Kemenkeu Wanti-Wanti Modus Laporan Audit Palsu, Pelaku Usaha Diminta Jangan Asal Percaya Stempel

IKPI, Jakarta: Direktorat Pembinaan dan Pengawasan Profesi Keuangan (PPPK) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengingatkan pelaku usaha agar lebih berhati-hati terhadap praktik penggunaan laporan auditor independen (LAI) palsu yang berpotensi merugikan perusahaan dan menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.

Peringatan tersebut disampaikan Bambang Setyoko dari Direktorat PPPK dalam Sosialisasi Jasa Profesi Akuntansi yang diikuti direktur dan pimpinan perusahaan menengah dan besar anggota Kadin Indonesia secara daring pada Senin (25/5/2026).

Dalam paparannya, Bambang menilai tingginya kebutuhan dunia usaha terhadap laporan audit untuk berbagai kepentingan, seperti persyaratan tender, kebutuhan investor, hingga syarat administrasi lainnya, ikut membuka celah munculnya penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Banyak pihak membutuhkan laporan audit untuk berbagai keperluan. Karena permintaannya tinggi, ada juga oknum yang mengaku sebagai akuntan publik atau menggunakan laporan auditor independen yang tidak sah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Kementerian Keuangan saat ini telah menerapkan mekanisme verifikasi melalui penggunaan QR Code pada laporan auditor independen yang diterbitkan akuntan publik.

Menurut Bambang, QR Code tersebut bukan sekadar pelengkap administrasi, melainkan alat pengamanan untuk memastikan bahwa laporan yang diterbitkan memang telah terdaftar secara resmi dalam sistem Kementerian Keuangan.

Ketika pengguna jasa menerima laporan audit, Bambang meminta agar laporan tersebut terlebih dahulu diverifikasi menggunakan aplikasi FindProfKU. Melalui fitur tersebut, pelaku usaha dapat memastikan legalitas profesi keuangan sekaligus mengecek keaslian laporan auditor independen yang diterima.

Ia mengingatkan bahwa pelaku usaha perlu memperhatikan alamat tautan yang muncul setelah proses pemindaian QR Code dilakukan. Sebab, pelaku penipuan dapat memanfaatkan tampilan alamat yang sekilas terlihat serupa dengan situs resmi pemerintah.

“Pastikan tautan yang muncul mengarah ke alamat resmi sistem Kementerian Keuangan. Jangan sampai hanya karena tampilan sekilas mirip, pengguna jasa langsung percaya,” katanya.

Selain verifikasi laporan audit, Bambang mengatakan pelaku usaha juga dapat memanfaatkan platform FindProfKU untuk mengecek status profesi keuangan yang terdaftar di Kementerian Keuangan, termasuk informasi apakah profesi tersebut sedang aktif, dikenai sanksi, atau mengalami pembekuan izin.

Menurut dia, langkah verifikasi sederhana tersebut penting dilakukan agar pelaku usaha tidak menjadi korban penggunaan jasa profesi yang tidak memiliki legalitas maupun kompetensi yang sesuai ketentuan. (bl)

Jangan Tergiur Audit Murah, Kemenkeu Ingatkan Risiko Besar Mengintai Pelaku Usaha

IKPI, Jakarta: Direktorat Pembinaan dan Pengawasan Profesi Keuangan (PPPK) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengingatkan pelaku usaha agar tidak hanya menjadikan harga murah sebagai pertimbangan utama dalam memilih jasa akuntansi dan audit. Sebab, biaya jasa yang terlalu rendah berpotensi memengaruhi kualitas pemeriksaan dan meningkatkan risiko bagi perusahaan.

Pesan tersebut disampaikan oleh Ririn Septiani dari Direktorat PPK dalam kegiatan Sosialisasi Jasa Profesi Akuntansi bagi direktur dan pimpinan perusahaan menengah dan besar anggota Kadin Indonesia yang digelar secara daring pada Senin (25/5/2026).

Dalam paparannya, Ririn menyoroti masih adanya pandangan di kalangan pelaku usaha yang lebih berfokus pada biaya jasa murah dibandingkan kualitas hasil pekerjaan profesi akuntansi. Menurutnya, pola pikir seperti ini perlu diubah karena dapat memunculkan risiko yang lebih besar di kemudian hari.

