Pemerintah Bidik Investasi Awal di Financial Center hingga Rp 500 Triliun

IKPI, Jakarta: Pemerintah memperkirakan keberadaan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) alias Financial Center mampu menjadi pintu masuk investasi global senilai Rp 300 triliun hingga Rp 500 triliun pada fase awal operasional.

Namun, besaran tersebut masih bersifat proyeksi dan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan Indonesia bersaing dengan pusat-pusat keuangan internasional lain.

Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan Herman Saheruddin menjelaskan, pemerintah masih melakukan perhitungan terhadap potensi dana yang dapat mengalir melalui PFII.

Berdasarkan simulasi dengan asumsi moderat, nilai investasi yang berpotensi masuk diperkirakan berkisar Rp 300 triliun hingga Rp 500 triliun.

“Nah itu gambaran awal. Dana awal itu masih kami estimasi. Kalau dari hitungan yang moderat, mungkin sekitar Rp 300 triliun sampai Rp 500 triliun. Tapi sekali lagi, ini semua tergantung dari asumsi karena kita bersaing dengan Singapura, Dubai, dan lain-lain,” ujar Herman di Kompleks DPR RI, dikutip Kamis (9/7).

Ia menuturkan, investasi tersebut bukan sekadar aliran modal portofolio, melainkan mencakup investasi langsung dari lembaga keuangan dan perusahaan global.

Bentuknya dapat berupa pembukaan kantor cabang bank asing, pendirian perusahaan baru, maupun aktivitas bisnis lain yang berbasis di kawasan PFII.

Menurutnya, kehadiran PFII diharapkan menciptakan ekosistem yang lebih menarik bagi investor internasional untuk menjadikan Indonesia sebagai lokasi pengembangan bisnis regional.

Salah satu faktor yang diyakini dapat meningkatkan daya tarik PFII adalah penerapan regulasi yang lebih kompetitif dibandingkan aturan yang berlaku secara umum di Indonesia.

Pemerintah membuka peluang penyesuaian sejumlah ketentuan, termasuk yang berkaitan dengan kepemilikan asing, agar lebih sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha global.

Selain itu, pemerintah juga berencana mengadopsi berbagai praktik terbaik yang diterapkan di pusat-pusat keuangan dunia.

Salah satunya adalah penggunaan kerangka hukum yang lebih selaras dengan standar internasional, termasuk penerapan prinsip common law dalam mendukung transaksi dan kegiatan bisnis lintas negara.

Melalui skema tersebut, pemerintah berharap PFII dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi investasi sektor keuangan, sekaligus meningkatkan daya saing industri jasa keuangan nasional di tingkat global. (ds)

PFII Tebar Insentif Jumbo, Pengusaha Bilang Masih Ada PR Besar

IKPI, Jakarta: Kalangan dunia usaha menilai berbagai insentif perpajakan yang disiapkan pemerintah dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) berpotensi meningkatkan daya saing Indonesia.

Namun, efektivitas kebijakan tersebut dinilai sangat bergantung pada perbaikan iklim investasi secara menyeluruh.

Sekretaris Jenderal BPP HIPMI Anggawira mengatakan fasilitas fiskal seperti tax holiday, pembebasan bea masuk, insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), hingga berbagai kemudahan perpajakan memang menjadi salah satu pertimbangan investor ketika memilih lokasi investasi.

“Di tengah persaingan antarnegara yang semakin ketat, insentif seperti tax holiday, pembebasan bea masuk, fasilitas PPN, hingga berbagai kemudahan perpajakan memang menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan investor,” ujar Angggawira dalam keterangannya, dikutip Kamis (9/7).

Meski demikian, menurutnya pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa keputusan investasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya insentif pajak.

Ia menilai banyak negara berhasil menjadi tujuan investasi karena mampu menciptakan ekosistem usaha yang efisien dan stabil, bukan semata-mata menawarkan fasilitas perpajakan yang besar.

Oleh karena itu, pemerintah diharapkan menjadikan insentif fiskal sebagai bagian dari agenda reformasi yang lebih luas sehingga mampu menciptakan kepastian bagi pelaku usaha.

Anggawira juga mengusulkan agar pemberian fasilitas perpajakan dilakukan secara lebih selektif melalui pendekatan berbasis kinerja (performance-based incentives).

