hukum sekaligus memudahkan implementasi di lapangan.

Dalam kesempatan tersebut, Pung juga memaparkan empat langkah strategis atau quick wins yang dinilai dapat segera dilakukan untuk memperkuat sistem perpajakan nasional.

Pertama, adanya political will atau komitmen kuat dari pemerintah untuk menjalankan sistem secara konsisten. Kedua, pelurusan regulasi, terutama aturan turunan agar selaras dengan undang-undang.

Ketiga, integrasi data nasional melalui mekanisme link and match antar instansi. Keempat, aktivasi sistem pengawasan berbasis digital agar monitoring dapat berjalan otomatis.

Ia optimistis, dengan langkah-langkah tersebut, sistem perpajakan Indonesia dapat berjalan lebih efektif dan mampu meningkatkan rasio penerimaan negara secara berkelanjutan.

Diskusi yang berlangsung secara terbatas itu menjadi ruang pertukaran gagasan internal IKPI dalam merumuskan kontribusi pemikiran terhadap penguatan sistem perpajakan nasional ke depan. (bl)

 

Baru Dua Perusahaan Disasar, Purbaya Janji Gebuk Pelanggar Pajak

IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah akan memperketat penegakan hukum terhadap perusahaan yang terbukti tidak patuh pajak, termasuk praktik manipulasi nilai ekspor atau under-invoicing.

Purbaya menyebut kebijakan perpajakan saat ini tetap dijalankan sebagaimana aturan yang berlaku. Namun, fokus utama pemerintah adalah memperkuat penindakan terhadap pelanggaran yang disengaja oleh pelaku usaha.

“Kita akan jalankan pendeketan hukum. Kalau perusahaan-perusahaan yang salah melaporkan dengan sengaja, under-invoicing export, itu yang kita jalankan,” ujar Purbaya dalam Media Briefing di Jakarta, Jumat (24/4).

Ia mengungkapkan, sejumlah sektor menjadi sorotan, terutama industri baja dan perusahaan konstruksi yang diduga menjalankan praktik bisnis tidak sesuai ketentuan.

Bahkan, dari laporan yang diterimanya, terdapat sekitar 40 perusahaan baja yang masih beroperasi meski tidak membayar pajak sebagaimana mestinya.

“Kita akan kejar lagi. Baru dikejar dua, rupanya belum cukup tegas tindakannya. Saya dapat laporan perusahaan-perusahaan baja yang 40 (jumlahnya) yang menjalankan bisnis tanpa membayar pajak semestinya,” katanya.

Menurutnya, langkah penindakan yang sudah dilakukan sebelumnya belum memberikan efek jera. Hal ini terlihat dari masih adanya perusahaan yang tetap beroperasi seperti biasa meskipun telah masuk dalam pengawasan pemerintah.

Purbaya juga menyinggung keterlibatan sejumlah perusahaan asing, khususnya yang berasal dari China, dalam aktivitas bisnis di Indonesia.

Ia mengaku telah menyampaikan langsung kepada perusahaan-perusahaan besar asal negeri tersebut agar menjalankan usaha secara adil dan sesuai aturan yang berlaku.

Namun demikian, jika imbauan tersebut tidak diindahkan, pemerintah tidak akan ragu mengambil langkah lebih keras. (ds)

Menkeu Purbaya Pastikan Insentif Motor Listrik Berlanjut Tahun Ini

IKPI, Jakarta: Pemerintah kembali membuka peluang menghidupkan insentif pembelian motor listrik pada 2026.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan program subsidi tersebut sedang disiapkan untuk digulirkan lagi, dengan nilai bantuan yang diperkirakan sekitar Rp 5 juta per unit.

Purbaya menjelaskan bahwa skema subsidi tidak akan diberikan sekaligus, melainkan dilakukan secara bertahap. Ia menekankan bahwa kebijakan ini masih dalam tahap perumusan awal, meski sudah dibahas lintas kementerian.

“Tahun ini (ada subsidi motor listrik). Ya enggak semuanya, bertahaplah. Subsidi mungkin Rp 5 juta per motor atau lebih,” ujar Purbaya dalam Media Briefing di Jakarta, Jumat (24/4).

