IKPI, Jakarta: Meskipun sejumlah indikator ekonomi menunjukkan pelemahan dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah menilai kondisi fundamental perekonomian Indonesia masih terjaga dan optimistis situasi akan membaik pada semester II-2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan berbagai indikator, seperti ekspor dan aktivitas manufaktur, diperkirakan kembali menguat pada kuartal III hingga kuartal IV tahun ini.
“Nanti kita lihat menjelang kuartal ke-III, kuartal ke-IV akan naik lagi (ekspor dan PMI manufaktur),” ujar Airlangga di Jakarta, dikutip Sabtu (11/7).
Optimisme tersebut muncul di tengah pelemahan sejumlah indikator ekonomi domestik. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juni 2026 tercatat turun menjadi 117,8 dari 120,9 pada Mei 2026.
Angka tersebut menjadi penurunan selama tiga bulan berturut-turut sekaligus merupakan level terendah sejak September 2025.
Meski demikian, Airlangga menegaskan level IKK yang masih berada di atas 100 menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi belum terganggu secara signifikan.
“IKK di atas 100 masih aman, kemarin kan ada Lebaran, habis Lebaran pasti turun dikit,” katanya.
Tekanan juga terlihat pada sektor industri. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026, menandakan aktivitas manufaktur kembali berada di zona kontraksi.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar pada Juni 2026. Capaian tersebut menjadi defisit bulanan pertama sejak 2020.
Di pasar keuangan, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin secara kumulatif sejak Mei 2026 sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat (10/7) masih berada di kisaran Rp 18.090 per dolar Amerika Serikat.
Kendati sejumlah indikator menunjukkan perlambatan, pemerintah tetap menilai fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat.
Airlangga meyakini peningkatan aktivitas ekonomi pada semester II akan mendorong kembali kinerja ekspor dan sektor manufaktur, sekaligus menjaga optimisme dunia usaha maupun masyarakat.(ds)