Dengan skema tersebut, insentif diprioritaskan bagi investasi yang mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat hilirisasi industri, membuka lapangan kerja, mendorong transfer teknologi, meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri, serta berorientasi ekspor.

Menurutnya, pendekatan tersebut akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan beban fiskal yang ditanggung negara.

Selain itu, ia mengingatkan agar implementasi kebijakan dilakukan secara sederhana, transparan, dan memiliki kepastian waktu pelayanan.

Proses administrasi yang cepat dan mudah diprediksi, kata dia, menjadi faktor penting bagi investor dalam menilai daya saing suatu negara.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Komite Tetap Kajian Hilirisasi dan Investasi, Chandra Wahjudi.

Ia menilai paket insentif dalam RUU PFII secara konsep sudah cukup kompetitif dibandingkan berbagai pusat keuangan internasional di kawasan.

Menurut Chandra, Indonesia untuk pertama kalinya menawarkan berbagai fasilitas perpajakan dalam satu kerangka hukum yang terintegrasi sehingga berpotensi meningkatkan daya tarik kawasan PFII.

Namun, ia menekankan bahwa insentif pajak hanya menjadi faktor awal yang mendorong investor melirik suatu negara.

“Bagi investor skema ini jelas menarik dan dapat menjadi pemicu awal untuk mempertimbangkan masuk ke PFII,” kata Chandra.

Investor global, lanjutnya, umumnya baru akan menempatkan investasi dalam skala besar apabila tersedia kepastian hukum, regulasi yang stabil, mekanisme penyelesaian sengketa yang kredibel, serta infrastruktur yang mampu mendukung aktivitas keuangan internasional.

“Tanpa fondasi tersebut, insentif perpajakan yang besar sekalipun sulit mengimbangi risiko regulasi maupun risiko operasional,” ujarnya.

Sebagai informasi, pemerintah memasukkan berbagai fasilitas perpajakan dalam draf RUU PFII untuk meningkatkan daya tarik kawasan pusat finansial internasional.

Fasilitas tersebut mencakup pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) badan hingga 100% bagi pelaku usaha tertentu, insentif PPh bagi tenaga ahli asing, pembebasan PPh atas penghasilan investasi, fasilitas PPN tidak dipungut atas barang dan jasa tertentu, pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk hunian mewah di kawasan PFII, serta pembebasan bea masuk atas barang yang digunakan dalam pembangunan dan pengembangan kawasan. (ds)

Pemerintah Pastikan Insentif Pajak PFII Tetap Tunduk pada Global Minimum Tax

IKPI, Jakarta: Pemerintah memastikan skema insentif perpajakan untuk kawasan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) tidak akan dirancang secara agresif demi menarik investasi.

Seluruh kebijakan tetap harus mengacu pada ketentuan Global Minimum Tax (GMT) yang telah menjadi standar perpajakan internasional.

Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan Herman Saheruddin mengatakan pemerintah tengah memformulasikan desain insentif yang mampu meningkatkan daya saing PFII tanpa melanggar komitmen global di bidang perpajakan.

“Prinsipnya kita juga harus comply dengan standar internasional. Global minimum tax itu tetap harus kita patuhi,” ujar Herman di Kompleks DPR RI, dikutip Kamis (9/7).

Menurut Herman, pemerintah tidak ingin terjebak dalam praktik race to the bottom, yakni persaingan antarnegara yang berlomba-lomba memangkas tarif pajak demi menarik investor. Langkah tersebut dinilai tidak lagi relevan setelah banyak negara menyepakati penerapan GMT.

“Enggak bisa semua dibuat mentok. Nanti pasti ada protes dari negara lain. Karena itu, kita harus tetap mengikuti aturan global minimum tax,” katanya.

Meski ruang pemberian insentif menjadi lebih terbatas, Herman memastikan pemerintah tetap menyiapkan berbagai fasilitas agar PFII mampu bersaing dengan pusat-pusat keuangan internasional lainnya.

Ia mengatakan bentuk insentif yang akan diberikan masih dibahas bersama DPR dalam proses penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang PFII.

“Intinya kita harus bisa bersaing dengan financial center yang lain. Detail insentifnya masih disusun bersama DPR,” katanya.

Herman menjelaskan pembahasan RUU PFII saat ini masih berada pada tahap awal. Pemerintah baru menyerahkan Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) sebagai dasar pembahasan dengan DPR sehingga berbagai ketentuan di dalamnya masih sangat mungkin berubah.