Rencana tersebut, lanjutnya, telah dikomunikasikan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan memperoleh sinyal persetujuan dari Presiden Prabowo Subianto, dengan catatan ketersediaan anggaran menjadi faktor penentu pelaksanaan.

“Saya sudah diskusi dengan Pak Airlangga juga. Dia setuju dengan jumlah yang nanti diatur-aturkan. Saya sudah minta tanggapan Pak Presiden juga, beliau sudah memberi petunjuk. Jalankan kalau anggarannya ada,” katanya.

Meski demikian, detail teknis program, termasuk jumlah unit yang akan menerima subsidi, masih menunggu pembahasan lebih lanjut bersama Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Pemerintah berencana mematangkan skema tersebut sebelum kembali dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Sebagai informasi, program subsidi motor listrik sebelumnya pernah dijalankan pemerintah melalui regulasi Kementerian Perindustrian pada 2023.

Saat itu, bantuan sebesar Rp 7 juta per unit diberikan kepada masyarakat yang memenuhi syarat melalui platform resmi Sisapira, dengan ketentuan satu nomor induk kependudukan (NIK) hanya dapat digunakan untuk satu unit kendaraan. (ds)

Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat Ekonomi Domestik untuk Redam Dampak Kenaikan Avtur

IKPI, Jakarta: Pemerintah resmi memberikan insentif pajak berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah (DTP) untuk tiket pesawat kelas ekonomi domestik.

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 24 Tahun 2026 yang ditetapkan pada 21 April 2026.

Kebijakan tersebut diambil sebagai respons atas kenaikan harga avtur yang berpotensi menekan daya beli masyarakat. Dengan adanya insentif ini, pemerintah berharap harga tiket pesawat, khususnya kelas ekonomi, dapat tetap terjangkau.

“Bahwa untuk menjaga daya beli masyarakat sebagai respons terhadap kenaikan harga avtur, pemerintah memberikan insentif pajak pertambahan nilai atas penyerahan jasa angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi yang ditanggung pemerintah tahun anggaran 2026,” dikutip dari beleid tersebut, Satu (25/4).

Dalam aturan tersebut, PPN atas jasa angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri kelas ekonomi tetap terutang, namun seluruhnya ditanggung pemerintah sebesar 100% selama tahun anggaran 2026.

PPN yang ditanggung mencakup komponen tarif dasar (base fare) dan fuel surcharge. Namun, insentif ini tidak berlaku untuk seluruh transaksi.

Pemerintah menetapkan bahwa fasilitas PPN DTP hanya diberikan untuk pembelian tiket dan periode penerbangan dalam jangka waktu 60 hari sejak aturan mulai berlaku. Selain itu, fasilitas hanya berlaku untuk penerbangan kelas ekonomi.

Maskapai sebagai Pengusaha Kena Pajak tetap diwajibkan membuat faktur pajak atau dokumen setara serta melaporkan transaksi dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN. Mereka juga harus menyampaikan rincian transaksi secara elektronik kepada Direktorat Jenderal Pajak paling lambat 31 Juli 2026.

Apabila ketentuan tidak dipenuhi, misalnya pembelian tiket di luar periode insentif atau pelaporan tidak sesuai, maka PPN tetap dipungut dari penumpang sesuai aturan perpajakan yang berlaku.

Melalui kebijakan ini, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga transportasi udara sekaligus melindungi daya beli masyarakat di tengah tekanan biaya operasional maskapai akibat lonjakan harga bahan bakar. (ds)

Sejumlah Masukan Mengemuka, Praktisi IKPI Soroti Implementasi Coretax Saat Lapor SPT

IKPI, Jakarta: Sejumlah masukan dari praktisi perpajakan mengemuka di tengah berlangsungnya musim pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan. Para anggota Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) di berbagai daerah menyampaikan bahwa implementasi sistem Coretax masih menghadapi sejumlah tantangan teknis dan administratif yang berdampak langsung pada kelancaran pelaporan wajib pajak.

