KPK Periksa Mantan Direktur Penagihan DJP di Kasus RAT

IKPI, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Direktorat Jendral Pajak (DJP) Amri Zaman sebagai saksi kasus dugaan tindak pidana korupsi dengan tersangka mantan pejabat Ditjen Pajak Rafael Alun Trisambodo (RAT).

“Saksi hadir dan didalami pengetahuannya antara lain terkait dengan dugaan adanya investasi dan kerja sama bisnis keuangan bersama tersangka RAT,” kata Kepala Bagian Pemberitaan KPK Ali Fikri seperti dikutip dari Antaranews.com, Selasa (15/8/2023).

Saksi diperiksa penyidik lembaga antirasuah pada Senin (14/8/2023) di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan.

Meski demikian Ali tidak menjelaskan soal jenis bisnis tersebut maupun jumlah uang yang diinvestasikan dalam bisnis tersebut.

Sebelumnya, pada Senin, 31 Juli 2023, KPK mengumumkan berkas perkara kasus Rafael Alun Trisambodo telah dinyatakan lengkap atau P21 dan siap disidangkan.

“Pemberkasan perkara yang dinyatakan lengkap untuk saat ini adalah dugaan penerimaan gratifikasi, sedangkan untuk pemberkasan perkara dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) masih berproses untuk melengkapi alat buktinya,” kata Ali.

Penahanan terhadap Rafael Alun tetap dilakukan untuk 20 hari ke depan sampai dengan 19 Agustus 2023 di Rutan KPK.

“Tim Jaksa segera menyusun dakwaan sekaligus melimpahkan berkas perkaranya ke Pengadilan Tipikor dalam waktu 14 hari kerja,” ujarnya.

KPK resmi menahan dan menyematkan rompi jingga bertuliskan “Tahanan KPK” kepada Rafael Alun Trisambodo pada 3 April 2023.

Rafael Alun Trisambodo ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan menerima gratifikasi dari beberapa wajib pajak atas pengondisian berbagai temuan pemeriksaan perpajakan.

Tersangka Rafael diduga memiliki beberapa perusahaan, salah satunya PT Artha Mega Ekadhana (AME) yang bergerak dalam bidang jasa konsultasi terkait dengan pembukuan dan perpajakan. Rafael diduga menerima aliran uang sebesar 90.000 dolar Amerika Serikat melalui PT AME itu.

Alat bukti lain yang disita penyidik KPK adalah kotak penyimpanan harta berisi uang sekitar Rp32,2 miliar di salah satu bank dalam bentuk pecahan mata uang dolar AS, mata uang dolar Singapura, dan mata uang euro.

Atas perbuatannya, tersangka Rafael Alun Trisambodo dijerat dengan Pasal 12B Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Penyidik lembaga antirasuah itu kemudian menetapkan Rafael Alun Trisambodo sebagai tersangka dalam kasus dugaan TPPU pada 10 Mei 2023.

Setelah dilakukan penetapan tersangka dalam kasus TPPU, penyidik KPK mulai melakukan penyitaan terhadap aset-aset tersangka RAT yang diduga berasal dari hasil korupsi.

Sejauh ini, KPK telah menyita aset berupa 20 bidang tanah dan bangunan serta sejumlah kendaraan bermotor senilai Rp150 miliar. (bl)

Pemerintah Sebut Penerimaan Pajak Nikel Naik 10 Kali Lipat

IKPI, Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) buka suara perihal nilai pajak yang diproleh Indonesia melalui program hilirisasi atau pemurnian dan pemrosesan khususnya pada sektor pertambangan.

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto mengatakan bahwa Indonesia berhasil memperoleh pemasukan dari pajak khususnya pada tax holiday hilirisasi nikel di tahun 2022 mencapai Rp 17,96 triliun. Hal itu terhitung melonjak drastis bila dibandingkan dengan tahun 2016 yang hanya sebesar Rp 1,66 triliun.

“Penerimaan perpajakan tahun 2022 dari sektor hilirisasi nikel adalah Rp 17.96 triliun, atau naik sebesar 10.8x dibandingkan tahun 2016 sebesar 1.66 triliun,” ujar Seto dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu (16/8/2023).