Menurut dia, perubahan substansi dapat terjadi seiring pembahasan bersama DPR maupun masukan yang diperoleh dari rapat dengar pendapat dengan berbagai pemangku kepentingan.

Selain membahas insentif, pemerintah juga belum memutuskan lokasi kawasan PFII. Dalam rancangan undang-undang, kawasan tersebut hanya disebut akan berada di wilayah Indonesia tanpa menunjuk daerah tertentu.

“Di undang-undang tidak ditentukan tempatnya di mana. Intinya nanti berada di Indonesia,” ujar Herman.

Ia menambahkan, kawasan PFII nantinya akan menerapkan standar internasional yang ketat untuk mencegah penyalahgunaan fasilitas, termasuk praktik pencucian uang maupun pengalihan aset secara ilegal.

Setiap pelaku usaha yang beroperasi di kawasan tersebut wajib memenuhi persyaratan regulator internasional.

“Financial center itu ketat. Harus tunduk pada regulator internasional. Screening-nya juga harus ketat karena kita mengikuti global standard,” katanya.

Dalam jangka panjang, pemerintah berharap PFII dapat menjadi pusat penghimpunan pendanaan bagi proyek-proyek strategis nasional.

Menurut Herman, Indonesia membutuhkan pusat keuangan yang mampu menarik investasi jangka panjang dengan tata kelola yang memenuhi praktik internasional.

Herman menambahkan pemerintah masih menyusun konsep akhir pengembangan PFII. Pada tahap awal, fokus pemerintah adalah membangun satu kawasan yang dapat beroperasi secara efektif sebelum dikembangkan lebih lanjut. (ds)

IKPI Hadiri RDPU Komisi XI DPR, Beri Masukan atas RUU Pusat Finansial Internasional Indonesia

IKPI, Jakarta: Pengurus Pusat Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang diselenggarakan Komisi XI DPR RI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (9/7/2026). Agenda rapat membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia, salah satu regulasi yang disiapkan untuk memperkuat daya saing sektor keuangan nasional di tingkat global.

Kehadiran IKPI dalam forum tersebut menjadi bentuk partisipasi organisasi profesi konsultan pajak dalam memberikan pandangan dan masukan terhadap penyusunan regulasi yang dinilai memiliki keterkaitan erat dengan sistem perpajakan, investasi, serta tata kelola pusat keuangan internasional di Indonesia.

Delegasi Pengurus Pusat IKPI dipimpin langsung oleh Ketua Umum IKPI, Vaudy Starworld. Turut hadir Wakil Ketua Umum Nuryadin Rahman, Sekretaris Umum Associate Professor Edy Gunawan, Bendahara Umum Donny E. Rindorindo, Wakil Sekretaris Umum Novalina Magdalena, Ketua Departemen Penelitian dan Kebijakan Fiskal Pino Siddharta, serta Direktur Eksekutif Asih Ariyanto.

Melalui keikutsertaan dalam RDPU tersebut, IKPI menunjukkan komitmennya untuk berkontribusi dalam proses pembentukan kebijakan yang berkaitan dengan perpajakan dan iklim investasi nasional.

Sebagai organisasi yang menaungi lebih dari 8.000 konsultan pajak di Indonesia, IKPI memandang pembahasan RUU Pusat Finansial Internasional Indonesia sebagai momentum penting untuk memastikan regulasi yang disusun mampu menciptakan kepastian hukum, meningkatkan daya saing, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. (bl)

Rekor! Lomba Cerdas Cermat IKPI Tembus 693 Peserta

IKPI, Jakarta: Lomba Nasional Cerdas Cermat (LCC) yang diselenggarakan Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 mencatatkan pencapaian membanggakan. Hingga penutupan pendaftaran, kompetisi tersebut berhasil menghimpun 693 peserta, terdiri atas 503 peserta kategori Perguruan Tinggi dan 190 peserta kategori SMK/SMA.

Ketua Panitia HUT ke-61 IKPI, Novalina Magdalena, mengatakan jumlah peserta tahun ini menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi dari kalangan mahasiswa maupun pelajar terhadap kompetisi yang mengusung tema “Bersinergi Membangun Negeri”.

