Pemerintah Tegaskan PMK 44/2026 Diterbitkan untuk Lindungi Wajib Pajak

IKPI, Jakarta: Pemerintah menegaskan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 44 Tahun 2026 tentang Persyaratan Menjadi Kuasa di Bidang Perpajakan serta Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan Kewajiban Kuasa di Bidang Perpajakan diterbitkan bukan untuk membatasi hak wajib pajak dalam menunjuk kuasa. Sebaliknya, regulasi tersebut bertujuan melindungi wajib pajak agar memperoleh pendampingan dari pihak yang kompeten, profesional, dan berintegritas.

Penegasan itu disampaikan Direktur Peraturan Perpajakan II Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Heri Kuswanto saat membuka sosialisasi PMK Nomor 37 Tahun 2025 dan PMK Nomor 44 Tahun 2026 yang diikuti ribuan anggota dari empat asosiasi konsultan pajak secara daring, Rabu (15/7/2026).

“Semangat PMK 44 ini bukan untuk membatasi hak wajib pajak dalam menunjuk kuasa. Justru untuk memberikan perlindungan kepada wajib pajak agar mendapatkan pendampingan dari pihak yang memiliki kompetensi, profesionalisme, serta integritas yang memadai,” kata Heri.

Menurut Heri, perubahan regulasi tersebut merupakan tindak lanjut atas putusan judicial reviewterhadap ketentuan mengenai kuasa di bidang perpajakan. PMK 44/2026 diterbitkan untuk memberikan kepastian hukum, meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus menciptakan kesetaraan (level playing field) bagi seluruh pihak yang dapat bertindak sebagai kuasa wajib pajak.

Ia menjelaskan, sistem perpajakan Indonesia menganut self assessment, sehingga wajib pajak diberi kepercayaan untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri kewajiban perpajakannya. Namun, tidak semua wajib pajak memiliki kemampuan memahami ketentuan perpajakan yang terus berkembang sehingga membutuhkan pendampingan dari kuasa yang kompeten.

“Keberadaan konsultan pajak maupun kuasa di bidang perpajakan memegang peranan sangat penting. Karena itu diperlukan kompetensi, profesionalisme, dan integritas yang tinggi,” ujarnya.

Heri juga mengungkapkan jumlah konsultan pajak di Indonesia masih relatif terbatas dibandingkan kebutuhan wajib pajak. Karena itu, pemerintah memandang peran empat asosiasi konsultan pajak sebagai mitra strategis DJP semakin penting dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.

Selain PMK 44 Tahun 2026, sosialisasi juga membahas PMK Nomor 37 Tahun 2025 yang mengatur penunjukan pihak lain sebagai pemungut Pajak Penghasilan atas penghasilan pedagang dalam negeri melalui mekanisme perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE). Menurut Heri, aturan tersebut disusun untuk mewujudkan keadilan antara transaksi konvensional dan transaksi digital, sekaligus menyederhanakan administrasi perpajakan. (bl)

DJP Sebut Jumlah Konsultan Pajak di Indonesia Masih Sangat Kurang Dibandingkan Jepang

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menilai jumlah konsultan pajak di Indonesia masih jauh dari memadai dibandingkan kebutuhan layanan perpajakan nasional. Kondisi tersebut berbeda dengan Jepang yang memiliki jumlah konsultan pajak jauh lebih banyak sehingga mampu berperan besar dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada wajib pajak.

Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Peraturan Perpajakan II DJP Heri Kuswanto saat membuka Sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 37 Tahun 2025 dan PMK Nomor 44 Tahun 2026 yang diikuti ribuan anggota dari empat asosiasi konsultan pajak secara daring, Rabu (15/7/2026).

Peserta berasal dari Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I), Perkumpulan Praktisi dan Profesi Konsultan Pajak Indonesia (P3KPI), serta Perkumpulan Konsultan Praktisi Perpajakan Indonesia (PERKOPPI).

Menurut Heri, sistem perpajakan Indonesia menganut self assessment, sehingga wajib pajak diberikan kepercayaan untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri kewajiban perpajakannya. Namun, tidak semua wajib pajak memiliki kemampuan memahami ketentuan perpajakan yang terus berkembang.