Masukan tersebut berasal dari anggota yang dihimpun melalui pengurus cabang masing-masing, mencerminkan pengalaman riil para konsultan pajak yang mendampingi wajib pajak orang pribadi maupun badan. Dalam periode pelaporan yang padat, stabilitas sistem menjadi krusial, sehingga setiap gangguan berpotensi memperlambat proses kepatuhan.

Ketua IKPI Cabang Sidoarjo, Budi Tjiptono, mengungkapkan bahwa salah satu kendala paling mendasar adalah hilangnya data yang telah diinput. Ia menyebut, dalam sejumlah kasus, data yang sudah disimpan tidak muncul kembali saat dibuka ulang. “Akibatnya praktisi harus mengulang input dari awal, terutama untuk SPT dengan transaksi besar yang kompleks,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Selain itu, proses penyimpanan dan posting juga kerap mengalami kegagalan. Sistem disebut menampilkan berbagai notifikasi error, sehingga pengguna harus berulang kali melakukan refresh. Dalam kondisi tertentu, perpindahan menu justru membuat seluruh isian kembali kosong karena tidak berhasil tersimpan.

Wakil Ketua IKPI Cabang Sidoarjo, Tonny Poernomo, menambahkan bahwa persoalan integrasi data masih menjadi tantangan. Data prepopulated seperti setoran PPh Final dan PPh Pasal 25 tidak selalu muncul atau tidak sesuai dengan nilai riil yang telah dibayarkan. Bahkan, bukti potong dari pihak ketiga dalam beberapa kasus tidak terintegrasi, sehingga menyulitkan proses rekonsiliasi fiskal.

Ia juga menyoroti performa sistem yang belum stabil. Akses Coretax disebut sering lambat, bahkan sulit dibuka pada waktu-waktu tertentu. “Ada kondisi di mana sistem hanya bisa diakses menggunakan jaringan tertentu, sementara pada jaringan lain tidak bisa digunakan. Ini tentu menyulitkan dalam praktik,” jelasnya.

Lebih jauh, kendala juga muncul pada pengelolaan data dalam lampiran SPT. Praktisi menemukan kasus data pemegang saham muncul ganda, susunan pengurus tidak sinkron antara profil dan lampiran, hingga aset penyusutan yang tidak sesuai dan tidak dapat dihapus. Pada wajib pajak dengan volume transaksi besar, proses impor data seperti penyusutan, natura, maupun daftar nominatif juga kerap mengalami kegagalan atau lag.

Keluhan serupa juga disampaikan Ketua IKPI Cabang Palembang, Susanti, yang menampung aspirasi anggotanya. Ia menyebut permasalahan pada tahap penyimpanan data masih menjadi hambatan utama. “Setelah input data SPT Tahunan, saat akan disimpan sering muncul berbagai pesan kegagalan. Akhirnya harus input ulang, ini cukup menyita waktu,” ungkapnya.

Selain itu, ia menyoroti bahwa data pemilik modal atau pemegang saham sering kali tidak muncul di lampiran L2, sehingga praktisi harus terus melakukan pembaruan manual. Kondisi ini dinilai tidak efisien, terutama untuk perusahaan dengan struktur kepemilikan yang dinamis.

Dari sisi fitur, anggota IKPI Palembang juga memberikan sejumlah masukan konstruktif. Salah satunya terkait SPT dengan status kurang bayar (KB), yang diharapkan tetap dapat dilaporkan tanpa harus menunggu NTPN, dengan mekanisme penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP) sebagaimana praktik pada PPh Pasal 25.

Selain itu, muncul pula usulan agar Coretax menyediakan opsi pengisian secara offline seperti aplikasi e-SPT sebelumnya. Dengan skema tersebut, pengisian dapat dilakukan secara lebih stabil, kemudian cukup diunggah saat pelaporan. “Kalau bisa seperti e-SPT dulu, ada aplikasi yang bisa dipakai offline dan hasilnya bisa dicetak rapi,” kata Susanti menyampaikan aspirasi anggota.