“Puji Tuhan, hingga penutupan pendaftaran tercatat sebanyak 693 peserta telah mendaftar. Capaian ini menjadi penyemangat bagi kami karena menunjukkan semakin besarnya minat generasi muda untuk belajar dan berkompetisi di bidang perpajakan,” ujar Novalina, Kamis (9/7/2026).

Menurutnya, pencapaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan penyelenggaraan LCC pada HUT ke-60 IKPI. Tahun lalu, kompetisi yang hanya diperuntukkan bagi kategori perguruan tinggi diikuti 382 peserta, sedangkan tahun ini jumlah peserta kategori perguruan tinggi saja meningkat menjadi 503 peserta. Untuk pertama kalinya, IKPI juga membuka kategori SMK/SMA yang berhasil menarik 190 peserta, sehingga total peserta mencapai 693 orang.

“Ini merupakan perkembangan yang sangat membanggakan. Artinya, LCC IKPI semakin dikenal dan mendapat sambutan positif dari dunia pendidikan. Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan menjadi wadah yang mampu meningkatkan literasi perpajakan di kalangan generasi muda,” katanya.

Novalina menegaskan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh keluarga besar IKPI. Ia menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Pusat, Pengurus Daerah (Pengda), Pengurus Cabang (Pengcab), serta seluruh panitia yang telah bekerja keras sejak tahap persiapan hingga penutupan pendaftaran.

Ia mengungkapkan, banyak Pengda dan Pengcab yang secara aktif melakukan sosialisasi ke berbagai perguruan tinggi, SMA, dan SMK di daerah masing-masing. Bahkan, sejumlah pengurus turut memberikan dukungan dengan membantu pembiayaan atau menjadi sponsor bagi tim peserta agar dapat mengikuti kompetisi.

Di sisi lain, panitia juga berperan besar dalam meningkatkan jumlah peserta melalui sosialisasi yang intensif, komunikasi dengan berbagai institusi pendidikan, serta mendorong sekolah dan perguruan tinggi untuk mengirimkan lebih banyak regu dengan menjelaskan manfaat dan nilai tambah yang diperoleh dari kompetisi tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Pengurus Pusat, Pengda, Pengcab, dan panitia yang telah bekerja dengan penuh dedikasi. Sinergi yang luar biasa ini membuat penyelenggaraan LCC mendapat sambutan yang sangat baik. Banyak pengurus yang turun langsung ke kampus dan sekolah, bahkan ada yang memberikan dukungan sebagai sponsor bagi peserta. Panitia juga bekerja tanpa lelah melakukan sosialisasi dan mendorong bertambahnya jumlah regu yang mendaftar. Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama,” ujar Novalina.

Ia menambahkan, LCC bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari komitmen IKPI untuk membangun budaya sadar pajak sejak dini.

“Kami ingin mahasiswa dan pelajar tidak hanya berkompetisi, tetapi juga memahami bahwa pajak memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa. Melalui LCC, mereka dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan perpajakan, sekaligus menumbuhkan semangat untuk berkontribusi bagi Indonesia,” tuturnya.

Novalina berharap antusiasme peserta pada tahun ini menjadi awal yang baik bagi penyelenggaraan LCC pada tahun-tahun mendatang.

“Semoga seluruh rangkaian LCC HUT ke-61 IKPI dapat berjalan lancar hingga babak final dan memberikan manfaat yang besar bagi IKPI, dunia pendidikan, serta generasi muda Indonesia. Terima kasih kepada seluruh peserta, pengurus, panitia, sekolah, dan perguruan tinggi yang telah menjadi bagian dari keberhasilan penyelenggaraan LCC tahun ini,” ujarnya.(bl)

IKPI Dorong Anggota Terus Perbarui Kompetensi Hadapi Perubahan Regulasi

IKPI, Semarang: Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) mendorong seluruh anggotanya untuk terus memperbarui kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan regulasi perpajakan yang semakin dinamis. Penguatan kapasitas profesional dinilai menjadi kunci bagi konsultan pajak dalam memberikan layanan yang tepat dan berkualitas kepada wajib pajak.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Departemen Keanggotaan dan Etika IKPI, Robert Hutapea, saat mewakili Ketua Umum IKPI, Vaudy Starworld, membuka Seminar dan Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) gabungan IKPI Cabang Tegal, Semarang, Surakarta, Banyumas, dan Pengurus Daerah Jawa Tengah di Semarang, Kamis (9/7/2026). Ketua Umum IKPI berhalangan hadir karena memenuhi undangan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi XI DPR RI terkait pembahasan Rancangan Undang-Undang Pusat Finansial Internasional Indonesia.