Karena itu, keberadaan konsultan pajak menjadi sangat penting sebagai mitra yang membantu wajib pajak menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya secara benar.

“Kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya Jepang, jumlah konsultan pajak kita masih sangat kurang untuk memberikan edukasi yang cukup kepada wajib pajak. Di semua negara, edukasi perpajakan tidak hanya dilakukan oleh otoritas pajak, tetapi juga sangat bergantung pada asosiasi konsultan pajak,” kata Heri.

Ia menegaskan posisi konsultan pajak semakin strategis dalam mendukung peningkatan kepatuhan sukarela (voluntary compliance). Oleh karena itu, setiap konsultan maupun kuasa di bidang perpajakan harus memiliki kompetensi, profesionalisme, dan integritas yang tinggi.

Menurut Heri, hal tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah menerbitkan PMK Nomor 44 Tahun 2026 tentang Persyaratan Menjadi Kuasa di Bidang Perpajakan serta Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan Kewajiban Kuasa di Bidang Perpajakan.

Ia menepis anggapan bahwa regulasi baru tersebut membatasi hak wajib pajak dalam menunjuk kuasa.

“Semangat PMK 44 bukan untuk membatasi hak wajib pajak dalam menunjuk kuasa, tetapi justru memberikan perlindungan agar wajib pajak memperoleh pendampingan dari pihak yang memiliki kompetensi, profesionalisme, dan integritas yang memadai,” ujarnya.

Selain membahas PMK 44 Tahun 2026, DJP juga menyosialisasikan PMK Nomor 37 Tahun 2025mengenai penunjukan pihak lain sebagai pemungut Pajak Penghasilan atas penghasilan pedagang dalam negeri melalui mekanisme perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE).

Heri menjelaskan, regulasi tersebut diterbitkan untuk menciptakan keadilan antara transaksi konvensional dan transaksi digital, sekaligus menyederhanakan administrasi perpajakan bagi wajib pajak maupun otoritas pajak. (bl)

Ribuan Konsultan Pajak dari Empat Asosiasi Ikuti Sosialisasi PMK 37/2025 dan PMK 44/2026

IKPI, Jakarta: Ribuan anggota dari empat asosiasi konsultan pajak mengikuti sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 37 Tahun 2025 dan PMK Nomor 44 Tahun 2026 yang diselenggarakan secara daring, Rabu (15/7/2026). Kegiatan yang digelar Direktorat Jenderal Pajak (DJP) bersama empat asosiasi konsultan pajak tersebut dibuka oleh Direktur Peraturan Perpajakan II DJP, Heri Kuswanto.

Peserta berasal dari Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), Asosiasi Konsultan Pajak Publik Indonesia (AKP2I), Perkumpulan Praktisi dan Profesi Konsultan Pajak Indonesia (P3KPI), serta Perkumpulan Konsultan Praktisi Perpajakan Indonesia (PERKOPPI). Keempat asosiasi selama ini menjadi mitra strategis DJP dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada wajib pajak.

Dalam sambutannya, Heri Kuswanto menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terus terjalin antara DJP dan asosiasi konsultan pajak. Menurutnya, forum bersama seperti ini penting untuk menyamakan persepsi atas regulasi baru sehingga tidak menimbulkan perbedaan penafsiran di lapangan.

“Terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian dalam forum ini untuk menyamakan persepsi terkait peraturan-peraturan yang baru kami terbitkan,” ujar Heri.

Heri menjelaskan, PMK Nomor 44 Tahun 2026 diterbitkan sebagai upaya pemerintah menyempurnakan pengaturan mengenai kuasa di bidang perpajakan setelah adanya putusan uji materi (judicial review). Regulasi tersebut bertujuan memberikan kepastian hukum, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menjamin kompetensi, profesionalisme, dan integritas pihak yang menjadi kuasa wajib pajak.

Ia menegaskan bahwa semangat PMK 44 bukan membatasi hak wajib pajak dalam menunjuk kuasa, melainkan memberikan perlindungan agar wajib pajak memperoleh pendampingan dari pihak yang memiliki kompetensi dan integritas yang memadai.