“Banyak pelaku usaha yang beranggapan yang penting murah saja, toh laporannya jadi dan dapat opini yang baik. Padahal fee itu akan mempengaruhi kualitas jasa yang diberikan,” ujar Ririn.

Ia menjelaskan, besaran fee jasa akuntansi sesungguhnya mencerminkan beberapa aspek penting, mulai dari kedalaman pemeriksaan, jumlah prosedur audit yang dilakukan, hingga waktu yang dialokasikan auditor dalam melakukan pekerjaannya.

Ririn menilai fee yang terlalu rendah dapat membuat ruang pemeriksaan menjadi terbatas. Dalam kondisi tersebut, prosedur audit berpotensi dipangkas dan waktu pengerjaan menjadi lebih singkat, sehingga kualitas layanan yang diberikan tidak maksimal.

Menurut dia, jasa akuntansi bukan produk massal yang bisa diperlakukan seperti barang dagangan biasa. Jasa profesi dibangun di atas kompetensi, pengalaman, waktu kerja, serta proses pengendalian mutu yang harus dijalankan secara memadai.

“Fee yang wajar memungkinkan adanya waktu kerja yang memadai, analisis yang mendalam, dan review yang berlapis. Kalau fee terlalu rendah, pekerjaan akan dikejar waktu sehingga risiko dalam pemberian jasa juga meningkat,” katanya.

Ririn menambahkan, laporan keuangan hasil audit kerap menjadi dasar penting bagi pengambilan keputusan bisnis, akses pembiayaan, hingga penilaian investor terhadap perusahaan. Karena itu, kualitas jasa audit dinilai tidak boleh dikompromikan hanya demi mengejar biaya yang lebih murah.

Ia mengingatkan pelaku usaha agar mempertimbangkan keseimbangan antara biaya dan kualitas layanan. Menurutnya, keputusan memilih jasa profesi akuntansi seharusnya tidak semata didasarkan pada harga, tetapi juga mempertimbangkan kredibilitas, kompetensi, serta risiko yang mungkin timbul bagi perusahaan. (bl)

IKPI Angkat Tiga Anggota Kehormatan Baru, Dua Hakim Pengadilan Pajak dan Satu Profesor Perpajakan

IKPI, Jakarta: Pengurus Pusat Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menyetujui pengangkatan tiga anggota kehormatan baru dalam rapat pleno yang digelar di kantor pusat  IKPI pada Kamis (21/5/2026). Keputusan tersebut menjadi bagian dari upaya organisasi memperkuat kontribusi pemikiran dan kolaborasi dengan berbagai tokoh yang memiliki rekam jejak di bidang perpajakan.

Chairman of IKPI Vaudy Starworld mengatakan pengangkatan anggota kehormatan bukan sekadar penghargaan simbolis, melainkan bentuk apresiasi atas dedikasi serta kontribusi nyata yang telah diberikan kepada dunia perpajakan maupun pengembangan organisasi.

“Pengangkatan anggota kehormatan merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh yang memiliki kompetensi, integritas, serta kontribusi nyata dalam mendukung kemajuan perpajakan dan organisasi,” ujar Vaudy.

Dalam rapat pleno tersebut, peserta menyetujui pengangkatan tiga calon anggota kehormatan, yakni Harta Indra Tarigan, Haryono, dan Haula Rosdiana.

Selain berstatus sebagai calon anggota kehormatan IKPI, ketiganya juga memiliki rekam jejak yang cukup panjang di bidang perpajakan. Harta Indra Tarigan diketahui pernah menjabat sebagai Hakim Pengadilan Pajak periode 2019–2025. Haryono juga memiliki latar belakang serupa sebagai Hakim Pengadilan Pajak pada periode 2016-2025.

Sementara Haula Rosdiana dikenal sebagai akademisi di bidang perpajakan. Selain menjabat sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, ia juga pernah menjadi anggota Komite Pengawas Perpajakan pada periode 2016–2019.

Ketiga nama tersebut dinilai memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Pasal 6 Anggaran Rumah Tangga (ART) IKPI. Di antaranya berstatus warga negara Indonesia, memiliki kemampuan dan keahlian di bidang perpajakan atau kontribusi nyata bagi organisasi, serta menunjukkan loyalitas terhadap perkumpulan.

Vaudy menjelaskan, keberadaan anggota kehormatan diharapkan dapat memperkaya perspektif organisasi melalui pengalaman dan kompetensi yang dimiliki masing-masing tokoh.