Dalam sambutannya, Robert mengajak seluruh peserta memanfaatkan forum PPL untuk memperdalam pemahaman terhadap perubahan kebijakan perpajakan, khususnya pembahasan PP Nomor 20 Tahun 2026 tentang Pajak Penghasilan UMKM serta PMK Nomor 111 Tahun 2025 mengenai arah baru pengawasan kepatuhan wajib pajak di era Coretax.

Menurutnya, perubahan regulasi harus direspons dengan peningkatan kompetensi yang berkelanjutan agar konsultan pajak mampu memahami setiap ketentuan secara benar, jelas, dan akurat sebelum mengimplementasikannya dalam praktik profesional.

“Marilah kita semua memberikan perhatian yang khusus dalam seminar dan Pengembangan Profesional Berkelanjutan ini agar kita dapat lebih dalam lagi mengetahui dan membedah aturan tersebut dengan benar, jelas, dan akurat,” ujar Robert.

Ia menambahkan, PPL merupakan sarana strategis bagi anggota IKPI untuk memperbarui wawasan sekaligus meningkatkan kualitas layanan profesi di tengah semakin kompleksnya kebijakan perpajakan.

Selain mendorong peningkatan kompetensi, Robert juga mengajak seluruh anggota berpartisipasi menyukseskan rangkaian Hari Ulang Tahun ke-61 IKPI, di antaranya Lomba Cerdas Cermat, Jalan Sehat Serentak, turnamen golf, gowes, donor darah, seminar nasional, hingga puncak perayaan HUT IKPI pada 27 Agustus 2026.

Menurutnya, keterlibatan aktif anggota akan semakin memperkuat soliditas organisasi sekaligus memperluas kontribusi IKPI bagi dunia perpajakan Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Robert juga memperkenalkan berbagai kerja sama strategis yang telah dijalin IKPI dengan lembaga pendidikan, lembaga penyelenggara profesi, dan berbagai sektor bisnis sebagai bagian dari upaya memperluas peluang pengembangan kompetensi serta memberikan nilai tambah bagi seluruh anggota IKPI.

Setelah membuka acara, Robert dijadwalkan kembali mengisi sesi PPL dengan membawakan materi mengenai Kode Etik Konsultan Pajak, yang menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga profesionalisme dan integritas profesi. (bl)

PMK 44/2026 Larang Kuasa Pajak Bertindak di Luar Klasifikasi Izin

IKPI, Jakarta: Pemerintah mempertegas batas kewenangan kuasa di bidang perpajakan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 44 Tahun 2026. Dalam regulasi tersebut, setiap kuasa pajak diwajibkan menjalankan tugas sesuai dengan klasifikasi Izin Konsultan Pajak atau Surat Keterangan Terdaftar (SKT) yang dimilikinya. Ketentuan ini bertujuan memastikan setiap kuasa hanya menjalankan kewenangan sesuai kompetensi dan legalitas yang dimiliki.

Ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 9 PMK 44 Tahun 2026 yang memuat kewajiban kuasa di bidang perpajakan. Selain menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, dan menjaga kerahasiaan informasi wajib pajak, kuasa juga wajib melaksanakan hak dan/atau memenuhi kewajiban perpajakan sesuai dengan klasifikasi Izin Konsultan Pajak atau SKT.

Artinya, seorang Konsultan Pajak maupun pihak lain yang telah memperoleh SKT tidak dapat menjalankan tugas di luar ruang lingkup kewenangan yang diberikan berdasarkan izin atau status yang dimilikinya. Dengan demikian, pemerintah menegaskan bahwa kewenangan seorang kuasa tidak hanya ditentukan oleh adanya Surat Kuasa Khusus dari wajib pajak, tetapi juga oleh klasifikasi izin yang dimiliki kuasa tersebut.

Pengaturan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan profesionalisme dalam pelaksanaan kuasa di bidang perpajakan. Melalui pembatasan berdasarkan klasifikasi izin, setiap kuasa diharapkan menjalankan tugas sesuai kompetensinya sehingga kualitas pendampingan kepada wajib pajak tetap terjaga.

