IKPI, Jakarta: Pemerintah optimistis aktivitas ekonomi nasional tetap bergairah seiring dengan kinerja penerimaan pajak yang menunjukkan tren positif di awal 2026.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut, pertumbuhan pajak menjadi indikator kuat bahwa konsumsi masyarakat dan aktivitas dunia usaha masih solid.
Hingga kuartal I 2026, penerimaan pajak tercatat tumbuh 20,7% secara year-to-date (ytd). Kenaikan ini terutama ditopang oleh lonjakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPNBM) yang mencapai 57,7%.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas konsumsi masyarakat dan transaksi di sektor dunia usaha masih sangat bergairah.
Selain dari sisi penerimaan, Juda juga menyoroti peran belanja negara dalam menjaga momentum pertumbuhan. Pada periode yang sama, realisasi belanja APBN tumbuh signifikan sebesar 31,4% secara tahunan (year-on-year/yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, pemerintah secara sengaja mengubah pola belanja agar lebih merata sepanjang tahun. Hingga akhir kuartal I, belanja negara telah mencapai 21,2% dari total pagu APBN.
“Kami memang sengaja merubah pola pengeluaran agar lebih merata sepanjang tahun, tidak lagi menumpuk di Triwulan IV, supaya pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan lebih cepat,” ujar Juda dalam keterangannya, Selasa (28/4).
Di tengah tekanan global, termasuk kenaikan harga minyak mentah yang sempat menyentuh US$ 100 per barel, pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas daya beli masyarakat.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Untuk menjaga defisit anggaran tetap terkendali di bawah 3%, pemerintah juga melakukan berbagai strategi efisiensi dan optimalisasi penerimaan. Di antaranya melalui penajaman program prioritas, efisiensi program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta optimalisasi sistem administrasi perpajakan berbasis digital (coretax).
Selain itu, pemerintah turut memanfaatkan potensi windfall dari komoditas unggulan seperti batu bara dan crude palm oil (CPO) guna memperkuat penerimaan negara.
Juda menegaskan, ke depan pemerintah akan terus mendorong sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional. (ds)


