IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan sejumlah lembaga internasional, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, serta lembaga pemeringkat global, memberikan respons positif terhadap strategi fiskal pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Hal itu disampaikan Purbaya dalam rangkaian agenda internasionalnya di Washington DC, Amerika Serikat.
Purbaya menjelaskan, selama kunjungan tersebut ia melakukan berbagai pertemuan strategis, mulai dari bilateral meeting hingga courtesy meeting dengan Managing Director IMF Kristalina Georgieva, pejabat tinggi Bank Dunia, serta perwakilan lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings.
Dalam forum tersebut, pemerintah memaparkan arah kebijakan fiskal Indonesia yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah ketidakpastian global.
“Kami bertemu dengan 18 investor besar, termasuk Goldman Sachs dan Fidelity Investments. Mereka ingin memahami arah kebijakan pertumbuhan dan pengelolaan anggaran Indonesia, serta menilai apakah strategi tersebut kredibel dan berkelanjutan,” ujar Purbaya dalam keterangannya, dikutip Kamis (16/4).
Menurut Purbaya, berbagai lembaga internasional menunjukkan antusiasme untuk menggali lebih dalam mengenai fundamental ekonomi Indonesia dan kebijakan fiskal yang diterapkan pemerintah.
Selama ini, banyak pihak mempertanyakan bagaimana Indonesia dapat menjaga pertumbuhan ekonomi yang kuat tanpa membebani kebijakan fiskal negara.
Ia menilai respons dari IMF, Bank Dunia, hingga lembaga pemeringkat sangat positif, terutama terhadap kemampuan Indonesia mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga disiplin fiskal. Hal tersebut dinilai sebagai indikator bahwa kebijakan yang ditempuh pemerintah dinilai kredibel oleh pelaku pasar global.
Dari sisi investasi, Purbaya mengatakan investor global, khususnya dari Amerika Serikat, menunjukkan minat terhadap instrumen sektor keuangan Indonesia, baik fixed income maupun equity. Investasi tersebut sebagian besar berbentuk investasi portofolio, bukan penanaman modal asing langsung (FDI).
“Namun kami optimistis dalam waktu dekat aliran dana tersebut akan masuk dan turut mendorong penguatan pasar modal Indonesia,” katanya.
Dalam pertemuan dengan IMF, Kristalina Georgieva juga menyoroti bahwa ketidakpastian global diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Faktor pemicunya antara lain ketegangan geopolitik serta dinamika harga energi dunia.
Menanggapi hal tersebut, Purbaya menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini tetap kuat dan memiliki bantalan anggaran yang memadai. Pemerintah disebut memiliki ruang fiskal sekitar Rp 420 triliun untuk merespons berbagai tekanan eksternal.
“IMF tidak memiliki otoritas untuk mengurangi ketidakpastian global, namun menyediakan dukungan bagi negara yang membutuhkan. Indonesia tidak termasuk, karena kondisi fiskal kita kuat dengan bantalan anggaran sekitar Rp 420 triliun,” kata Purbaya.
Ia menambahkan, pemerintah telah melakukan berbagai penyesuaian kebijakan sejak akhir tahun lalu sehingga mampu menyerap berbagai guncangan eksternal, termasuk lonjakan harga minyak akibat konflik global.
Dalam pertemuan terpisah dengan Bank Dunia dan S&P Global Ratings, Purbaya juga memperoleh penilaian positif terhadap strategi fiskal pemerintah. Keraguan terhadap kemampuan Indonesia menjaga disiplin fiskal sambil mendorong pertumbuhan ekonomi disebut semakin berkurang.
Ke depan, Bank Dunia juga menyatakan minat untuk memperdalam kerja sama dengan Indonesia, khususnya dalam mendukung pembangunan jangka panjang, pengentasan kemiskinan, serta pembiayaan berbagai proyek strategis di negara berkembang. (ds)