Selain mengatur batas kewenangan, PMK 44 Tahun 2026 juga mewajibkan kuasa mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan, menjunjung tinggi integritas, martabat, kehormatan, dan etika profesi, serta menjaga kerahasiaan seluruh informasi yang berkaitan dengan wajib pajak.

Pemerintah juga melarang kuasa menghalang-halangi pelaksanaan ketentuan perpajakan, termasuk dalam proses pemeriksaan. Apabila kuasa melanggar kewajiban, bertindak di luar ketentuan yang berlaku, atau melakukan pelanggaran lain sebagaimana diatur dalam PMK 44 Tahun 2026, yang bersangkutan dapat dikenai sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (bl)

Purbaya Kaji Revisi Aturan Pajak JHT, Batas Nilai Hingga Pajak Progresif Dievaluasi

IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang untuk merevisi aturan perpajakan atas manfaat Jaminan Hari Tua (JHT).

Pemerintah akan mengevaluasi sejumlah ketentuan, mulai dari batas nilai manfaat JHT yang dikenai pajak hingga mekanisme pajak progresif bagi pekerja yang beberapa kali mencairkan JHT akibat pemutusan hubungan kerja (PHK).

Komitmen tersebut disampaikan Purbaya saat menerima Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, di Jakarta, Selasa (8/7).

Pertemuan itu membahas berbagai masukan terkait kebijakan perpajakan atas manfaat JHT dan Jaminan Pensiun sebagai bagian dari evaluasi pemerintah terhadap sistem perpajakan jaminan sosial.

Dalam pertemuan tersebut, Said Iqbal mengusulkan sejumlah perubahan, di antaranya evaluasi pengenaan pajak JHT, peninjauan kembali mekanisme pajak progresif bagi pekerja yang beberapa kali mencairkan JHT karena PHK, penyesuaian batas nilai manfaat JHT yang dikenai pajak, hingga perubahan perlakuan perpajakan atas manfaat pensiun, tunjangan hari raya (THR), dan pesangon.

Menanggapi usulan tersebut, Purbaya menegaskan pemerintah akan mempelajari seluruh masukan secara komprehensif sebelum memutuskan perubahan kebijakan.

“Saya akan pelajari. Kita akan melihat kembali dasar kalibrasi yang digunakan saat ketentuan tersebut diterapkan, termasuk menyesuaikannya dengan perkembangan ekonomi saat ini, seperti inflasi maupun perubahan nilai riil,” ujar Purbaya dalam keterangannya, Rabu (8/7).

Ia mengatakan evaluasi tidak hanya mempertimbangkan aspirasi pekerja, tetapi juga dampaknya terhadap penerimaan negara, sasaran penerima manfaat, serta kesesuaian aturan dengan kondisi ketenagakerjaan saat ini.

Menurut Purbaya, pemerintah ingin memastikan kebijakan perpajakan tetap memberikan perlindungan kepada pekerja tanpa mengorbankan kesehatan fiskal negara.

“Kita tidak ingin membuat masyarakat semakin sulit. Yang sudah berjalan akan kita jaga, tetapi kita juga harus berhati-hati menghitung dampak kebijakannya terhadap penerimaan negara dan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Salah satu poin yang menjadi perhatian pemerintah ialah mekanisme pajak progresif bagi pekerja yang mengalami PHK lebih dari satu kali sehingga melakukan pencairan JHT secara berulang.

Purbaya menyebut skema tersebut akan ditelaah kembali untuk melihat apakah masih relevan dengan dinamika pasar kerja saat ini.

“Terkait pajak progresif ini akan kita pelajari. Kita ingin melihat apakah mekanisme yang ada saat ini masih relevan dengan kondisi ketenagakerjaan sekarang, termasuk bagi pekerja yang beberapa kali berpindah pekerjaan karena PHK,” ujarnya.

Selain itu, Kementerian Keuangan juga akan mengkaji kemungkinan penyesuaian terhadap ketentuan perpajakan yang masih mengacu pada regulasi lama agar sejalan dengan perkembangan sistem jaminan sosial dan perubahan kondisi ekonomi.

Purbaya menegaskan setiap perubahan kebijakan harus menjaga keseimbangan antara perlindungan pekerja, kepastian hukum, keberlanjutan program jaminan sosial, dan kesehatan fiskal negara.

Oleh karena itu, pemerintah akan terus membuka ruang dialog dengan berbagai pemangku kepentingan sebelum menetapkan kebijakan baru. (ds)

id_ID