IKPI: Waisak Jadi Pengingat Pentingnya Cinta Kasih dan Integritas dalam Profesi Konsultan Pajak

IKPI, Medan: Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) Pengurus Daerah Sumatra Bagian Utara (Sumbagut), Hery, mengajak seluruh anggota menjadikan peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (B.E.) sebagai momentum untuk menumbuhkan cinta kasih, memperkuat toleransi, serta menjaga integritas dalam menjalankan profesi konsultan pajak.

Pesan tersebut disampaikan Hery dalam Perayaan Waisak Nasional IKPI 2026 yang diselenggarakan di Prasadha Jinadhammo Mahathera, Medan, Sumatera Utara, Jumat (5/6/2026). Menurutnya, tema Waisak Nasional tahun ini, “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”, memiliki relevansi yang kuat dengan kondisi kehidupan masyarakat yang semakin membutuhkan semangat persatuan dan kepedulian sosial.

IKPI Sumbagut mengangkat subtema “Menebar Cinta, Menumbuhkan Perdamaian Dunia” sebagai bentuk ajakan kepada seluruh anggota untuk mengimplementasikan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menjalankan profesi.

“Perdamaian yang besar selalu dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilandasi cinta kasih dan kepedulian kepada sesama. Melalui Waisak ini, kami ingin mengingatkan bahwa kebajikan bukan hanya konsep, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujar Hery.

Menurutnya, ajaran tentang metta atau cinta kasih universal menjadi salah satu nilai utama yang perlu terus ditumbuhkan di tengah masyarakat yang majemuk. Ketika setiap individu mampu menebarkan kasih sayang tanpa membedakan latar belakang suku, agama, maupun golongan, maka harmoni sosial akan tumbuh secara alami.

Hery menilai semangat tersebut juga penting diterapkan dalam lingkungan profesi. Sebagai organisasi yang menaungi konsultan pajak di wilayah Sumatra Bagian Utara, IKPI tidak hanya bertugas meningkatkan kompetensi anggotanya, tetapi juga membangun karakter yang berlandaskan etika dan nilai kemanusiaan.

“Profesionalisme yang berintegritas harus berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Konsultan pajak tidak hanya dituntut memahami regulasi, tetapi juga memiliki kepedulian, kejujuran, dan tanggung jawab dalam memberikan layanan kepada masyarakat,” katanya.

Ia menegaskan bahwa aspek moral dan spiritual merupakan fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap profesi konsultan pajak. Karena itu, kegiatan keagamaan yang rutin diselenggarakan IKPI bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya membangun karakter anggota.

Hery juga mengapresiasi semangat kebersamaan yang ditunjukkan keluarga besar IKPI dalam perayaan Waisak tahun ini. Menurutnya, keberagaman latar belakang anggota justru menjadi kekuatan yang memperkaya organisasi dan memperkuat solidaritas di antara sesama profesional.

Selain menjadi ajang refleksi spiritual, perayaan Waisak juga diisi dengan berbagai kegiatan yang mencerminkan kepedulian sosial. Melalui doa bersama dan aksi sosial yang melibatkan masyarakat lintas suku dan agama, IKPI Sumbagut ingin menunjukkan bahwa nilai cinta kasih dapat diwujudkan dalam bentuk yang nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kepedulian sosial adalah bahasa universal yang dapat menjembatani perbedaan. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menunjukkan bahwa organisasi profesi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk berkontribusi bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.

Hery berharap semangat Waisak tidak berhenti pada perayaan tahunan semata, tetapi menjadi inspirasi bagi seluruh pengurus dan anggota IKPI untuk terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, kontribusi tersebut dapat diwujudkan baik melalui peningkatan kepatuhan perpajakan maupun melalui upaya menjaga kerukunan dan persatuan di tengah masyarakat.

“Dengan semangat Waisak, kami ingin terus melangkah sebagai organisasi yang profesional, berintegritas, dan peduli terhadap sesama. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah profesi tidak hanya diukur dari kompetensi, tetapi juga dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat,” tuturnya. (bl)

en_US