IKPI, Jakarta: Nilai tukar rupiah terus berada dalam tekanan dan pada Kamis (4/6) menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Bank Indonesia (BI) menegaskan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya ketidakpastian global.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 13.00 WIB, rupiah berada di level Rp 18.041 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar Rp 74,5 atau sekitar 0,41% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan pelemahan rupiah saat ini masih dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, terutama meningkatnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah yang menghambat prospek perdamaian dan mendorong harga minyak dunia tetap tinggi.
Menurut Destry, kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi global sekaligus memicu arus keluar modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN),” kata Destry dalam keterangannya, Kamis (4/6).
Di tengah tekanan tersebut, Destry menegaskan BI akan terus hadir di pasar guna memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamental ekonomi nasional.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” katanya.
BI juga terus memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang bersifat pro-market agar tetap menarik bagi investor dan mampu menjaga aliran modal masuk ke instrumen keuangan domestik.
Sebagai bagian dari strategi stabilisasi, intervensi dilakukan secara berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Bank sentral juga terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Di sisi lain, BI mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Langkah ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
Saat ini kerja sama LCT telah dijalankan Indonesia dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Destry mengungkapkan penggunaan skema LCT terus menunjukkan peningkatan. Nilai transaksi melalui mekanisme tersebut pada April 2026 mencapai sekitar US$ 22,7 miliar, mendekati total transaksi sepanjang tahun 2025 yang mencapai sekitar US$ 25,7 miliar.
Meski rupiah melemah, BI menilai pergerakan tersebut masih sejalan dengan tren mata uang regional lainnya. Secara year-to-date (YTD), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44%.
Sementara itu, ketahanan eksternal Indonesia dinilai tetap terjaga dengan posisi cadangan devisa yang mencapai US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026. (ds)