“Keberadaan konsultan pajak maupun kuasa di bidang perpajakan memegang peranan sangat penting dalam membantu wajib pajak melaksanakan hak dan memenuhi kewajibannya. Karena itu, kompetensi, profesionalisme, dan integritas menjadi hal yang sangat penting,” katanya.

Heri juga menyoroti masih terbatasnya jumlah konsultan pajak di Indonesia dibandingkan kebutuhan edukasi perpajakan yang terus meningkat. Oleh sebab itu, ia berharap asosiasi konsultan pajak semakin aktif membantu DJP memberikan edukasi kepada masyarakat.

Selain PMK 44 Tahun 2026, sosialisasi juga membahas PMK Nomor 37 Tahun 2025 tentang penunjukan pihak lain sebagai pemungut Pajak Penghasilan serta tata cara pemungutan, penyetoran, dan pelaporan Pajak Penghasilan atas penghasilan pedagang dalam negeri melalui mekanisme perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE).

Menurut Heri, regulasi tersebut disusun untuk menciptakan keadilan perlakuan perpajakan antara transaksi konvensional dan transaksi digital, sekaligus menyederhanakan administrasi perpajakan.

“PMK 37 disusun dengan dilatarbelakangi prinsip kemudahan, kesederhanaan, dan keadilan. Perkembangan transaksi digital menuntut sistem perpajakan beradaptasi tanpa mengabaikan kemudahan administrasi bagi wajib pajak maupun otoritas pajak,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia dari Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas) DJP, Agus Budi Harjo, mengatakan semula kegiatan hanya akan membahas PMK 37 Tahun 2025. Namun, atas arahan pimpinan DJP, materi diperluas dengan pembahasan PMK 44 Tahun 2026 karena dinilai perlu segera dipahami oleh para konsultan pajak.

Ia berharap ribuan peserta dari empat asosiasi dapat menjadi perpanjangan tangan DJP dalam menyosialisasikan kedua regulasi tersebut kepada para wajib pajak.

“Kami berharap setelah sosialisasi ini para konsultan pajak memiliki persepsi yang sama terhadap PMK 37 dan PMK 44, kemudian dapat meneruskan edukasi kepada klien dan wajib pajak sehingga implementasi kedua peraturan ini dapat berjalan dengan baik,” kata Agus.

Selain memberikan pemahaman mengenai substansi regulasi, DJP juga membuka ruang diskusi untuk menghimpun berbagai masukan dari para konsultan pajak. Berbagai saran tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan materi edukasi, strategi komunikasi, hingga penyusunan frequently asked questions (FAQ) sebagai pedoman implementasi kedua PMK di lapangan.

Heri berharap kolaborasi antara DJP dan empat asosiasi konsultan pajak terus diperkuat sehingga penerapan PMK Nomor 37 Tahun 2025 dan PMK Nomor 44 Tahun 2026 dapat berlangsung dengan baik, meningkatkan kepatuhan sukarela wajib pajak, serta mendukung terciptanya sistem administrasi perpajakan yang lebih sederhana, adil, dan berkepastian hukum. (bl)

Pendirian PT Bermodal Besar Kini Kena Biaya Rp 5 Juta, Tarif Melonjak 354,5%

IKPI, Jakarta: Pemerintah mengubah struktur tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk layanan pendirian Perseroan Terbatas (PT) dengan membedakan besaran biaya berdasarkan nilai modal dasar perusahaan.

Perubahan tersebut membuat biaya pendirian PT bermodal besar naik signifikan.

Ketentuan itu diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 30 Tahun 2026 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis PNBP yang Berlaku pada Kementerian Hukum.

Regulasi tersebut menggantikan PP Nomor 45 Tahun 2024.
PP tersebut ditandatangani Presiden Prabowo Subianto pada 2 Juli 2026 dan akan mulai berlaku pada 1 Agustus 2026 atau 30 hari sejak diundangkan.

“Seluruh PNBP yang berlaku pada Kementerian Hukum wajib disetor ke kas negara,” demikian bunyi Pasal 7 PP Nomor 30 Tahun 2026, dikutip Rabu (15/7).