“Dengan latar belakang yang beragam, baik dari unsur peradilan maupun akademisi, kami berharap akan lahir lebih banyak masukan dan pemikiran yang memperkuat peran IKPI ke depan,” katanya.

Berdasarkan pemaparan dalam rapat pleno, ketiga tokoh tersebut juga dinilai aktif memberikan kontribusi dalam berbagai kegiatan IKPI. Harta Indra Tarigan dan Haryono tercatat aktif menghadiri dan berkontribusi dalam diskusi panel maupun diskusi terbatas yang diselenggarakan organisasi. Sementara Haula Rosdiana juga kerap hadir sebagai narasumber dalam diskusi panel dan seminar IKPI.

Selain tiga nama yang baru disetujui, IKPI sebelumnya juga telah mengangkat sejumlah anggota kehormatan pada masa kepengurusan 2024–2029. Mereka terdiri dari Arfan, Catur Rini Widosari, Harry Gumelar, Yoyok Satiotomo, Muhammad Ismiransyah M. Zain, Cucu Supangkat, Yuli Kristiyono, Lucia Widhiharsanti, Mukhtar, Edi Slamet Irianto, Slamet Sutantyo, dan Agustin Vita Avantin.

Dengan penambahan tiga anggota kehormatan baru, IKPI berharap kolaborasi antara praktisi, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan di bidang perpajakan semakin kuat, sekaligus memperkaya gagasan organisasi dalam mendukung pengembangan sistem perpajakan nasional. (bl)

Baru 5.000 Anggota Lapor LTKP, IKPI Ingatkan Ribuan Konsultan Pajak Jangan Abaikan Tenggat 31 Mei

IKPI, Jakarta: Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) kembali mengingatkan para anggotanya untuk segera menyampaikan Laporan Tahunan Konsultan Pajak (LTKP) tahun 2026. Hingga Senin (25/5/2026), jumlah anggota yang telah menyampaikan laporan tahunan tercatat baru sekitar 5.000 orang, sementara masih terdapat sekitar 3.000 anggota lainnya yang belum menyelesaikan kewajiban tersebut.

Ketua Departemen Keanggotaan dan Etik IKPI Robert Hutapea menegaskan bahwa sisa waktu pelaporan yang semakin sempit seharusnya menjadi perhatian serius seluruh anggota. Menurutnya, angka kepatuhan yang belum mencapai keseluruhan anggota menunjukkan masih adanya konsultan pajak yang menunda kewajiban penting terkait profesinya.

“Kami mengingatkan kembali kepada seluruh anggota yang belum menyampaikan LTKP agar segera memenuhi kewajibannya. Waktu pelaporan terus berjalan dan tidak ada alasan lagi untuk menunda,” kata Robert Hutapea.

Ia menekankan bahwa pemerintah sebelumnya telah memberikan relaksasi berupa perpanjangan batas waktu penyampaian LTKP selama satu bulan melalui Direktorat Pembinaan dan Pengawasan Profesi Keuangan (PPPK) Kementerian Keuangan. Dengan adanya tambahan waktu tersebut, menurutnya para konsultan pajak seharusnya dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelesaikan kewajiban pelaporannya.

Robert mengingatkan bahwa perpanjangan waktu yang diberikan bukan dimaksudkan agar kewajiban ditunda hingga menjelang batas akhir, melainkan untuk memberikan ruang kepada konsultan pajak menyiapkan dokumen secara lebih baik dan menghindari kendala administratif.

“Perpanjangan waktu sudah diberikan. Karena itu anggota seharusnya tidak boleh lagi lalai dalam penyampaian LTKP,” ujarnya.

IKPI juga mengingatkan bahwa ancaman sanksi bagi konsultan pajak yang tidak menyampaikan laporan tahunan bukanlah persoalan sepele. Ketentuan tersebut telah diatur dalam PMK Nomor 175/PMK.01/2022 yang memuat sanksi administratif terhadap konsultan pajak yang tidak memenuhi kewajibannya.

Robert menegaskan pembekuan izin praktik sesuai pasal 28 ayat 1 merupakan konsekuensi yang dapat dikenakan dan hal tersebut tidak boleh dipandang sekadar formalitas aturan.

“Ancaman pembekuan izin praktik bukan sesuatu yang bisa dianggap main-main. Ini menyangkut legalitas profesi dan keberlangsungan praktik konsultan pajak,” tegasnya.

