IKPI, Jakarta: Penerimaan pajak tahun 2025 mencatatkan kinerja di bawah target setelah realisasi hanya mencapai Rp 1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target APBN sebesar Rp 2.189,3 triliun. Dengan demikian, terdapat shortfall penerimaan pajak sebesar Rp 271,7 triliun yang menjadi tantangan awal pemerintah memasuki tahun anggaran berikutnya.
Kondisi tersebut dinilai menambah beban bagi pemerintah dalam mengejar target penerimaan pajak 2026 yang dipatok lebih tinggi. Dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF), target penerimaan pajak 2026 ditetapkan sebesar Rp 2.357,7 triliun di luar cukai, atau naik 22,9 persen dibandingkan realisasi penerimaan pajak 2025.
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani, menilai besarnya shortfall penerimaan pajak 2025 tergolong sangat dalam. Menurutnya, terdapat sejumlah faktor struktural dan kebijakan yang secara bersamaan menekan kinerja penerimaan pajak sepanjang tahun lalu.
“Shortfall penerimaan pajak 2025 sangat dalam karena paling tidak ada tiga faktor utama yang menjadi penyebabnya,” ujar Ajib, Minggu (11/1/2026).
Faktor pertama, kata Ajib, berasal dari sisi administrasi perpajakan, khususnya implementasi sistem core tax yang belum berjalan sesuai perencanaan awal. Alih-alih mendorong penerimaan, fase transisi sistem justru membuat proses ekstensifikasi dan intensifikasi pajak tidak optimal selama 2025.
Faktor kedua berkaitan dengan kondisi ekonomi makro. Ajib menilai pertumbuhan ekonomi yang melandai serta tidak merata berdampak langsung pada basis pajak. Penyusutan jumlah kelas menengah yang selama ini menjadi penopang konsumsi turut menekan penerimaan negara dari sektor perpajakan.
Sementara itu, faktor ketiga adalah keputusan pemerintah untuk tidak melakukan ijon penerimaan pajak pada Desember 2025. Kebijakan ini membuat penerimaan pajak 2025 benar-benar mencerminkan kondisi riil, meskipun berdampak pada rendahnya realisasi penerimaan pada akhir tahun.
“Jika ijon pajak dilakukan, penerimaan 2025 memang bisa terlihat lebih tinggi. Namun konsekuensinya, penerimaan pada awal 2026 justru akan tertekan. Ini langkah berani yang diambil Menteri Keuangan,” jelas Ajib.
Untuk tahun 2026, Ajib memperkirakan penerimaan pajak berpotensi tidak sepenuhnya mencapai target yang ditetapkan pemerintah. Berdasarkan perhitungannya yang mempertimbangkan realisasi 2025, potensi peningkatan kepatuhan, penerimaan yang tidak diijon, serta asumsi pertumbuhan ekonomi dan inflasi, penerimaan pajak 2026 diproyeksikan mencapai sekitar Rp 2.291 triliun.
Angka tersebut setara dengan 97,19 persen dari target penerimaan pajak 2026. Meski demikian, Ajib menegaskan capaian tersebut hanya dapat diraih jika pemerintah serius melakukan pembenahan di sejumlah aspek kunci.
“Pertama, core tax harus benar-benar berfungsi optimal agar layanan, ekstensifikasi, dan intensifikasi perpajakan berjalan efektif,” tegasnya.
Selain itu, Ajib menilai pendekatan edukasi kepada wajib pajak perlu diperkuat. Menurutnya, penerimaan pajak idealnya bertumpu pada kesadaran membayar pajak, bukan semata-mata penegakan hukum, sejalan dengan sistem self-assessment yang dianut Indonesia.
Di sisi regulasi, pemerintah juga didorong menerbitkan kebijakan yang mendukung fungsi budgetair tanpa mengganggu sektor riil. Salah satu contohnya adalah penerapan Global Minimum Tax yang tetap menjaga iklim investasi namun memiliki potensi menambah penerimaan negara. (alf)