IKPI, Jakarta: Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam jalur yang sesuai atau on track di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Juda mengatakan, salah satu indikator yang menunjukkan kondisi fiskal tetap terjaga adalah pertumbuhan penerimaan negara yang mencapai sekitar 24%.
“Alhamdulillah, kondisi fiskal kita saat ini on track. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang sedang kita hadapi, penerimaan negara tumbuh stabil, sekitar 24%,” ujar Juda dalam acara Peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia dan Peluncuran Produk ETF Emas, Senin (10/8).
Menurutnya, selain penerimaan yang tumbuh stabil, belanja negara juga terus berperan sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi. Pada saat yang sama, defisit fiskal masih terkendali dalam batas yang aman.
“Kami di Kementerian Keuangan bekerja keras untuk menjaga kesehatan APBN sebagai instrumen utama pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, sekaligus menjaga kehati-hatian dalam mengelola posisi fiskal,” katanya.
Juda menegaskan pemerintah tetap menjaga defisit fiskal di bawah 3%. Menurut dia, keseimbangan antara penerimaan, belanja, dan pengendalian defisit menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan APBN.
Di sisi lain, Juda mengingatkan bahwa kapasitas APBN memiliki keterbatasan untuk memenuhi seluruh kebutuhan pembiayaan pembangunan nasional.
Kebutuhan tersebut mencakup pembangunan infrastruktur, energi, pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia hingga hilirisasi.
“APBN saja itu tidak pernah cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan kita,” katanya.
Untuk itu, pemerintah mendorong sumber pembiayaan di luar APBN, termasuk sektor swasta dan pasar modal. Juda menyebut kebutuhan investasi Indonesia pada 2027 diperkirakan mencapai Rp 8.705 triliun.
Dari kebutuhan tersebut, APBN diperkirakan hanya mampu menjangkau sekitar Rp 459 triliun. Sementara BUMN, termasuk Danantara, diproyeksikan berkontribusi sekitar Rp 330 triliun.
Dengan demikian, sebagian besar kebutuhan investasi harus berasal dari pembiayaan swasta yang mencapai sekitar Rp 7.973 triliun atau 91% dari total kebutuhan investasi.
Juda menilai pasar modal memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan tersebut karena menjadi jembatan antara kebutuhan pembiayaan korporasi dan dana masyarakat.
Menurut Juda, penguatan pasar modal menjadi semakin penting agar Indonesia memiliki sumber pembiayaan yang lebih dalam, likuid, transparan, dan kredibel untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional. (sw)