Masukan lain menyentuh aspek perhitungan pajak. Praktisi menemukan adanya perbedaan pembulatan dalam perhitungan PPh Badan tarif Pasal 31E. Jika sebelumnya dibulatkan dalam satuan rupiah, pada Coretax pembulatan dilakukan dalam ribuan rupiah, sementara perhitungan angsuran tetap menggunakan satuan rupiah. Perbedaan ini dinilai menimbulkan inkonsistensi dalam perhitungan.

Selain itu, mekanisme administrasi atas kesalahan pembayaran angsuran juga menjadi perhatian. Dalam kondisi tertentu, kelebihan pembayaran yang tidak digunakan dalam SPT Tahunan harus direstitusi terlebih dahulu sebelum pelaporan. Jika tidak, nilai tersebut akan otomatis masuk sebagai lebih bayar dalam SPT dan tidak dapat lagi direstitusikan secara terpisah.

Secara umum, praktisi juga mencatat belum optimalnya fitur pendukung, seperti belum tersedianya converter data bukti potong dalam jumlah besar, belum adanya rekonsiliasi otomatis antara laporan komersial dan fiskal, serta belum konsistennya keterkaitan antara data di lampiran dan induk SPT yang kerap berubah setelah dilakukan pengeditan.

Meski sejumlah keluhan mengemuka, para praktisi tetap menilai Coretax sebagai bagian penting dari transformasi digital perpajakan. Sistem ini diharapkan menjadi fondasi integrasi data dan peningkatan kepatuhan di masa depan.

Oleh karena itu, IKPI mendorong agar penyempurnaan dilakukan secara cepat dan berkelanjutan, terutama pada aspek stabilitas sistem, akurasi data, dan kesiapan fitur. Dengan dukungan perbaikan yang responsif serta komunikasi yang intens antara otoritas dan praktisi, implementasi Coretax diharapkan dapat semakin optimal dan memberikan kemudahan bagi wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan. (bl)

IKPI Kota Malang Bersama Universitas Gajayana Dorong Kepatuhan Pajak di Lingkungan Kampus

IKPI, Kota Malang: Upaya meningkatkan kepatuhan pajak di kalangan akademisi terus diperkuat. Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Kota Malang menggandeng Tax Center Universitas Gajayana Malang dalam kegiatan sosialisasi pengisian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Orang Pribadi (OP) yang digelar, Senin (6/4/2026).

Kegiatan yang diikuti oleh 23 peserta ini terdiri dari masyarakat umum dan dosen di lingkungan civitas akademika. Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari edukasi perpajakan yang bertujuan meningkatkan pemahaman sekaligus kepatuhan dalam pelaporan pajak tahunan.

Ketua IKPI Cabang Kota Malang, Ahmad Dahlan, menekankan bahwa lingkungan kampus memiliki peran strategis dalam membangun budaya sadar pajak. Menurutnya, dosen dan akademisi tidak hanya sebagai wajib pajak, tetapi juga agen literasi yang dapat menyebarkan pemahaman perpajakan kepada masyarakat luas.

(Foto: DOK. IKPI Cabang Kota Malang)

“Melalui kolaborasi ini, kami ingin mendorong agar kepatuhan pajak tumbuh dari lingkungan kampus. Dosen dan civitas akademika diharapkan bisa menjadi contoh sekaligus penyambung informasi yang benar kepada masyarakat,” ujar Dahlan, Jumat (24/6/2026).

Ia menjelaskan, masih terdapat tantangan dalam pelaporan SPT Tahunan OP, khususnya terkait pemahaman teknis pengisian dan interpretasi aturan perpajakan. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi dirancang secara praktis dengan pendekatan langsung agar peserta dapat memahami proses pelaporan secara menyeluruh.

Dalam sesi edukasi, peserta diberikan panduan lengkap mulai dari pengenalan jenis formulir SPT, cara melaporkan penghasilan, hingga penghitungan pajak terutang. Selain itu, penggunaan sistem pelaporan elektronik juga menjadi bagian penting yang dijelaskan secara rinci guna mempermudah wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya.