Baca: Bungkam Faisal Basri, Sosok Ini Bongkar 6 Fakta Hilirisasi RI
Adapun seto juga mengungkapkan pendapatan negara melalui Pajak Penghasilan (PPh) Badan sektor hilirisasi nikel di tahun 2022 mencapai Rp 7,36 triliun yang mana naik drastis dari tahun 2016 lalu yang hanya sebesar Rp 0,34 triliun.

“Untuk pendapatan PPh Badan tahun 2022 adalah Rp 7.36 triliun atau naik 21.6x dibandingkan tahun 2016 sebesar Rp. 0.34 triliun,” tambahnya.

Seto bilang, jika kebijakan hilirisasi nikel tidak dilakukan sejak 2020 lalu, maka pendapatan melalui pajak tidak akan bertambah secara signifikan. Dia mengatakan penndapatan melalui ekspor bijih nikel pada tahun 2019 lalu pendapatan pajak ekspor hanya sebesar Rp 1,55 triliun atau sebesar 10% dari nilai ekspor bijih nikel.

“Jika kebijakan ekspor bijih nikel tetap dilakukan dengan menggunakan data tahun 2019, pendapatan pajak ekspor hanyalah sebesar US$ 0.11 miliar (Rp 1.55 triliun) atau 10% dari nilai ekspor bijih nikel sebesar US$ 1.1 milyar. Angka tersebut tetap lebih kecil jika dibandingkan dengan pendapatan pajak dari sektor hilirisasi nikel sebesar Rp 3.99 triliun di tahun 2019,” tandasnya,” bubuh Seto.

Sebelumnya, terjadi perdebatan antara Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai program hilirisasi.

Hal ini berawal dari kritikan Faisal terhadap kebijakan hilirisasi nikel yang dinilainya hanya menguntungkan industrialisasi China. Apalagi kalau hilirisasi yang dilakukan baru sebatas produk Nickel Pig Iron (NPI) dan feronikel.

“Kalau hilirisasi sekedar dari bijih nikel jadi NPI atau jadi feronikel. NPI dan feronikel 99% diekspor ke China jadi hilirisasi Indonesia nyata-nyata mendukung industrialisasi di China itu dia, luar biasa,” ujar Faisal dalam diskusi Indef, dikutip Sabtu (12/8/2023).

Tak terima, Jokowi menyebut bahwa hilirisasi nikel justru telah membawa keuntungan bagi Indonesia. Mantan wali kota Solo ini lalu mempertanyakan hitung-hitungan dari Faisal Basri.

“Ngitungnya gimana? Kalau hitungan saya berikan contoh nikel, saat diekspor mentahan, bahan mentah setahun kira-kira hanya Rp 17 triliun, setelah masuk ke industri downstreaming, ke hilirisasi menjadi Rp 510 triliun,” kata Jokowi di Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta.

Menurut Presiden dengan meningkatnya nilai ekspor nikel hasil hilirisasi, maka penerimaan negara dari pajak akan lebih besar.

“Bayangkan saja kita negara itu hanya mengambil pajak, mengambil pajak dari Rp 17 triliun sama mengambil pajak dari Rp 510 triliun lebih gede mana? Karena dari situ, dari hilirisasi kita bisa mendapatkan PPN, PPH badan, PPH karyawan, PPH perusahaan, royalti bea ekspor, penerimaan negara bukan pajak semuanya ada di situ. coba dihitung saja dari Rp 17 triliun sama Rp 510 triliun gede mana?” kata Jokowi.

Tak berhenti di situ, Faisal Basri lagi-lagi merespon jawaban Presiden atas ucapannya itu. Menurut Faisal, angka yang disampaikan oleh Jokowi tidak jelas juntrungannya.

Dia memaparkan data pada tahun 2014 yang mana nilai ekspor bijih nikel dengan kode HS 2604 hanya sebesar Rp 1 triliun. “Jika berdasarkan data 2014, nilai ekspor bijih nikel (kode HS 2604) hanya Rp1 triliun. Ini didapat dari ekspor senilai US$85,913 juta dikalikan rerata nilai tukar rupiah pada tahun yang sama yaitu Rp11,865 per US$,” jelas Faisal dalam keterangannya, Jumat (11/8/2023).

Dia juga mengungkapkan bahwa data 2022 lalu, nilai ekspor besi dan baja yang diklaim sebagai hasil dari hilirisasi dalam negeri sebesar US$ 27,8 miliar yang mana bila dikonversikan dengan rerata kurs Rupiah saat itu, nilai ekspor besi dan baja dengan kode HS 72 setara dengan Rp 413,9 triliun.

