Kurban Perdana IKPI Perkuat Solidaritas Anggota Jelang HUT ke-61

IKPI, Jakarta: Perayaan Iduladha 1447 Hijriah tahun ini menjadi momen istimewa bagi Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI). Untuk pertama kalinya, organisasi profesi konsultan pajak tersebut menggelar kegiatan kurban bersama di kantor pusat IKPI di Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis (28/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, IKPI menyembelih satu ekor sapi berbobot sekitar 450 kilogram serta enam hewan kurban lainnya yang terdiri atas empat domba dan dua kambing.

Ketua Umum IKPI Vaudy Starworld mengatakan kegiatan kurban perdana tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kebersamaan dan kepedulian sosial di lingkungan organisasi.

(Foto: Departemen Humas PP-IKPI/Bayu Legianto)

“Alhamdulillah tahun ini IKPI dapat melaksanakan kurban bersama untuk pertama kalinya di kantor pusat. Kami berharap kegiatan ini menjadi tradisi baik yang terus mempererat solidaritas dan semangat berbagi di lingkungan IKPI,” ujar Vaudy.

Menurutnya, momentum Iduladha juga menjadi pengingat penting bahwa organisasi profesi harus mampu menghadirkan manfaat sosial bagi masyarakat di sekitarnya.

Wakil Sekretaris Umum IKPI Novalina Magdalena mengatakan pelaksanaan kurban perdana ini bukan sekadar kegiatan seremonial keagamaan, tetapi juga menjadi simbol tumbuhnya solidaritas dan kebersamaan di lingkungan IKPI.

“Momentum Iduladha mengajarkan nilai kebersamaan dan kepedulian. Kami bersyukur tahun ini IKPI dapat melaksanakan kurban bersama untuk pertama kalinya di kantor pusat,” ujar Novalina.

Selain menjabat sebagai Wakil Sekretaris Umum IKPI, Novalina juga merupakan Ketua Panitia Hari Ulang Tahun (HUT) IKPI ke-61. Menurutnya, kegiatan kurban bersama tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT IKPI yang tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan kebersamaan dan sosial.

Sebelum pelaksanaan kurban, IKPI juga telah menggelar perayaan Paskah bersama di kantor pusat IKPI, Pejaten. Novalina menilai rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dan toleransi yang terus dijaga di lingkungan organisasi.

“Kami ingin perayaan HUT IKPI tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menghadirkan kegiatan yang mempererat kebersamaan dan membawa manfaat sosial,” katanya.

Menurut Novalina, tingginya partisipasi pengurus dan anggota menunjukkan semangat gotong royong yang terus tumbuh di lingkungan organisasi. Ia berharap kegiatan sosial seperti ini dapat semakin mempererat hubungan antaranggota IKPI di berbagai daerah.

Proses pemotongan hewan kurban dilakukan secara bersama-sama oleh pengurus dan anggota IKPI. Suasana kekeluargaan terlihat sejak persiapan hingga pengemasan daging kurban.

Daging kurban selanjutnya akan dibagikan kepada masyarakat di sekitar kantor pusat IKPI serta pihak-pihak yang membutuhkan sebagai bentuk kepedulian sosial dalam menyambut Iduladha 2026.

Novalina berharap kegiatan kurban bersama ini dapat menjadi tradisi tahunan IKPI dan terus berkembang pada masa mendatang, baik dari sisi partisipasi maupun manfaat sosial yang diberikan kepada masyarakat.

“Kami ingin kehadiran IKPI tidak hanya dirasakan dalam bidang profesi perpajakan, tetapi juga melalui kontribusi sosial yang nyata bagi masyarakat,” tuturnya. (bl)

Apakah AI Akan Menggantikan Konsultan Pajak?

Beberapa tahun lalu, ancaman terbesar bagi profesi konsultan pajak mungkin adalah perubahan regulasi yang terlalu cepat. Hari ini ancamannya terdengar berbeda, Artificial Intelligence (AI).

Pertanyaannya semakin sering muncul di seminar, ruang diskusi, hingga meja rapat kantor konsultan pajak, apakah AI akan menggantikan konsultan pajak?

Kekhawatiran tersebut bukan sesuatu yang berlebihan. Saat ini berbagai platform AI sudah mampu menyusun ringkasan aturan perpajakan, membuat draft surat, membantu riset, merangkum putusan, bahkan menjawab pertanyaan teknis dalam hitungan detik. Tugas yang dahulu membutuhkan waktu beberapa jam kini dapat selesai dalam hitungan menit.

Lalu muncul kekhawatiran baru. Jika mesin dapat membaca aturan, menyusun analisis, dan memberi jawaban, apakah profesi konsultan pajak sedang menuju akhir zaman?

Jawabannya mungkin justru sebaliknya. Yang sedang menuju akhir bukan profesi konsultan pajaknya, melainkan cara lama menjadi konsultan pajak.

Selama ini sebagian pekerjaan praktisi perpajakan masih berkutat pada aktivitas yang bersifat administratif dan repetitif, mencari aturan, membuat ringkasan, menyusun rekonsiliasi, menyiapkan dokumen, atau melakukan pengecekan data. Area inilah yang memang paling mudah disentuh AI.

Berbagai kajian mengenai penggunaan AI di bidang perpajakan menunjukkan bahwa teknologi semakin efektif membantu riset, layanan wajib pajak, pengolahan data, dan pengurangan biaya kepatuhan. Namun penggunaan AI tetap memerlukan pengawasan manusia, pertimbangan profesional, dan aspek etika yang tidak dapat digantikan sepenuhnya. (Pajak Go)

Di Indonesia, perubahan tersebut terasa semakin nyata. Reformasi administrasi perpajakan melalui sistem Coretax mendorong pengelolaan data yang lebih terintegrasi dan pengawasan yang semakin berbasis informasi. Dalam ekosistem seperti ini, kemampuan mengolah dan membaca data menjadi semakin penting dibanding sekadar kemampuan menghafal aturan.

