IKPI Jakarta Pusat Rangkul Anggota Baru, Senior Ungkap Kunci Bertahan di Dunia Konsultan Pajak

IKPI, Jakarta Pusat: Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Cabang Jakarta Pusat terus memperkuat soliditas organisasi dengan menggelar kegiatan “Tumbuh & Sukses Bersama IKPI” yang dikemas dalam agenda perkenalan pengurus, penyambutan anggota baru, hingga sesi sharing pengalaman dari para senior konsultan pajak. Kegiatan yang digelar baru-baru ini secara daring melalui Zoom tersebut diikuti sekitar 102 peserta, terdiri dari 19 anggota baru dan 83 anggota lama.

Ketua IKPI Cabang Jakarta Pusat, Suryani, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar seremoni penyambutan anggota baru, tetapi menjadi ruang untuk membangun kebersamaan dan memperkuat jejaring antaranggota di tengah dinamika dunia perpajakan yang terus berkembang.

“Harapan kami anggota baru bisa lebih aktif dan lebih maju bersama IKPI Cabang Jakarta Pusat. Di sini kita belajar bersama, saling mendukung, dan saling berbagi pengalaman,” ujar Suryani, Kamis (28/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, pengurus memperkenalkan berbagai hal mendasar kepada anggota baru, mulai dari visi dan misi IKPI, pelaksanaan kongres organisasi, hak dan kewajiban anggota, program Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL), hingga kewajiban iuran anggota.

Antusiasme anggota baru pun terlihat cukup tinggi. Banyak peserta baru mengaku senang dengan kultur kebersamaan di IKPI Jakarta Pusat, termasuk keberadaan grup WhatsApp yang aktif memberikan update peraturan perpajakan, ruang diskusi kasus, hingga komunikasi yang dinilai kompak antaranggota.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah sharing pengalaman dari para senior IKPI Jakarta Pusat mengenai perjalanan mereka membangun karier sebagai konsultan pajak. Sedikitnya enam senior berbagi pengalaman tentang tantangan profesi, pentingnya integritas, hingga cara bertahan di tengah perubahan regulasi perpajakan.

Senior IKPI Jakarta Pusat, Tjhai Fung Njit atau David, menilai tantangan terbesar dalam profesi konsultan pajak justru bukan pada teknis pekerjaan, melainkan bagaimana mencari dan mempertahankan klien.

“Ilmu memang penting, tetapi jangan takut memulai meskipun masih baru. Kalau mendapat klien tetapi belum yakin mengerjakan sendiri, ajak rekan yang lebih berpengalaman untuk bekerja sama,” ujarnya.

Ia juga mendorong anggota baru untuk menentukan arah karier sejak awal, apakah ingin menjadi konsultan generalis atau fokus pada spesialisasi tertentu.

Sementara itu, J. Engeline Siagian menekankan pentingnya integritas dan keseriusan dalam membangun karier di bidang perpajakan. Menurutnya, konsultan pajak harus rajin membaca regulasi dan memahami dasar perubahan aturan, bukan sekadar mengikuti perubahan yang terjadi.

“Kalau pekerjaan kita baik dan dijalankan dengan integritas, klien dan penghasilan akan datang dengan sendirinya,” katanya.

Frisa Irlan juga mengingatkan anggota baru agar serius membangun kompetensi sejak awal. Menurutnya, konsultan pajak tidak cukup hanya pintar bernegosiasi, tetapi juga harus memiliki pemahaman perpajakan yang kuat agar mampu memberikan solusi yang tepat kepada klien.

Ia menekankan pentingnya memahami dasar-dasar perpajakan dan menjalani proses belajar secara konsisten agar tidak salah arah dalam menjalankan profesi.

Senior lainnya, Daniel Belianto, menyebut IKPI Jakarta Pusat sebagai organisasi yang memiliki budaya kekeluargaan kuat dan aktif membangun partisipasi anggota. Ia menilai kegiatan welcoming anggota baru seperti ini menjadi langkah positif yang belum tentu dimiliki semua cabang.

Menurut Daniel, tantangan terbesar profesi konsultan pajak saat ini adalah perubahan regulasi yang sangat cepat sehingga praktisi harus terus belajar dan memperbarui pengetahuan. Ia juga menilai budaya sharing ilmu di IKPI Jakarta Pusat menjadi salah satu kekuatan penting organisasi.

Hal senada disampaikan Hirwan Tjahjadi yang menegaskan bahwa tanggung jawab terhadap klien dan integritas merupakan fondasi utama profesi konsultan pajak. Ia mengingatkan agar kemudahan teknologi dan digitalisasi perpajakan seperti Coretax tidak membuat praktisi menjadi malas belajar memahami aturan.

“Semakin sering membaca dan memahami aturan, semakin kuat dasar pengetahuan kita dalam menangani klien,” ujarnya.

Suryani juga membagikan pengalamannya saat pertama membangun karier sebagai konsultan pajak. Ia mengaku pada awal perjalanan profesinya tidak terlalu fokus mengejar fee, melainkan menjaga kualitas pekerjaan dan membangun kepercayaan klien.

Menurutnya, konsultan pajak juga harus mampu membantu klien memahami persoalan perpajakan yang dihadapi, bukan sekadar memberikan informasi teknis.

“Kalau kita bekerja dengan baik dan menjaga integritas, klien akan datang sendiri lewat rekomendasi dari mulut ke mulut,” tutur Suryani.

Melalui kegiatan ini, IKPI Jakarta Pusat ingin menunjukkan bahwa organisasi profesi bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang belajar, bertukar pengalaman, dan membangun kolaborasi agar anggota dapat tumbuh bersama menghadapi tantangan dunia perpajakan yang semakin kompleks. (bl)

id_ID