“Lalu, dari mana angka Rp510 triliun? Berdasarkan data 2022, nilai ekspor besi dan baja (kode HS 72) yang diklaim sebagai hasil dari hilirisasi adalah US$27,8 miliar. Berdasarkan rerata nilai tukar rupiah tahun 2022 sebesar 14.876 per US$, nilai ekspor besi dan baja (kode HS 72) setara dengan Rp413,9 triliun,” beber Faisal.

Perusahaan-perusahaan smelter China Menurut Faisal menikmati “karpet merah” karena dianugerahi status proyek strategis nasional. “Kementerian Keuanganlah yang pada mulanya memberikan fasilitas luar biasa ini dan belakangan lewat Peraturan Pemerintah dilimpahkan kepada BKPM,” terang Faisal. (bl)

Sukses Penyelenggaraan Munas dan Mukernas IKPI, Lelah Pun Terbayar Lunas

IKPI, Jakarta: Seminar Nasional (Semnas) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Konsultan Pajak Indonesia di Surabaya 7-9 Agustus 2023 lalu, rupanya banyak menyiratkan kesan mendalam bagi seluruh anggota asosiasi konsultan pajak terbesar dan tertua di Indonesia ini.

Kegiatan serius bagi para konsultan pajak yang bernaung di dalam IKPI, dikemas sedemikian rupa oleh empat anggotanya yang didaulat menjadi seksi acara menjadi suatu kegiatan menarik. Dengan demikian, bukan hanya sumbangsih pemikiran yang menguras energi dalam kegiatan itu, tetapi permainan seru yang diberikan juga berhasil mengocok perut seluruh peserta, khususnya pada kegiatan Mukernas yang digelar di Hotel Mercure selama 2 hari.

Seksi acara kegiatan yang terdiri dari Kartina, Jemmie, Novi dan Arvin berhasil menghidupkan suasana. Tingkah mereka yang membuat suasana menjadi hidup, hal ini seakan membayar lunas lelah para peserta di akhir sesi kegiatan.

Dari kacamata Novi, yang didaulat menjadi pembawa acara dalam dua kegiatan besar ini menceritakan. Pada saat membawakan acara di Semnas IKPI, dia merasa hal itu lebih mudah dijalankan, karena hanya sehari dan formatnya formal dan tidak terlalu banyak kendala.

Hanya memang pada kegiatan itu kita terkendala sound system yang cukup mengganggu, bukan hanya pembawa acara yang terganggu, tetapi seluruh peserta baik yang hadir secara online maupun offline.

Kondisi yang berlangsung selama setengah perjalanan acara ini, membuat Novi bingung untuk menyampaikan kata apa yang tepat untuk menenangkan peserta yang mulai mengeluhkan kondisi/fasilitas audio. Sebab, apapun yang dia ucapkan memang tak membantu meredakan kekecewaan peserta, karena suara Novi saat itu memang tidak bisa didengarkan oleh peserta online. Jadi komunikasi yang terjadi hanya satu arah saja.

Namun, tim panitia juga tidak tinggal diam dengan kondisi tersebut. Dengan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, akhirnya setelah jam makan siang selesai dan acara kembali dimulai, audio di dalam ballroom dan sambungan audio ke aplikasi Zoom-pun berjalan normal.

“Apa mungkin operatornya lapar, jadi harus menunggu jam makan siang selesai baru audio bisa dinormalkan,” ujar Novi dengan nada bercanda.

Meski terdapat beberapa kendala, Novi mengakui bahwa tim panitia sangat cepat menyikapi permasalahan itu. Sehingga, apa yang dibutuhkan seluruh peserta hingga pembawa acara cepat terpenuhi.

“Untuk pembawa acara, dari mulai make-up artist hingga konsumsi sudah disiapkan di hadapan kita. Saya mengacungkan jempol kepada seluruh panitia Semnas yang telah memberikan pelayanan dengan sangat baik, sehingga secara keseluruhan acara berjalan sangat lancar,” ujarnya.

Menurutnya, peserta Semnas online dan offline yakni lebih dari 1.100, menunjukan kalau acara ini memang layak untuk diikuti. Tema yang bagus serta narasumber yang mumpuni di dalam setiap sesinya, menjadikan acara ini menjadi sangat berbobot dan layak untuk diikuti.