Dalam beleid baru, pemerintah tidak lagi menerapkan satu tarif untuk seluruh PT dengan modal dasar di atas Rp 1 miliar. Kini, tarif dibagi menjadi dua kelompok.

Untuk pendirian PT dengan modal dasar lebih dari Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar, biaya permohonan ditetapkan sebesar Rp 1,5 juta. Adapun pendirian PT dengan modal dasar di atas Rp 5 miliar dikenakan tarif Rp 5 juta per permohonan.

Sebelumnya, berdasarkan PP Nomor 45 Tahun 2024, seluruh PT dengan modal dasar di atas Rp 1 miliar hanya dikenai tarif Rp 1,1 juta tanpa membedakan besaran modal.

Dengan perubahan tersebut, biaya pendirian PT bermodal di atas Rp 5 miliar meningkat Rp 3,9 juta dibandingkan tarif sebelumnya. Kenaikan itu setara sekitar 354,5%.

Sementara itu, tarif pendirian PT dengan modal dasar hingga Rp 25 juta tidak mengalami perubahan dan tetap sebesar Rp 300 ribu per permohonan. Begitu pula untuk PT dengan modal dasar lebih dari Rp 25 juta hingga Rp 1 miliar yang tetap dikenakan biaya Rp 600 ribu.

Selain mengubah tarif pendirian PT, pemerintah juga merevisi sejumlah tarif layanan badan hukum lainnya.

Biaya perubahan anggaran dasar tanpa perubahan nama perseroan naik dari Rp 1 juta menjadi Rp 1,1 juta. Sementara itu, perubahan anggaran dasar yang disertai perubahan nama meningkat dari Rp 1,1 juta menjadi Rp 1,2 juta.

Pemerintah juga menyederhanakan tarif pemberitahuan perubahan anggaran dasar maupun perubahan data perseroan.

Jika sebelumnya dikenakan tarif bertingkat antara Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu sesuai besaran modal, kini seluruh permohonan dikenai tarif tunggal sebesar Rp 250 ribu. (ds)

Peringati Hari Pajak, DJP Optimistis Target Penerimaan 2026 Bisa Tercapai

IKPI, Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan memperingati Hari Pajak 2026 dengan mengusung tema “Pajak Tumbuh, Indonesia Tangguh.”

Tema tersebut menegaskan peran strategis pajak sebagai fondasi pembangunan nasional sekaligus instrument penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.

Hari Pajak yang diperingati setiap tanggal 14 Juli dengan merujuk pada momentum historis tahun 1945 ketika kata “pajak” pertama kali dimuat dalam rancangan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Peringatan tersebut kemudian ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-313/PJ/2017, diperingati setiap tahun sebagai momentum untuk meneguhkan kembali arti penting pajak bagi keberlangsungan negara.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengatakan bahwa sepanjang paruh pertama 2026, penerimaan pajak telah mencapai Rp1.035,7 triliun atau 43,9% dari target APBN sebesar Rp2.357,7 triliun.

Realisasi ini tumbuh 24,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurutnya, pertumbuhan tersebut menunjukkan fundamental perekonomian Indonesia semakin kuat.

“Momentum ini harus terus dijaga agar target penerimaan dapat tercapai secara optimal. Kita harus terus berupaya menciptakan kinerja penerimaan yang berkelanjutan demi kesehatan fiskal negara,” ujar Bimo dalam keterangannya, Rabu (15/7).

Bimo menambahkan bahwa pajak merupakan tulang punggung utama APBN yang berperan dalam membiayai pendidikan, layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial serta berbagai pelayanan publik lainnya.

Ketika pajak tumbuh, kemampuan negara untuk melindungi, melayani, dan menyejahterakan masyarakat juga semakin kuat.

Dalam rangka memperingati Hari Pajak Tahun 2026, DJP menyelenggarakan berbagai kegiatan secara serentak di seluruh Indonesia.

Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan pegawai, wajib pajak, mitra strategis, dan masyarakat, yang mencakup kegiatan sosial, edukasi, olahraga, seni, serta forum dialog perpajakan.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, DJP terus menumbuhkan kesadaran bahwa pajak merupakan wujud gotong royong seluruh elemen bangsa.

Pajak yang dihimpun dikembalikan kepada masyarakat dalam berbagai bentuk manfaat, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan, pemberian subsidi dan bantuan sosial, hingga pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.

Peringatan Hari Pajak 2026 juga menjadi momentum untuk mendorong kepatuhan sukarela, memperkuat kepercayaan publik, serta meningkatkan kualitas layanan perpajakan melalui transformasi digital, penguatan integritas dan pendekatan yang semakin kolaboratif.

Dengan semangat “Pajak Tumbuh, Indonesia Tangguh,” DJP mengajak seluruh masyarakat untuk terus mengambil bagian dalam pembangunan bangsa melalui melalui pemenuhan kewajiban perpajakan.

Kontribusi setiap wajib pajak merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk mewujudkan Indonesia yang semakin kuat, adil, sejahtera dan berkelanjutan. (ds)

Mantan Pejabat DJP Imbau Investor Kripto Lapor Aset Sebelum Skema Pelaporan Global Berlaku

IKPI, Kabupaten Tangerang: Mantan Kasubdit Divisi Penegakan Hukum, Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Dr. Wahyu Widodo, mengimbau para investor aset kripto untuk segera melaporkan kepemilikan aset digitalnya sebelum skema pelaporan aset kripto lintas negara mulai diberlakukan. Langkah tersebut dinilai penting agar wajib pajak terhindar dari potensi permasalahan perpajakan di masa mendatang.

Imbauan itu disampaikan Wahyu saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Program Magister Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH) bertema “Penerapan Sistem Pajak terhadap Era Keuangan Digital” di Kampus UPH Lippo Village, Kabupaten Tangerang, Selasa (14/7/2026).

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Crypto-Asset Reporting Framework (CARF) yang dikembangkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) akan menjadi mekanisme pertukaran informasi aset kripto antarnegara. Melalui skema tersebut, informasi mengenai kepemilikan maupun transaksi aset kripto dapat dipertukarkan untuk mendukung pengawasan perpajakan.

Menurut Wahyu, mekanisme tersebut akan memperkuat transparansi transaksi aset digital, termasuk yang dilakukan melalui exchanger di luar negeri. Karena itu, ia mengajak para investor untuk secara sukarela memenuhi kewajiban perpajakan sebelum sistem tersebut diterapkan.

“Sebelum adanya CARF, marilah kita laporkan secara sukarela. Kalau memang sudah memiliki aset kripto, sampaikan dengan benar dalam pelaporan perpajakan,” ujarnya.

Wahyu menjelaskan bahwa apabila data kepemilikan aset kripto yang diterima melalui mekanisme pertukaran informasi internasional tidak sesuai dengan pelaporan wajib pajak, kondisi tersebut dapat menjadi dasar bagi otoritas pajak untuk melakukan klarifikasi, bahkan berpotensi berlanjut pada penegakan hukum apabila ditemukan pelanggaran ketentuan perpajakan.

Ia menambahkan, Indonesia juga terus memperkuat sistem administrasi perpajakan melalui integrasi data dari berbagai sumber. Menurutnya, informasi yang diperoleh melalui kerja sama internasional akan menjadi bagian dari proses pengawasan kepatuhan wajib pajak sehingga pelaporan aset secara benar menjadi semakin penting.

Selain itu, Wahyu mengimbau masyarakat yang masih ragu mengenai tata cara pelaporan aset kripto agar berkonsultasi dengan Account Representative (AR) di kantor pajak atau konsultan pajak. Langkah tersebut dinilai dapat membantu wajib pajak memenuhi kewajibannya sesuai ketentuan yang berlaku.

Di akhir pemaparannya, ia menegaskan bahwa kepatuhan sukarela merupakan langkah terbaik dalam menghadapi sistem perpajakan yang semakin terdigitalisasi dan terintegrasi secara global.