Ahmad Dahlan juga menilai keberadaan Tax Center di perguruan tinggi merupakan mitra penting dalam menyebarluaskan edukasi perpajakan. Dengan dukungan institusi akademik, kegiatan sosialisasi dinilai lebih efektif dalam menjangkau kelompok intelektual yang memiliki pengaruh luas.

“Kami berharap sinergi ini dapat terus berlanjut, tidak hanya dalam bentuk sosialisasi, tetapi juga pelatihan dan pendampingan perpajakan secara berkelanjutan,” katanya.

Melalui kegiatan ini, IKPI Kota Malang bersama Universitas Gajayana menegaskan komitmennya dalam memperkuat literasi dan kepatuhan pajak. Kolaborasi antara organisasi profesi dan dunia pendidikan diharapkan mampu menciptakan ekosistem perpajakan yang lebih sadar, tertib, dan berkelanjutan. (bl)

Pajak Kendaraan Listrik antara Insentif dan Keadilan Fiskal

Perkembangan kebijakan pajak kendaraan listrik di Indonesia memasuki babak baru. Pemerintah kini tidak lagi hanya berbicara tentang insentif untuk mendorong adopsi, tetapi juga mulai menata ulang posisi kendaraan listrik dalam sistem perpajakan nasional dan daerah.

Melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 2026, kendaraan listrik resmi dimasukkan sebagai objek pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB). Kebijakan ini menandai perubahan penting dari sebelumnya lebih dominan sebagai objek insentif, kini kendaraan listrik juga menjadi bagian dari basis pajak daerah.

Namun demikian, perubahan ini tidak serta-merta menghapus semangat insentif. Dalam beberapa kesempatan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa besaran pajak yang dikenakan tetap sangat fleksibel, bahkan dapat mencapai nol rupiah tergantung kebijakan masing-masing daerah. Fleksibilitas ini secara eksplisit diakomodasi dalam ketentuan pasal 19 regulasi tersebut.

Pendekatan ini menunjukkan adanya upaya pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara dua kepentingan besar, mendorong percepatan kendaraan listrik dan tetap memberi ruang bagi daerah dalam mengelola fiskalnya. Di atas kertas, desain ini tampak ideal karena memberikan otonomi sekaligus arah kebijakan nasional.

Namun, di titik inilah kompleksitas mulai muncul. Ketika kewenangan diberikan kepada daerah untuk menentukan besaran pajak, maka kebijakan yang dihasilkan berpotensi menjadi sangat beragam. Satu daerah dapat memberikan insentif maksimal, sementara daerah lain memilih tetap memungut pajak demi menjaga penerimaan.

Dinamika ini mulai terlihat dari pernyataan Dedi Mulyadi kepada media baru-baru ini, yang menegaskan bahwa kendaraan listrik tetap harus menjadi objek pajak daerah. Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kebijakan ini bukan semata soal pajak, tetapi menyangkut keberlanjutan pembiayaan pembangunan.

Argumen yang disampaikan cukup sederhana namun mendasar, yakni kendaraan listrik tetap menggunakan jalan yang sama dengan kendaraan konvensional. Oleh karena itu, kontribusi terhadap pembiayaan infrastruktur publik dinilai tetap relevan. Pajak kendaraan bermotor selama ini menjadi salah satu tulang punggung pendapatan daerah untuk membiayai jalan, jembatan, dan fasilitas transportasi lainnya.

Dalam perspektif ini, penghapusan atau penurunan pajak secara ekstrem justru berpotensi menimbulkan risiko fiskal. Terlebih, daerah juga menghadapi ketidakpastian dari sisi dana transfer pusat, termasuk potensi keterlambatan dana bagi hasil pajak. Kombinasi keduanya dapat mengganggu stabilitas anggaran daerah.

Di sisi lain, pendekatan pemerintah pusat yang memberikan fleksibilitas kepada daerah juga memiliki rasionalitas tersendiri. Tidak semua daerah memiliki kapasitas fiskal yang sama, dan tidak semua daerah berada pada tahap yang sama dalam adopsi kendaraan listrik. Dengan demikian, kebijakan yang seragam justru bisa menjadi tidak efektif.