Di masa lalu, nilai seorang konsultan pajak mungkin diukur dari seberapa banyak pasal yang dihafal. Hari ini, AI bahkan bisa membaca ribuan halaman aturan dalam hitungan detik. Tetapi persoalan perpajakan di dunia nyata hampir tidak pernah sesederhana pertanyaan dan jawaban.

Klien tidak datang hanya untuk bertanya, “Berapa tarif pajaknya?”. Mereka datang dengan persoalan yang jauh lebih rumit.

Bagaimana dampak transaksi terhadap risiko pemeriksaan? Bagaimana struktur bisnis yang tepat? Apakah ada konsekuensi perpajakan yang tersembunyi? Bagaimana menghadapi sengketa? Apakah langkah yang diambil tetap aman secara hukum?

Di titik inilah manusia masih memegang peran yang sangat besar.

Perpajakan tidak hanya berbicara mengenai angka. Perpajakan berbicara mengenai konteks, interpretasi, pertimbangan bisnis, risiko hukum, negosiasi, bahkan psikologi manusia.

AI dapat membaca aturan. Tetapi AI belum memiliki pengalaman menghadapi pemeriksaan pajak yang alot. AI tidak memiliki intuisi saat membaca arah argumentasi lawan dalam sengketa. AI juga tidak memiliki tanggung jawab profesional ketika suatu pendapat pajak menimbulkan risiko hukum di kemudian hari.

Justru tantangan terbesar profesi konsultan pajak saat ini bukanlah digantikan AI. Tantangan sebenarnya adalah digantikan oleh konsultan pajak lain yang menggunakan AI lebih baik.

Karena ke depan, kompetisi tidak lagi hanya terjadi antara manusia melawan mesin. Kompetisi akan bergeser menjadi manusia yang menggunakan teknologi melawan manusia yang tidak menggunakannya.

Profesi konsultan pajak tampaknya sedang memasuki fase evolusi baru. Tugas-tugas rutin perlahan akan diotomatisasi, sementara peran strategis akan semakin meningkat. Sejumlah kajian internasional bahkan menunjukkan bahwa profesi perpajakan dan akuntansi bergerak dari sekadar pekerjaan kepatuhan menuju layanan berbasis advisory dan analisis strategis. (Global)

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya diajukan mungkin bukan lagi: “Apakah AI akan menggantikan konsultan pajak?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah konsultan pajak siap berubah sebelum perubahan itu datang menggantikannya?

Penulis adalah Ketua Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Kota Bekasi

Iman Julianto
Email: konsultanpajakimanj@gmail.com

Artikel ini merupakan opini profesional dan pandangan pribadi penulis. Seluruh isi, analisis, dan kesimpulan yang disampaikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, serta tidak merepresentasikan sikap, pandangan, maupun posisi resmi IKPI.

Ping Pong Fun IKPI Jakarta Barat Ajang Pererat Kebersamaan Anggota, Buka Peluang Kolaborasi Antar Cabang

IKPI, Jakarta Barat: Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Jakarta Barat kembali menghadirkan kegiatan yang menggabungkan unsur kebugaran dan kebersamaan antaranggota. Melalui agenda Ping Pong Fun, para anggota diajak membangun hubungan yang lebih erat di luar aktivitas profesional sehari-hari melalui olahraga tenis meja.

Kegiatan tersebut digelar di Baywalk Mall Pluit, Jakarta Utara, Sabtu (23/5/2026). Acara ini diselenggarakan secara gratis dan diikuti 20 anggota IKPI Cabang Jakarta Barat dan salah satu anggota cab Jakarta Barat, Thio Le Sung, mantan atlet tenis meja, membantu mengajarkan teknik dasar bermain tenis meja.

Ketua IKPI Cabang Jakarta Barat Teo Takismen mengatakan, kegiatan ini tidak sekadar menjadi sarana olahraga, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkuat hubungan antarsesama anggota di lingkungan cabang Jakarta Barat.

“Tujuan utamanya adalah mempererat kebersamaan sesama anggota IKPI Jakarta Barat melalui olahraga tenis meja. Di tengah aktivitas profesi yang cukup padat, kami ingin menciptakan suasana yang lebih santai dan menyenangkan agar interaksi antaranggota bisa semakin erat,” ujar Teo.

Menurutnya, membangun solidaritas organisasi tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan formal seperti seminar atau pelatihan. Aktivitas olahraga bersama juga dinilai memiliki peran penting dalam menumbuhkan rasa kekeluargaan dan komunikasi yang lebih cair.

(Foto: DOK. IKPI Cabang Jakarta Barat)

Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan Ping Pong Fun juga memberikan nilai tambah bagi peserta. Anggota yang mengikuti kegiatan ini berhak memperoleh SKPPL sebesar 4 NTS, sehingga aspek pengembangan profesional tetap menjadi bagian dari agenda kegiatan.

Teo berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan melibatkan lebih banyak pihak di masa mendatang. Ia membuka peluang agar kegiatan olahraga bersama nantinya dapat dilaksanakan lintas cabang sehingga interaksi antaranggota IKPI menjadi semakin luas.

“Harapannya ke depan bisa ada olahraga bersama dengan cabang-cabang lain sehingga suasananya menjadi lebih seru, lebih menyenangkan, dan kebersamaan antaranggota IKPI juga semakin kuat,” katanya.

Ia menilai kegiatan nonformal seperti ini dapat menjadi ruang yang efektif untuk membangun jaringan profesional sekaligus memperkuat hubungan personal antar anggota organisasi. (bl)

en_US