Purbaya Bantah Ekonomi Lesu, Setoran Pajak Perusahaan Melonjak Hampir 24%

IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa perekonomian Indonesia sedang mengalami pelemahan.

Menurutnya, kondisi dunia usaha justru menunjukkan ketahanan yang kuat, tercermin dari lonjakan penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Badan dan deposit PPh Badan yang tumbuh hampir 24% hingga Mei 2026.

Purbaya mengaku sempat khawatir ketika melihat pertumbuhan penerimaan PPh Badan pada April 2026 yang hanya mencapai 5,1% secara tahunan.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sejumlah jenis pajak lainnya yang saat itu melaju cukup tinggi.

“Yang ini PPh badan dan deposit PPh badan itu di bulan Mei tumbuhnya 23,9%. Padahal di bulan April hanya tumbuh 5,1%. Jadi ini tadi yang bikin saya takut nih, April kok cuma tumbuh segini? Padahal yang lain tumbuh kencang,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, dikutip Jumat (6/6).

Namun, data terbaru menunjukkan kondisi yang jauh lebih baik. Hingga Mei 2026, realisasi PPh Badan dan deposit PPh Badan mencapai Rp 167,6 triliun, meningkat dari Rp 135,2 triliun pada April.

Secara tahunan, penerimaan dari kelompok pajak tersebut tumbuh 23,9%.

Menurut Purbaya, capaian tersebut menjadi sinyal bahwa kondisi korporasi nasional masih cukup sehat di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

“Ternyata di bulan Mei balik ke level yang normal dia tumbuhnya 23,9%. Jadi kekhawatiran saya yang sebelumnya mungkin perusahaan pada bangkrut, jadi bayarnya kecil hanya tumbuh 5,1%, ternyata salah. Ternyata mereka juga cukup sehat,” ujarnya.

Ia menilai kuatnya pertumbuhan penerimaan PPh Badan menunjukkan laba dan aktivitas usaha masih tumbuh, sehingga perusahaan mampu memenuhi kewajiban perpajakannya dengan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Tak hanya dari sektor korporasi, penerimaan pajak konsumsi juga menunjukkan tren positif. Penerimaan PPN dan PPnBM hingga Mei 2026 tercatat mencapai Rp 315,7 triliun atau tumbuh 41,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada April yang sebesar 40,2%.

Purbaya mengatakan kombinasi pertumbuhan PPh Badan dan PPN menjadi bukti bahwa perbaikan ekonomi tidak hanya tercermin dalam statistik makro, tetapi juga terlihat dari aktivitas dunia usaha dan konsumsi masyarakat.

“Kalau di sini terlihat kan naik semua, tumbuhnya cukup kencang. Jadi data ini menunjukkan bahwa perbaikan yang ada di ekonomi betul-betul sedang terjadi,” kata Purbaya.

Ia juga menepis kritik yang menyebut pertumbuhan ekonomi hanya terjadi di atas kertas. Menurutnya, pemerintah terus memantau berbagai indikator ekonomi riil, termasuk penerimaan perpajakan yang mencerminkan kondisi usaha dan konsumsi masyarakat secara langsung.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, total penerimaan pajak hingga Mei 2026 mencapai Rp 834,4 triliun atau tumbuh 22,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp683,3 triliun.

Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi April yang masih berada di level 16,1%. (ds)

en_US