Menurutnya, semakin awal wajib pajak melaporkan aset dan memenuhi kewajibannya, semakin kecil pula potensi timbulnya persoalan perpajakan di kemudian hari. (bl)

Edukator Ingatkan Masyarakat Lunasi Utang dan Bangun Cash Flow Sebelum Investasi Kripto

IKPI, Kabupaten Tangerang: Content Creator sekaligus Edukator Kripto Sulianto Indria Putramengingatkan masyarakat agar membangun fondasi keuangan yang sehat sebelum berinvestasi di aset kripto. Menurutnya, melunasi utang dan memperkuat cash flow harus menjadi prioritas sebelum mengalokasikan dana ke instrumen investasi yang berisiko tinggi.

Pesan tersebut disampaikan Sulianto saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Program Magister Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH) bertema “Penerapan Sistem Pajak terhadap Era Keuangan Digital” di Kampus UPH Lippo Village, Kabupaten Tangerang, Selasa (14/7/2026).

Dalam paparannya, edukator kripto itu menilai kondisi ekonomi saat ini masih penuh tantangan sehingga masyarakat perlu lebih bijak dalam mengelola keuangan. Ia mengaku banyak pelaku usaha yang merasakan tekanan ekonomi, sehingga pengelolaan keuangan pribadi menjadi semakin penting.

Menurut Sulianto, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyelesaikan berbagai kewajiban utang, termasuk menghindari penggunaan fasilitas paylater maupun pinjaman daring sebelum mulai berinvestasi.

“Kalau ada utang, coba dilunasi dulu. Hindari Shopee PayLater, hindari pinjaman online. Sebelum memikirkan untung dari kripto, selesaikan dulu fondasi keuangannya,” ujarnya.

Setelah kondisi keuangan lebih sehat, praktisi aset digital itu menyarankan masyarakat untuk memperbesar sumber pendapatan dan cash flow. Caranya dapat dilakukan dengan mencari pekerjaan tambahan, membangun usaha sampingan, atau mengembangkan keterampilan yang mampu menghasilkan pendapatan baru.

Ia juga mengingatkan para mahasiswa maupun lulusan baru agar tidak terlalu selektif dalam memilih pekerjaan pada masa ekonomi yang menantang. Menurutnya, memiliki pekerjaan yang stabil merupakan langkah penting sebelum mulai membangun portofolio investasi.

“Yang penting sekarang stabil dulu. Setelah itu baru mulai berinvestasi,” katanya.

Lebih lanjut, Sulianto menegaskan dirinya tidak hanya berpandangan pada aset kripto sebagai satu-satunya instrumen investasi. Menurutnya, investor perlu menempatkan dana pada instrumen yang memiliki prospek sesuai dengan kondisi pasar dan kemampuan keuangan masing-masing.

Di akhir pemaparannya, investor muda tersebut mengingatkan bahwa investasi bukanlah jalan pintas untuk memperoleh keuntungan. Sebaliknya, investasi perlu didukung dengan kondisi keuangan yang sehat, pengetahuan yang memadai, serta kemampuan mengelola risiko agar tujuan keuangan dapat tercapai secara berkelanjutan.

“Jangan sekarang sibuk memikirkan bagaimana untung besar dari kripto, tetapi belum tahu bagaimana membangun penghasilan. Perkuat dulu fondasi keuangan, baru mulai berinvestasi,” pungkasnya. (bl)

Sebanyak 190 Tim Ikuti Penyisihan LCC SMA/SMK IKPI, Vaudy Starworld Tekankan Pajak Wujud Gotong Royong Anak Bangsa

IKPI, Jakarta: Sebanyak 190 tim dari SMA dan SMK di berbagai daerah di Indonesia mengikuti babak penyisihan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Akuntansi dan Perpajakan Nasional yang diselenggarakan Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), Rabu (15/7/2026). Saat membuka kompetisi tersebut, Ketua Umum IKPI Vaudy Starworld menegaskan bahwa pajak merupakan wujud gotong royong anak bangsa sehingga pemahaman mengenai perpajakan perlu ditanamkan sejak dini kepada generasi muda.