Ia menilai kepatuhan terhadap LTKP bukan hanya berkaitan dengan administrasi pelaporan semata, tetapi juga mencerminkan profesionalisme dan integritas seorang konsultan pajak.

Dengan batas waktu pelaporan yang tersisa beberapa hari lagi, IKPI meminta seluruh pengurus daerah dan pengurus cabang untuk terus aktif mengingatkan anggota di wilayah masing-masing agar segera melakukan pelaporan sebelum tenggat waktu berakhir pada 31 Mei 2026.

IKPI berharap tidak ada anggota yang harus menghadapi sanksi administratif hanya karena mengabaikan kewajiban yang sebenarnya telah diberikan waktu tambahan oleh regulator untuk diselesaikan. (bl)

IKPI Medan Dorong Praktisi Pajak Pahami Hak Wajib Pajak dan Pola Pengawasan Baru

IKPI, Medan: Perubahan aturan perpajakan tidak lagi hanya berbicara soal administrasi atau prosedur semata. Di balik berbagai ketentuan baru, terdapat perubahan pola pengawasan dan dinamika baru yang menuntut para praktisi perpajakan untuk bergerak lebih cepat dalam memahami hak-hak wajib pajak maupun mekanisme penyelesaian persoalan perpajakan.

Hal tersebut menjadi perhatian Ketua Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Medan, Ebenezer Simamora, saat membuka kegiatan Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) di UPH Lippo Plaza, Medan, Sabtu (23/5/2026). Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya pemahaman yang komprehensif terhadap berbagai regulasi terbaru agar para konsultan pajak mampu memberikan pendampingan yang tepat kepada wajib pajak.

Menurut Ebenezer, perubahan yang diatur melalui PMK 28/2026, PMK 111/2025, dan PMK 118/2024 perlu dipahami secara mendalam karena menyentuh berbagai aspek penting, mulai dari hak wajib pajak atas restitusi kelebihan pembayaran pajak, mekanisme upaya hukum, hingga pola pengawasan kepatuhan yang kini semakin berkembang.

 

(Foto: DOK. IKPI Cabang Medan)

Ia menilai konsultan pajak tidak lagi cukup hanya memahami bunyi aturan. Praktisi juga dituntut mampu membaca implikasi dari perubahan kebijakan tersebut terhadap kondisi yang dihadapi wajib pajak dalam praktik sehari-hari.

“Ketika regulasi berubah, pendekatan dalam memberikan pendampingan kepada wajib pajak juga harus ikut berubah. Pemahaman yang utuh menjadi penting agar pendampingan yang diberikan tidak hanya tepat secara aturan, tetapi juga tepat dalam penerapannya,” demikian pesan yang disampaikan Ebenezer dalam sambutannya.

Dalam sesi utama, narasumber B. Haru mengulas berbagai isu yang berkaitan dengan ketentuan terbaru restitusi pajak, hak wajib pajak dalam proses administrasi perpajakan, mekanisme penyelesaian sengketa, hingga transformasi pengawasan kepatuhan yang kini semakin mengarah pada sistem berbasis data dan pengawasan terintegrasi.

Pembahasan tersebut mendapat perhatian besar dari peserta. Tidak sedikit yang mengaitkan materi dengan tantangan yang sering muncul di lapangan, terutama ketika wajib pajak menghadapi proses administrasi maupun persoalan sengketa perpajakan.

Melalui kegiatan ini, IKPI Cabang Medan berharap para praktisi perpajakan tidak hanya mengikuti perubahan regulasi, tetapi juga mampu menerjemahkan perubahan tersebut menjadi langkah pendampingan yang tepat, sehingga hak-hak wajib pajak tetap terlindungi dan kepatuhan perpajakan dapat terus ditingkatkan. (bl)

Sebanyak 98 Peserta Antusias Dalami Regulasi Pajak Terbaru di PPL IKPI Medan

IKPI, Medan: Antusiasme tinggi mewarnai pelaksanaan Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) yang digelar Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Medan di UPH Lippo Plaza, Medan, Sabtu (23/5/2026). Sebanyak 98 peserta yang terdiri dari anggota IKPI dan peserta umum hadir untuk memperdalam pemahaman mengenai perkembangan regulasi perpajakan terbaru.

