Pemerintah Akui Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Berpotensi Melambat

IKPI, Jakarta: Pemerintah mengakui laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berpotensi lebih rendah dibandingkan tiga bulan pertama tahun ini.

Perlambatan tersebut dinilai wajar karena pada periode April—Juni tidak terdapat faktor musiman yang mampu mendorong konsumsi masyarakat seperti Ramadan dan Idulfitri.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan pemerintah akan menggunakan pendekatan yang realistis dalam memperkirakan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II.

“Kita lihat memang di kuartal II kan enggak ada event yang besar seperti di kuartal I seperti Ramadan, Lebaran kan udah geser dari kuartal I nih, ya pasti kami akan realistis,” kata Susiwijono dalam keterangannya, dikutip Kamis (30/7).

Meski mengakui adanya perlambatan, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi pada kuartal II tidak akan terpaut jauh dari realisasi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%.

Susi menjelaskan pemerintah masih melakukan penghitungan ulang terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi sebelum angka resmi diumumkan.

“Masih mau hitung lagi ini. Kita berharapnya kan pasti lebih tinggi, rangenya paling nggak ya sekitaran di kuartal , tapi kita sih tetap berharap lebih tinggi ya. Cuma kan siklusnya seperti itu,” jelas Susi.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berada di kisaran 5,4%, lebih rendah dibandingkan capaian kuartal I sebesar 5,61%.

“Kemarin (kuartal I-2026) 5,6%, mungkin kuartal II 5,4% sampai 5 point sekian,” kata Purbaya.

Meski demikian, pemerintah tetap optimistis momentum pertumbuhan akan membaik pada paruh kedua tahun ini. Purbaya meyakini kondisi ekonomi pada kuartal III dan IV akan lebih kuat dibandingkan semester pertama, meskipun belum merinci besaran proyeksinya.

Menurutnya, salah satu strategi yang akan ditempuh pemerintah adalah memastikan likuiditas di dalam perekonomian tetap terjaga sehingga mampu mendukung kegiatan usaha, investasi, dan konsumsi rumah tangga.

“Karena kita pastikan cukup uang di sistem perekonomian untuk mendorong ekonomi,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp 6.187,2 triliun dan PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.447 triliun.

Capaian itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 yang tercatat sebesar 4,87% secara tahunan.

Namun, secara triwulanan (quarter to quarter/q-to-q), ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 masih mengalami kontraksi sebesar 0,77% dibandingkan kuartal IV-2025. (ds)

id_ID