Vaudy mengatakan, LCC Akuntansi dan Perpajakan Nasional merupakan salah satu bentuk komitmen IKPI sebagai asosiasi konsultan pajak terbesar dan tertua di Indonesia dalam meningkatkan literasi perpajakan masyarakat. Melalui kompetisi ini, para pelajar tidak hanya diajak memahami konsep dan regulasi akuntansi dan perpajakan, tetapi juga menyadari bahwa pajak menjadi instrumen penting untuk mendukung pembangunan nasional.

Menurutnya, setiap warga negara memiliki peran dalam pembangunan melalui kepatuhan membayar pajak. Karena itu, membangun kesadaran perpajakan sejak di bangku sekolah diharapkan dapat melahirkan generasi yang memahami pentingnya berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

“IKPI sebagai asosiasi konsultan pajak ya g memiliki lebih dari 8.000 anggota berkomitmen meningkatkan literasi perpajakan masyarakat sejak dini,” ujar Vaudy saat membuka penyisihan LCC Akuntansi dan Perpajakan Nasional SMA/SMK.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan LCC Akuntansi dan Perpajakan tingkat SMA/SMK merupakan yang pertama kali digelar IKPI. Ke depan, kompetisi tersebut akan menjadi agenda rutin. Tahun ini juga IKPI menggelar lomba yang sama tetapi untuk tingkat perguruan tinggi. Harapanhya, para peserta dapat terus mengasah pengetahuan akuntansi dan perpajakan.

“Kami berharap adik-adik yang saat ini mengikuti lomba, tahun depan dapat kembali berkompetisi untuk mewakili kampusnya. Dengan begitu, semangat belajar akuntasi dan perpajakan akan terus tumbuh di setiap jenjang pendidikan,” katanya.

Selain mengasah kemampuan akademik, Vaudy mengingatkan seluruh peserta untuk menjunjung tinggi sportivitas, integritas, dan semangat kebersamaan selama mengikuti perlombaan.

“Juara akan dikenang melalui prestasinya, tetapi karakter yang baik akan dikenang lebih lama. Karena itu, mari tunjukkan kemampuan terbaik dengan tetap menjunjung tinggi integritas dan semangat untuk terus maju,” tuturnya.

Vaudy juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, kepala sekolah, dan guru pendamping yang telah mendukung pelaksanaan LCC Akuntansi dan Perpajakan Nasional sejak proses pendaftaran hingga babak penyisihan.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan generasi muda yang cerdas, berintegritas, dan memiliki kesadaran bahwa pajak merupakan bentuk gotong royong seluruh anak bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju. (bl)

Edukator Kripto Ingatkan Generasi Muda Utamakan Literasi Sebelum Berinvestasi

IKPI, Kabupaten Tangerang: Content Creator sekaligus Edukator Kripto, Sulianto Indria Putra, mengajak generasi muda untuk mengutamakan literasi keuangan dan investasi sebelum terjun ke pasar aset kripto. Menurutnya, kondisi pasar yang sedang lesu justru menjadi momentum terbaik untuk memperdalam pengetahuan, bukan terburu-buru mengejar keuntungan.

Pesan tersebut disampaikan Sulianto saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Program Magister Hukum Universitas Pelita Harapan (UPH) bertema “Penerapan Sistem Pajak terhadap Era Keuangan Digital” di Kampus UPH Lippo Village, Kabupaten Tangerang, Selasa (14/7/2026).

Dalam pemaparannya, edukator kripto itu mengingatkan bahwa aset kripto memiliki tingkat volatilitas yang tinggi sehingga setiap keputusan investasi harus didasarkan pada pemahaman yang memadai. Karena itu, ia menegaskan bahwa materi yang disampaikannya bukan merupakan ajakan untuk membeli ataupun menjual aset kripto.

“Yang namanya kripto sangat volatil. Teman-teman bisa kehilangan uang ketika berinvestasi di kripto,” ujarnya.

Menurut Sulianto, banyak orang hanya melihat potensi keuntungan tanpa memahami risiko yang melekat pada aset digital. Padahal, dari jutaan aset kripto yang pernah diciptakan, hanya sebagian kecil yang mampu bertahan.

