IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 terus menunjukkan kinerja yang positif, ditopang oleh lonjakan penerimaan negara, khususnya dari sektor perpajakan.
Purbaya mengungkapkan pendapatan negara tumbuh 19,1% secara tahunan (year on year/yoy) hingga akhir Mei 2026.
Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh penerimaan pajak yang melonjak 22,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“APBN sampai dengan bulan Mei 2026 ini terus menunjukkan tren positif. Kita lihat pendapatan tumbuh 19,1%. Yang paling menarik adalah pendapatan pajak naiknya 22,1%,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita, Jumat (5/6).
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi pendapatan negara hingga Mei 2026 mencapai Rp 1.185 triliun atau 37,6% dari target APBN 2026 sebesar Rp 3.153,6 triliun.
Dari jumlah tersebut, penerimaan perpajakan mencapai Rp 958,2 triliun atau tumbuh 18,9% secara tahunan.
Secara rinci, penerimaan pajak mencapai Rp 834,4 triliun atau tumbuh 22,1%, sementara penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat Rp 123,8 triliun atau tumbuh 0,7%.
Adapun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 226,4 triliun atau meningkat 19,9%.
Menurut Purbaya, perbaikan tersebut jauh lebih baik dibandingkan kondisi pada periode yang sama tahun lalu. Pada Mei 2025, penerimaan pajak masih mengalami kontraksi 11,3%, sementara PNBP tertekan hingga minus 33,2%.
“Jadi ada perbaikan yang signifikan di pajak utamanya dibandingkan dengan kondisi tahun lalu. Tahun lalu full year pertumbuhan pajaknya negatif. Sekarang positif, mungkin nanti akan 20 persen atau lebih. Kita coba dorong ke atas terus seiring dengan perbaikan di perpajakan,” katanya.
Ia bahkan berseloroh mengenai target pertumbuhan penerimaan pajak yang bisa mencapai 25% hingga akhir tahun jika tren positif terus berlanjut.
Di sisi lain, kinerja kepabeanan dan cukai juga mulai menunjukkan perbaikan. Purbaya menyebut pertumbuhan penerimaan bea dan cukai sudah kembali positif selama dua bulan berturut-turut meski masih menghadapi tantangan logistik, termasuk kemacetan arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok.
Sementara itu, belanja negara hingga akhir Mei 2026 mencapai Rp 1.365,4 triliun atau 35,5% dari pagu APBN 2026 sebesar Rp 3.842,7 triliun. Realisasi tersebut tumbuh 34,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski belanja tumbuh lebih cepat dibandingkan pendapatan, pemerintah tetap mampu menjaga defisit APBN dalam batas yang aman.
Hingga Mei 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp 180,4 triliun atau setara 0,70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya menilai posisi tersebut masih sangat terkendali dan mencerminkan kondisi fiskal yang sehat. Menurutnya, perbaikan penerimaan pajak dan kepabeanan menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas fiskal pemerintah.
“Yang jelas bisa kita kendalikan, utamanya karena pajak dan bea cukai ada perbaikan yang signifikan,” ujarnya.
Selain itu, indikator keseimbangan primer juga kembali mencatat surplus sebesar Rp 58,6 triliun. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan posisi April 2026 yang sebesar Rp 28 triliun.
Surplus keseimbangan primer merupakan indikator penting yang menunjukkan kemampuan pemerintah membiayai pengeluaran rutin di luar pembayaran bunga utang. Kinerja positif tersebut dinilai mencerminkan keberlanjutan fiskal yang semakin kuat. (ds)