Namun, fleksibilitas ini juga membawa konsekuensi terhadap prinsip keadilan fiskal. Ketika satu jenis kendaraan dikenai pajak berbeda di tiap daerah, maka muncul potensi ketimpangan beban antarwilayah. Masyarakat di daerah tertentu dapat menikmati insentif besar, sementara di daerah lain tetap membayar pajak secara penuh.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menciptakan fragmentasi kebijakan. Pilihan fiskal daerah tidak hanya mencerminkan strategi pembangunan, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku ekonomi masyarakat, termasuk keputusan dalam membeli kendaraan.

Di sisi lain, perlu diakui bahwa kebijakan insentif kendaraan listrik sejak awal memang tidak sepenuhnya netral. Insentif tersebut dirancang untuk mendorong perubahan perilaku menuju penggunaan energi yang lebih bersih. Dalam konteks ini, perbedaan perlakuan pajak dapat dibenarkan sebagai bentuk intervensi kebijakan.

Namun, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, sampai sejauh mana insentif tersebut perlu dipertahankan? Dan kapan kendaraan listrik mulai diperlakukan setara dengan kendaraan lainnya dalam sistem perpajakan?

Di sinilah pentingnya melihat kebijakan ini dalam kerangka transisi. Insentif seharusnya bersifat sementara dan terukur, bukan permanen. Ketika adopsi kendaraan listrik telah mencapai titik tertentu, maka penyesuaian kebijakan menjadi hal yang tidak terhindarkan.

Pendekatan yang dilakukan saat ini, adalah menjadikan kendaraan listrik sebagai objek pajak namun tetap membuka ruang insentif dapat dipahami sebagai bentuk kompromi kebijakan. Pemerintah tidak sepenuhnya menarik insentif, tetapi juga tidak lagi menempatkan kendaraan listrik di luar sistem pajak.

Meski demikian, keberhasilan pendekatan ini sangat bergantung pada koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Tanpa arah yang jelas, fleksibilitas dapat berubah menjadi inkonsistensi. Perbedaan kebijakan yang terlalu lebar berpotensi menimbulkan ketidakpastian bagi masyarakat maupun pelaku industri.

Selain itu, transparansi dalam penetapan kebijakan daerah juga menjadi kunci. Masyarakat perlu memahami alasan di balik besaran pajak yang ditetapkan, apakah untuk mendorong adopsi kendaraan listrik atau untuk menjaga keberlanjutan fiskal daerah.

Dalam konteks yang lebih luas, kebijakan pajak kendaraan listrik sebenarnya mencerminkan tantangan klasik dalam kebijakan publik, bagaimana menyeimbangkan antara tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Insentif diperlukan untuk mendorong perubahan, tetapi keberlanjutan fiskal juga tidak boleh diabaikan.

Pendekatan yang diambil oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat menunjukkan bahwa perspektif daerah tidak selalu sejalan dengan semangat insentif penuh. Ada kebutuhan nyata untuk menjaga penerimaan agar pembangunan tetap berjalan. Di sisi lain, pemerintah pusat tetap mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik sebagai bagian dari agenda nasional.

Perbedaan ini tidak selalu harus dilihat sebagai konflik, melainkan sebagai dinamika yang perlu dikelola. Justru dari sinilah dapat lahir kebijakan yang lebih seimbang, yang tidak hanya mendorong pertumbuhan kendaraan listrik, tetapi juga menjaga keadilan fiskal.

Pada akhirnya, arah kebijakan pajak kendaraan listrik di Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan untuk mengelola keseimbangan tersebut. Insentif dan keadilan fiskal bukanlah dua hal yang saling meniadakan, tetapi dua sisi yang harus berjalan beriringan.

Sebab, keberhasilan transisi menuju kendaraan listrik tidak hanya diukur dari jumlah kendaraan yang beredar, tetapi juga dari kemampuan sistem fiskal untuk tetap adil, berkelanjutan, dan mampu mendukung pembangunan di seluruh daerah.

Penulis adalah anggota Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Kota Bekasi

Novita Rosdiana
Email: vitarosdiana@gmail.com

Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis

id_ID