Besarnya kegiatan IKPI juga bisa terlihat dengan hadirnya tiga dari empat Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak di Jawa Timur, yang ditemani oleh para Kepala Kantor Pajak dari berbagai wilayah di Jatim.

“Dua Kakanwil datang di acara Semnas, dan satu Kakanwil lainnya di acara Mukernas,” kata Novia.

Dia meyakini bahwa DJP melihat IKPI sebagai mitra strategis potensial yang layak untuk diapresiasi. Salah satu apresiasi yang diberikan, yakni dengan memenuhi undangan-undangan IKPI yang masuk kepada mereka.

Kembali ke topik Semnas, para peserta terlihat aktif pada sesi kedua. Peserta online maupun online antusias dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam kepada narasumber, yang berasal dari DJP dan eks Wakil Ketua KPK.

Di tengah keseriusan Semnas, panitia membagikan hadiah-hadiah menarik kepada peserta yang aktif memberikan pertanyaan. “Ini juga memacu peserta lainnya untuk berperan aktif selama acara berlangsung,” katanya.

Adapun manfaat lainnya yang bisa dipetik dari diadakannya Semnas ini adalah silaturahmi sesama anggota IKPI. Ribuan anggota IKPI dari seluruh Indonesia bisa berkumpul dalam satu acara.

Dikatakan Novi, khusus peserta yang bisa bertemu langsung, banyak sekali manfaat yang bisa mereka dapatkan. Selain mengenal satu sama lain, pertemuan itu bukan tidak mungkin memperpanjang garis rezeki seseorang.

“Mungkin dari teman-teman IKPI daerah atau sebaliknya, mereka memberikan klien untuk kita. Hal itu banyak terjadi, dan itu adalah hikmah dari silaturahmi yang bisa didapatkan,” ujarnya.

Tentunya, tujuan utama dari Semnas itu adalah untuk menambah ilmu pengetahuan anggota IKPI dan mengupdate peraturan-peraturan yang sudah ada.

MUKERNAS

Di dalam ajang Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) IKPI, Novi yang saat itu didaulat sebagai master of ceremony (MC) pada kegiatan itu menanggapi ada keberagaman situasi yang dihadapinya di tempat itu.

Sebab, Mukernas adalah kegiatan yang sangat serius yang bertujuan untuk merancang/memperbaharui peraturan-peraturan organisasi seperti (AD/ART), kode etik, dan program kerja IKPI. Semua itu bertujuan untuk menjaga dan melindungi para konsultan pajak pada umumnya, dan terkhusus kepada anggota IKPI.

Tentunya banyak perdebatan-perdebatan yang terjadi di dalam mukernas, yang tujuannya sudah pasti untuk kemajuan dan menjadikan IKPI lebih baik di masa mendatang.

Namun, ada juga waktu-waktu di mana seluruh peserta berbaur santai menikmati acara yang dirancang oleh MC/panitia, seperti melakukan fun game.

Di saat itulah terlihat tidak ada batasan senior dan junior dalam arena Mukernas. Mereka tampak bergembira, tertawa lepas memainkan tantangan permainan yang diberikan MC, seperti permainan balon berantai dan kata bisu, dimana satu tim harus secara berantai menebak gerakan dari kawannya tanpa boleh mengeluarkan suara.

Pada sesi ini, semua peserta yang berkumpul di Ballroom Hotel Mercure Surabaya tertawa lepas melihat tingkah para anggota IKPI, yang memang usianya tidak muda lagi melakukan permainan tersebut.

Keceriaan dan kepuasan peserta pada dua kegiatan tersebut (Semnas dan Mukernas) seakan membayar rasa lelah yang menggelayuti Novi. Dengan mendapatkan rekan kerja berbeda di setiap kegiatan, bukan masalah untuk Novi menghidupkan setiap acara yang dibawakannya.

Dia menyatakan, rekan kerjanya dalam membawakan acara adalah orang-orang hebat yang bisa membantu dalam menghidupkan acara.

“Terima kasih Ibu Kartina, Pak Jemmie, dan Pak Arvin serta seluruh panitia dan peserta yang terlibat dalam dua acara besar ini. Kalian sangat hebat dan saya senang bisa menjadi bagian dalam kegiatan Mukernas dan Semnas IKPI di Surabaya ini. Salam sehat dan sukses selalu untuk semuanya,” kata Novia seraya menutup percakapannya. (bl)

id_ID