Ia menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini sedang berada dalam fase pelemahan sehingga bukan waktu yang tepat untuk memaksakan diri mencari keuntungan besar. Sebaliknya, kondisi tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk memperkaya pengetahuan mengenai investasi, memahami karakter pasar, serta mempelajari manajemen risiko.

“Sekarang itu waktunya buat belajar, bukan buat cari duit,” katanya.

Lebih lanjut, praktisi aset digital itu mendorong generasi muda untuk memperluas literasi melalui berbagai sumber, seperti buku, kelas, komunitas, maupun materi edukasi yang tersedia di berbagai platform. Dengan bekal pengetahuan yang memadai, investor dinilai akan lebih siap menghadapi dinamika pasar yang selalu berubah.

Selain meningkatkan literasi, Sulianto juga mengingatkan pentingnya membangun kondisi keuangan yang sehat sebelum mulai berinvestasi. Menurutnya, seseorang sebaiknya menyelesaikan kewajiban utang, memperkuat arus kas, dan memiliki sumber pendapatan yang stabil sebelum mengalokasikan dana ke instrumen investasi berisiko seperti aset kripto.

Ia juga menegaskan, investasi bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek, melainkan proses membangun kemampuan dalam mengambil keputusan keuangan secara bijak. Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk menjadikan literasi sebagai modal utama sebelum memasuki dunia investasi, termasuk investasi aset kripto. (bl)

Purbaya Pastikan Tak Akan Buru Orang Kaya demi Kejar Target Pajak

IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak akan memburu wajib pajak orang kaya meski tengah berupaya memperluas basis perpajakan.

Menurutnya, strategi peningkatan penerimaan negara dilakukan dengan menjaring wajib pajak yang selama ini belum memenuhi kewajiban, bukan memberikan tekanan kepada mereka yang sudah patuh membayar pajak.

“Kalau udah bayar pajak ya sudah. Saya enggak akan ngejar-ngejar orang kaya. Orang kaya saya periksa terus sampai dia bangkrut, enggak begitu,” ujar Purbaya di Gedung DPR RI, dikutip Rabu (15/7).

Purbaya menegaskan pemerintah tetap mempertahankan pendekatan yang tidak mengganggu aktivitas ekonomi para pelaku usaha maupun masyarakat yang telah memenuhi kewajiban perpajakan.

Ia mengibaratkan kebijakan tersebut sebagai upaya menjaga sumber penerimaan negara tanpa merusak sumber penghasilannya.

“Saya enggak akan memotong angsa emasnya. Saya akan mengumpulkan telurnya, kira-kira begitu,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya menjelaskan langkah perluasan basis pajak akan difokuskan kepada pelaku usaha yang selama ini belum tersentuh administrasi perpajakan.

Salah satunya adalah penarikan Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari pelaku usaha online.

“Salah satu yang kita kerjakan itu pajak penghasilan dan PPN dari yang jualan online kan. Tadinya didiamkan, sekarang kita minta bayar, kayak gitu,” jelasnya.

Selain sektor digital, pemerintah juga mulai memetakan potensi penerimaan dari sektor informal. Namun, Purbaya belum mengungkap sektor mana saja yang akan menjadi target berikutnya karena masih dalam tahap pembahasan.

“Saya tahu sektor-sektor mana, tapi kan saya diskusi yang lebih dalam dulu ya,” katanya.

Purbaya menekankan strategi pemerintah saat ini adalah memperluas jumlah wajib pajak yang membayar sesuai ketentuan, bukan menaikkan tarif pajak. Dengan demikian, peningkatan penerimaan diharapkan berasal dari bertambahnya basis pajak.

“Semangat kita adalah tidak menaikkan tarif pajak tapi yang harus bayar pajak ya bayar, gitu. Jadi itu maksudnya ekstensifikasi untuk menjaring yang tadinya harusnya bayar pajak enggak bayar, jadi bayar,” ucapnya.

Menurut Purbaya, tambahan penerimaan negara dari kebijakan tersebut pada akhirnya akan digunakan untuk meningkatkan berbagai program bagi masyarakat. (ds)

en_US