Kegiatan tersebut mengangkat tema Mendalami Ketentuan Terbaru Hak Wajib Pajak atas Restitusi Kelebihan Pembayaran Pajak dan Upaya Hukum Wajib Pajak serta Era Baru Pengawasan Kepatuhan Wajib Pajak. Tema ini dinilai relevan mengingat perubahan kebijakan perpajakan yang terus berkembang dan berdampak langsung terhadap praktik di lapangan.

Sejak awal acara dimulai, suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif. Peserta yang hadir tampak antusias mengikuti jalannya acara, mulai dari sesi pembukaan hingga pemaparan materi. Tingginya minat peserta juga terlihat dari banyaknya diskusi yang berkembang selama kegiatan berlangsung.

Ketua IKPI Cabang Medan, Ebenezer Simamora, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada panitia yang telah bekerja mempersiapkan acara sehingga dapat berjalan dengan baik.

Ebenezer juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh peserta yang telah hadir dan meluangkan waktu mengikuti kegiatan pengembangan profesi tersebut. Menurutnya, partisipasi yang tinggi menunjukkan semangat anggota untuk terus memperbarui wawasan dan meningkatkan kompetensi profesi di tengah perubahan regulasi yang semakin dinamis.

“Semangat belajar seperti ini perlu terus dijaga. Dunia perpajakan terus berkembang, sehingga para praktisi juga harus terus menyesuaikan diri dan memperkaya pemahaman,” kata Ebenezer dalam sambutannya.

Selain itu, ia turut menyampaikan terima kasih kepada narasumber utama B. Haru yang telah berkenan hadir untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada peserta. Menurutnya, kehadiran narasumber diharapkan dapat memberikan perspektif dan pemahaman yang lebih luas terkait perkembangan kebijakan perpajakan saat ini.

Memasuki sesi utama, peserta terlihat semakin aktif mengikuti pembahasan. Berbagai pertanyaan dan diskusi muncul, terutama terkait persoalan yang sering dihadapi dalam praktik perpajakan sehari-hari.

Melalui kegiatan PPL tersebut, Ebenezer berharap peningkatan kompetensi anggota dapat terus berjalan secara berkelanjutan sehingga para konsultan pajak semakin siap menghadapi dinamika kebijakan perpajakan yang terus berkembang.  (bl)

Purbaya Targetkan Rupiah Kembali ke Level Rp 15.000 per Dolar AS

IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini kebijakan baru devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) akan membawa dampak positif terhadap penguatan nilai tukar rupiah.

Pemerintah bahkan menargetkan kurs rupiah dapat bergerak menuju level Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah aturan tersebut mulai diterapkan pada 1 Juni 2026.

Purbaya mengatakan, kebijakan penempatan DHE SDA di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) akan memperbesar ketersediaan valuta asing di pasar domestik.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat cadangan devisa sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar.

Dalam acara Jogja Financial Festival 2026 pada Jumat (22/5), Purbaya meminta pelaku pasar valas mulai mengantisipasi penguatan rupiah. Menurutnya, tambahan pasokan dolar dari kebijakan baru itu akan menjadi faktor utama penguatan mata uang domestik.

“Kalau saya bilang pemain valas, cepat-cepat jual lah. Kita akan dorong rupiah ke arah Rp 15 ribu,” ujar Purbaya, dikutip Minggu (24/5).

Ia menjelaskan, selama ini dana hasil ekspor banyak ditempatkan di berbagai bank dalam negeri tanpa pengawasan yang optimal. Kondisi tersebut membuat arus devisa dinilai belum mampu memberikan dampak maksimal terhadap ketahanan cadangan devisa nasional.

Pemerintah kemudian memutuskan memperketat tata kelola DHE SDA dengan mengarahkan penempatannya ke bank-bank milik negara. Kebijakan ini disebut sebagai langkah strategis untuk memastikan dana ekspor tetap berputar di dalam negeri.

Purbaya mengungkapkan hasil evaluasi pemerintah menunjukkan sebagian devisa ekspor yang masuk ke sistem perbankan nasional justru kembali mengalir ke luar negeri, terutama ke Singapura.

Aliran dana keluar itu membuat surplus perdagangan Indonesia tidak sepenuhnya berkontribusi terhadap penguatan devisa domestik.

Karena itu, pemerintah menilai pengawasan melalui bank Himbara akan lebih efektif. Selain lebih mudah dipantau, pemerintah juga dapat mengambil tindakan tegas apabila ditemukan penyimpangan dalam pengelolaan dana DHE SDA.

