Pemerintah Gelontorkan Stimulus Rp 26,34 Triliun di Semester II-2026

IKPI, Jakarta: Pemerintah mengalokasikan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun pada semester II 2026 sebagai langkah antisipatif menghadapi meningkatnya ketidakpastian global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan berbagai kebijakan tersebut disiapkan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik di tengah perkembangan geopolitik internasional yang masih berpotensi menimbulkan tekanan terhadap perekonomian dunia.

Menurut Airlangga, pemerintah terus mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah, termasuk potensi dampak gangguan jalur perdagangan dan energi global.

Oleh karena itu, pemerintah memilih menyiapkan langkah-langkah mitigasi agar konsumsi masyarakat dan aktivitas usaha tetap terjaga.

“Kita perlu terus untuk menjaga domestik ekonomi dan kita juga harus jaga dengan langkah-langkah proaktif untuk mencegah dan mengantisipasi risiko eksternal yang mungkin muncul,” ujar Airlangga dalam Konferensi Pers di Jakarta, Senin (22/6).

Paket kebijakan yang disiapkan mencakup insentif perpajakan, dukungan bagi sektor transportasi, penguatan industri, hingga perluasan bantuan sosial.

Salah satu kebijakan baru yang diumumkan adalah penerapan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final royalti sebesar 1,5% bagi penulis.

Kebijakan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah memberikan dukungan kepada pelaku industri kreatif. Dengan skema baru itu, beban pajak yang sebelumnya mengikuti tarif progresif hingga 35% dapat ditekan menjadi lebih rendah.

Selain insentif pajak, pemerintah juga memberikan berbagai diskon transportasi untuk mendukung mobilitas masyarakat selama periode libur sekolah dan akhir tahun.

Program tersebut meliputi potongan harga tiket kereta api, layanan kapal penumpang Pelni, tarif penyeberangan ASDP, serta fasilitas PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100% untuk tiket pesawat domestik kelas ekonomi.

Di sektor manufaktur, pemerintah menurunkan tarif bea masuk impor LPG dan bahan baku plastik menjadi nol persen.

Langkah ini diharapkan dapat mengurangi biaya produksi industri, khususnya sektor petrokimia, sekaligus membantu menjaga stabilitas harga barang konsumsi.

Airlangga memperkirakan kebijakan tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi sekitar Rp2,25 triliun melalui efisiensi biaya industri dan peningkatan aktivitas ekonomi.

Selain itu, pemerintah juga memangkas tarif bea masuk impor suku cadang pesawat menjadi 0%. Kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat daya saing industri maintenance, repair and overhaul (MRO) nasional agar mampu bersaing dengan negara lain di kawasan.

Dari sisi pengembangan sumber daya manusia, program magang dan vokasi akan tetap dilanjutkan pada semester II 2026. Pemerintah menilai program tersebut penting untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah memperpanjang bantuan pangan selama tiga bulan, mulai Juli hingga September 2026.

Program tersebut ditujukan kepada 33,24 juta penerima manfaat dengan kebutuhan anggaran mencapai Rp 17,54 triliun.

Pemerintah juga mengalokasikan dukungan bagi perajin tahu dan tempe melalui program stabilisasi harga kedelai. Jika harga kedelai melampaui batas acuan, pelaku usaha akan memperoleh subsidi Rp2.000 per kilogram dengan kuota maksimal 250 ribu ton.

Secara keseluruhan, alokasi stimulus semester II 2026 terdiri dari insentif transportasi sebesar Rp 2,04 triliun, program magang dan vokasi Rp 6,26 triliun, serta bantuan pangan dan stabilisasi harga pangan sekitar Rp 18,04 triliun. (ds)

en_US