IKPI, Jakarta: Kementerian Keuangan melaporkan realisasi penerimaan pajak hingga April 2026 mencapai Rp646,3 triliun. Angka tersebut meningkat 16,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp556,9 triliun.
Pertumbuhan penerimaan pajak tersebut ditopang oleh mayoritas sektor utama yang masih mencatatkan kinerja positif hingga awal kuartal II-2026.
Dalam paparan APBN Kita, sektor perdagangan menjadi kontributor terbesar dengan penerimaan neto mencapai Rp 161 triliun atau berkontribusi sekitar 24,9% terhadap total penerimaan.
Sektor ini juga mencatatkan pertumbuhan dua digit dengan pertumbuhan bruto 14,8% dan neto 47,6% hingga April 2026.
“Tumbuh double digits dipengaruhi oleh subsektor perdagangan besar bahan bakar minyak (BBM) dan perdagangan online sejalan dengan peningkatan tren belanja online,” dikutip dari laporan APBN Kita, Minggu (25/5).
Sementara itu, sektor industri pengolahan mencatatkan penerimaan neto sebesar Rp 145,3 triliun dengan kontribusi 22,5%. Hingga April 2026, sektor ini tumbuh dengan pertumbuhan bruto 9,8% dan neto 8,4%.
Pemerintah menilai pertumbuhan industri pengolahan ditopang oleh membaiknya kinerja subsektor industri minyak kelapa sawit yang mencatat peningkatan profitabilitas.
Di sektor pertambangan, penerimaan neto mencapai Rp 56,7 triliun atau menyumbang sekitar 8,8% terhadap total penerimaan. Pertumbuhan sektor ini tercatat sebesar 1% secara bruto dan 6,8% secara neto hingga April 2026.
Kinerja pertambangan terutama ditopang oleh subsektor minyak dan gas bumi (migas) yang masih menunjukkan pertumbuhan positif di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Adapun sektor konstruksi dan real estat mencatatkan penerimaan neto Rp 24,2 triliun dengan kontribusi 3,7%. Hingga April 2026, sektor ini tumbuh 2,4% secara bruto dan 0,8% secara neto.
Pertumbuhan sektor konstruksi dan real estat terutama berasal dari subsektor real estat yang dimiliki sendiri, seiring masih berjalannya aktivitas pembangunan dan properti domestik.
Secara keseluruhan, pemerintah melihat mayoritas sektor utama yang berkontribusi besar terhadap penerimaan negara masih mampu mempertahankan tren pertumbuhan positif hingga awal kuartal II-2026. (ds)