Menurut Purbaya, mulai Juni mendatang pasar domestik akan memperoleh tambahan suplai dolar dalam jumlah besar.

Kondisi tersebut diyakini mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menepis kekhawatiran pelemahan rupiah yang berlebihan. (ds)

Kebocoran Ekspor Setara Empat Kali APBN 2026, Reformasi Fiskal Diminta Dipercepat

IKPI, Jakarta: Forum Pajak Berkeadilan Indonesia menyoroti pengakuan pemerintah terkait kebocoran ekspor senilai Rp 15.400 triliun akibat praktik under-invoicing selama periode 1991-2024.

Koalisi masyarakat sipil itu menilai pengakuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperbaiki tata kelola perdagangan dan perpajakan nasional.

Angka kebocoran tersebut merujuk pada data UN COMTRADE yang diolah NEXT Indonesia Institute dan disampaikan Presiden RI dalam pidato pengantar Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2027 di DPR pada 20 Mei 2026.

Nilai kebocoran itu disebut setara lebih dari empat kali APBN 2026 atau rata-rata Rp 450 triliun per tahun.

Koordinator Forum Pajak Berkeadilan Indonesia yang juga Direktur Eksekutif The Prakarsa, Victoria Fanggidae, menyebut angka tersebut mengonfirmasi berbagai temuan riset sebelumnya terkait praktik penggelapan perdagangan dan penghindaran pajak lintas negara.

Menurut dia, nilai US$ 908 miliar itu juga dinilai masih konservatif karena hanya menghitung under-invoicing ekspor dan belum memasukkan praktik over-invoicing impor, transfer pricing, serta profit shifting lintas yurisdiksi.

Forum Pajak Berkeadilan menilai persoalan utama bukan terletak pada siapa yang melakukan ekspor, melainkan lemahnya tata kelola dan pengawasan transaksi perdagangan internasional.

Praktik mis-invoicing disebut dapat terjadi melalui manipulasi harga, volume, kualitas, hingga klasifikasi barang dalam dokumen ekspor.

Koordinator Nasional Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, Aryanto Nugroho, mengatakan lemahnya integrasi data antarinstansi menjadi salah satu penyebab kebocoran berlangsung selama puluhan tahun.

Ia menilai reformasi pengawasan harus dilakukan melalui integrasi data antara Direktorat Jenderal Pajak, Bea Cukai, PPATK, dan Bank Indonesia, termasuk memperkuat transparansi pemilik manfaat korporasi atau beneficial ownership (BO).

“Tanpa percepatan revisi Perpres 13/2018 menjadi rezim verifikasi dua tahap, termasuk integrasi data dengan DJP, Bea Cukai, dan PPATK, serta penerapan transparansi BO sebagai prasyarat perizinan ekspor, sentralisasi di BUMN tidak akan menutup kebocoran, hanya mengganti aktornya saja,” kata Aryanto dalam keterangannya, Minggu (25/5).

Dalam pernyataannya, Forum Pajak Berkeadilan menyampaikan empat tuntutan kepada pemerintah.

Pertama, membuka metodologi perhitungan estimasi kebocoran US$ 908 miliar agar dapat diuji secara publik. Kedua, mempercepat integrasi data perdagangan dan keuangan secara real time antarinstansi.

Ketiga, memperkuat akuntabilitas publik dalam pengelolaan perdagangan komoditas strategis, termasuk melalui audit dan pengawasan DPR.

Keempat, merevisi target tax ratio dalam KEM PPKF 2027 agar lebih ambisius sejalan dengan pengakuan besarnya kebocoran penerimaan negara.

Forum Pajak Berkeadilan menegaskan bahwa pengakuan atas kebocoran ekspor tidak boleh berhenti sebagai narasi semata, melainkan harus diikuti reformasi konkret untuk memperkuat transparansi, pertukaran data lintas yurisdiksi, dan penutupan celah penghindaran pajak. (ds)

Target Pajak 2026 Naik Tajam, DJP Harus Kejar Pertumbuhan Hampir 24%

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menghadapi tantangan besar untuk memenuhi target penerimaan pajak dalam APBN 2026 yang dipatok mencapai Rp 2.357,7 triliun.

Target tersebut meningkat tajam dibanding realisasi penerimaan pajak tahun sebelumnya.

