IKPI, Bali: Dewan Kehormatan Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) I Kadek Sumadi menilai Perayaan Dharma Santhi IKPI Denpasar memiliki makna mendalam, bukan hanya sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga momentum mempererat persaudaraan di tengah tingginya dinamika profesi konsultan pajak.
Hal itu disampaikan Kadek Sumadi dalam Perayaan Dharma Santhi Nasional IKPI 2026 di UC Silver Gold, Gianyar, Bali, Sabtu (16/5/2026).
Menurutnya, tema “Menjalani Hidup Dengan Sepenuh Hati” sangat relevan bagi profesi konsultan pajak yang sehari-hari menghadapi tekanan pekerjaan, tenggat waktu, sengketa perpajakan, hingga perubahan regulasi yang cepat.
“Profesi konsultan pajak sering menghadapi tekanan, deadline, sengketa, dan dinamika regulasi yang sangat cepat. Tema ini mengingatkan bahwa hidup tidak hanya soal pekerjaan dan target,” ujar Kadek.
Ia mengatakan konsultan pajak juga perlu menjaga keseimbangan batin, hubungan sosial, dan ketenangan pikiran agar tetap mampu menjalankan profesi secara sehat dan profesional.
Menurut Kadek, Dharma Santhi menjadi ruang refleksi penting untuk mengembalikan harmoni di tengah kesibukan dunia kerja.
Ia juga mengapresiasi kehadiran budayawan Bali I Wayan Nardayana atau Dalang Cenk Blonk sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut.
“Beliau dikenal mampu menyampaikan nilai-nilai kehidupan dengan ringan, humanis, tetapi tetap penuh makna budaya Bali,” katanya.
Selain itu, Kadek menilai nuansa inklusif dalam Dharma Santhi IKPI menjadi salah satu kekuatan utama kegiatan tersebut. Ia menyebut kehadiran peserta dari berbagai latar belakang agama dan daerah menunjukkan kuatnya semangat toleransi di lingkungan IKPI.
“Dharma Santhi menjadi ruang memperkuat toleransi, mempererat kebersamaan, menjaga harmoni organisasi, dan membangun energi positif antaranggota IKPI,” ujarnya.
Secara filosofis, menurut Kadek, Dharma Santhi memang memiliki makna saling memaafkan, mempererat persaudaraan, dan memperkuat keharmonisan setelah Hari Raya Nyepi.
Ia menambahkan pelaksanaan kegiatan di Bali semakin memperkuat nuansa spiritual dan nilai budaya lokal yang sarat pesan harmoni kehidupan.
“Bali dikenal dengan konsep Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi yang mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam,” katanya. (bl)
