Jemmi Sutiono: Doktor Yuli Rawun Jadi Inspirasi Anggota IKPI Tingkatkan Kompetensi Berkelanjutan

IKPI, Jakarta: Ketua Departemen Humas Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), Jemmi Sutiono, menghadiri Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Ekonomi Konsentrasi Akuntansi yang dijalani Wakil Ketua IKPI Pengurus Daerah Sulawesi, Maluku dan Papua, Yuli Rawun, di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti, Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Jemmi menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Yuli Rawun meraih gelar doktor di tengah padatnya aktivitas sebagai konsultan pajak sekaligus pengurus organisasi. Menurutnya, capaian tersebut merupakan bukti nyata bahwa dedikasi, ketekunan, dan semangat belajar dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab profesi.

“Bu Yuli menyelesaikan program doktoralnya bukan melalui perjalanan yang mudah. Di tengah kesibukan yang luar biasa sebagai seorang profesional dan pengurus organisasi, beliau tetap mampu menunjukkan kegigihan, konsentrasi, serta komitmen yang tinggi hingga berhasil menuntaskan pendidikan doktoralnya. Ini merupakan prestasi yang patut diapresiasi dan dibanggakan,” ujar Jemmi.

Ia menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan para promotor dan kopromotor yang membimbing proses penyusunan disertasi. Namun lebih dari itu, Jemmi melihat pencapaian Yuli sebagai gambaran kesungguhan seorang profesional dalam memenuhi tanggung jawabnya untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan.

Menurut Jemmi, pendidikan tinggi bukan sekadar mengejar gelar akademik, tetapi menjadi bekal penting dalam membangun kompetensi profesi secara berkelanjutan. Hal itu sejalan dengan tuntutan profesi konsultan pajak yang harus terus memperbarui pengetahuan di tengah perubahan regulasi dan perkembangan teknologi.

Ia juga menyoroti topik disertasi Yuli yang mengangkat transformasi digital administrasi perpajakan sebagai isu yang sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kajian tersebut membahas bagaimana perubahan sistem perpajakan digital yang dilakukan Direktorat Jenderal Pajak perlu diimbangi dengan peningkatan kepatuhan wajib pajak agar mampu memberikan dampak terhadap optimalisasi penerimaan negara.

“Novelty yang diangkat Bu Yuli sangat kekinian. Transformasi digital dalam administrasi perpajakan harus diimbangi dengan peningkatan kepatuhan sehingga tujuan akhirnya, yaitu meningkatkan penerimaan negara, dapat tercapai,” jelasnya.

Jemmi berharap hasil penelitian tersebut tidak berhenti sebagai karya akademik semata, tetapi dapat menjadi referensi bagi kalangan akademisi maupun praktisi perpajakan untuk mengembangkan penelitian lanjutan yang relevan dengan dinamika sistem perpajakan Indonesia.

Ia bahkan mengajak para anggota IKPI untuk mempelajari disertasi tersebut sebagai bahan diskusi dan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Saya mengajak rekan-rekan untuk membaca, menganalisis, dan melihat peluang pengembangan novelty dari penelitian Bu Yuli. Masih banyak ruang kajian yang bisa dikembangkan mengikuti kebutuhan pengetahuan dan perkembangan perpajakan saat ini,” katanya.

Lebih jauh, Jemmi juga mengajak seluruh anggota IKPI agar tidak ragu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, termasuk program doktoral. Menurutnya, peningkatan kompetensi akademik merupakan salah satu bentuk investasi bagi pengembangan profesi konsultan pajak.

“Profesi kita saat ini dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan. Pendidikan tinggi menjadi salah satu sarana untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan analisis, sekaligus mengembangkan kapasitas profesional dalam menghadapi tantangan perpajakan yang semakin kompleks,” pungkasnya. (bl)

id_ID