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengatakan, lonjakan target itu menuntut DJP menjaga pertumbuhan penerimaan secara konsisten sepanjang tahun. Menurut dia, setiap bulan institusinya harus mampu mencatatkan pertumbuhan yang terukur agar target tahunan dapat tercapai.

“At least setiap bulan kami harus mencatatkan kinerja at least 23,9% month to month dan year on year, accumulated,” kata Bimo dalam acara yang digelar Pusdiklat Pajak, dikutip Minggu (24/5).

Bimo menilai beban tersebut semakin berat karena kewenangan DJP lebih banyak berada pada sisi pelaksanaan kebijakan, bukan penentuan arah kebijakan fiskal.

Ia menegaskan, DJP bekerja dalam kerangka kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah sehingga ruang untuk melakukan perubahan cukup terbatas.

“Area permainan, area otoritas dari Dirjen Pajak dan tim itu sangat terbatas di execution of the policies. Kita bekerja di dalam lingkup yang ceteris paribus gak ada perubahan policy,” katanya.

Menurut dia, upaya mengejar target penerimaan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan baru, melainkan harus ditopang penguatan internal institusi.

DJP, kata Bimo, perlu memastikan sistem pengumpulan pajak berjalan lebih optimal dengan tata kelola dan integritas yang semakin kuat.

Ia menambahkan, strategi utama yang ditempuh DJP adalah menjalankan berbagai rencana aksi secara disiplin untuk memperkuat efektivitas pemungutan pajak.

Fokus tersebut diharapkan mampu meningkatkan kinerja penerimaan negara di tengah target yang semakin agresif pada tahun depan. (ds)

Penerimaan Pajak Naik Dua Digit, Ditopang Industri dan Perdagangan

IKPI, Jakarta: Kementerian Keuangan melaporkan realisasi penerimaan pajak hingga April 2026 mencapai Rp646,3 triliun. Angka tersebut meningkat 16,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp556,9 triliun.

Pertumbuhan penerimaan pajak tersebut ditopang oleh mayoritas sektor utama yang masih mencatatkan kinerja positif hingga awal kuartal II-2026.

Dalam paparan APBN Kita, sektor perdagangan menjadi kontributor terbesar dengan penerimaan neto mencapai Rp 161 triliun atau berkontribusi sekitar 24,9% terhadap total penerimaan.

Sektor ini juga mencatatkan pertumbuhan dua digit dengan pertumbuhan bruto 14,8% dan neto 47,6% hingga April 2026.

“Tumbuh double digits dipengaruhi oleh subsektor perdagangan besar bahan bakar minyak (BBM) dan perdagangan online sejalan dengan peningkatan tren belanja online,” dikutip dari laporan APBN Kita, Minggu (25/5).

Sementara itu, sektor industri pengolahan mencatatkan penerimaan neto sebesar Rp 145,3 triliun dengan kontribusi 22,5%. Hingga April 2026, sektor ini tumbuh dengan pertumbuhan bruto 9,8% dan neto 8,4%.

Pemerintah menilai pertumbuhan industri pengolahan ditopang oleh membaiknya kinerja subsektor industri minyak kelapa sawit yang mencatat peningkatan profitabilitas.

Di sektor pertambangan, penerimaan neto mencapai Rp 56,7 triliun atau menyumbang sekitar 8,8% terhadap total penerimaan. Pertumbuhan sektor ini tercatat sebesar 1% secara bruto dan 6,8% secara neto hingga April 2026.

Kinerja pertambangan terutama ditopang oleh subsektor minyak dan gas bumi (migas) yang masih menunjukkan pertumbuhan positif di tengah fluktuasi harga komoditas global.

Adapun sektor konstruksi dan real estat mencatatkan penerimaan neto Rp 24,2 triliun dengan kontribusi 3,7%. Hingga April 2026, sektor ini tumbuh 2,4% secara bruto dan 0,8% secara neto.

Pertumbuhan sektor konstruksi dan real estat terutama berasal dari subsektor real estat yang dimiliki sendiri, seiring masih berjalannya aktivitas pembangunan dan properti domestik.

Secara keseluruhan, pemerintah melihat mayoritas sektor utama yang berkontribusi besar terhadap penerimaan negara masih mampu mempertahankan tren pertumbuhan positif hingga awal kuartal II-2026. (ds)

en_US