IKPI, Jakarta: Kinerja penerimaan pajak yang melonjak pada awal 2026 menjadi salah satu faktor yang meyakinkan lembaga pemeringkat internasional S&P Global untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level investment grade dengan outlook stabil.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, dalam pertemuan dengan S&P di Washington DC, pihaknya memaparkan perkembangan positif penerimaan negara, khususnya dari sektor pajak dan cukai.
Pada dua bulan pertama tahun ini, penerimaan pajak tercatat tumbuh hingga 30%, sementara secara kumulatif Januari–Maret meningkat sekitar 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Purbaya, capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kemampuan fiskal Indonesia tetap terjaga, sekaligus memperkuat keyakinan S&P terhadap prospek pengelolaan keuangan negara ke depan.
Ia menjelaskan, penguatan penerimaan negara tidak terlepas dari langkah reformasi kelembagaan yang dilakukan pemerintah, termasuk restrukturisasi organisasi Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan efektivitas pengumpulan penerimaan sekaligus memperbaiki kepatuhan wajib pajak.
“Saya sampaikan ke mereka kita sudah restrukturisasi organisasi Pajak dan Cukai supaya performnya lebih baik,” ujar Purbaya dalam keterangannya, dikutip Sabtu (18/4).
Selain itu, pemerintah juga menegaskan komitmennya menjaga disiplin fiskal, terutama dengan memastikan defisit anggaran tetap berada di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Kebijakan ini dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kredibilitas fiskal di mata investor global.
Dalam evaluasinya, S&P memang sempat menyoroti rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara yang berada di atas 15%.
Namun, pemerintah meyakinkan bahwa indikator tersebut masih dalam batas aman dan akan terus dipantau secara ketat seiring dengan upaya peningkatan penerimaan negara.
Purbaya menambahkan, perbaikan kinerja ekonomi juga turut memperkuat penilaian positif S&P. Indikator menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi pada kuartal IV tahun lalu, yang menjadi salah satu dasar bagi lembaga pemeringkat tersebut untuk mempertahankan outlook stabil bagi Indonesia. (ds)
