IKPI, Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 hingga akhir Mei 2026 mencatat defisit sebesar Rp 180,4 triliun atau setara 0,70% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit tersebut terjadi karena realisasi pendapatan negara masih berada di bawah kebutuhan belanja pemerintah yang terus meningkat untuk mendukung berbagai program prioritas dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa realisasi pendapatan negara hingga Mei 2026 mencapai Rp 1.185 triliun atau sekitar 37,6% dari target APBN tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp 3.153,6 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan tren yang positif karena mampu tumbuh 19,1% secara tahunan (year on year/yoy).
Di sisi lain, realisasi belanja negara hingga Mei 2026 mencapai Rp 1.365,4 triliun atau sekitar 35,5% dari target APBN. Belanja negara tersebut meningkat cukup signifikan, yakni sebesar 34,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Jadi kalau dilihat dari situ (postur), APBN kita amat aman,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kita, Jumat (5/6).
Selain itu, kinerja APBN hingga Mei 2026 juga tercermin dari keseimbangan primer yang masih mencatat surplus sebesar Rp 58,6 triliun.
Keseimbangan primer merupakan indikator penting yang menunjukkan kemampuan pemerintah membiayai belanja di luar pembayaran bunga utang dari pendapatan yang diperoleh.
“Jadi itu menunjukkan bahwa ya emang anggaran kita bagus. Yang dibilang ugalan-ugalan atau berupaya membuat anggaran yang kacau sehingga mengganggu stabilitas nilai tukar, saya agak bingung dari mana,” katanya.
Sementara dari sisi pembiayaan anggaran, realisasinya telah mencapai Rp 379,4 triliun atau sekitar 55,1% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2026. (ds)
