IKPI, Jakarta: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan bahwa penerimaan pajak hingga akhir Maret 2026, atau sepanjang kuartal I-2026, tercatat sebesar Rp 394,8 triliun.
Ia menjelaskan, angka tersebut setara dengan 16,7% dari target dalam APBN 2026, sekaligus mencerminkan pertumbuhan yang cukup kuat yakni 20,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Menurut Purbaya, capaian fiskal yang masih terjaga ini menandakan bahwa kebijakan yang ditempuh pemerintah mulai memberikan hasil terhadap aktivitas ekonomi nasional.
“Jadi strategi kita mulai berhasil, harusnya dampak ekonomi juga lebih bagus,” ujar Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4).
Di luar pajak, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp 67,9 triliun, meski mengalami penurunan 12,6%. Sementara itu, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 112,1 triliun atau turun sekitar 3% secara tahunan.
Dari sisi belanja, pemerintah mempercepat realisasi pengeluaran. Hingga akhir Maret 2026, total belanja negara mencapai Rp 815,0 triliun, tumbuh 31,4% yoy, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Angka ini setara 21,2% dari total pagu APBN tahun ini.
Belanja pemerintah pusat menjadi kontributor utama dengan realisasi Rp 610,3 triliun atau melonjak 47,7%. Secara rinci, belanja kementerian/lembaga (K/L) mencapai Rp 281,2 triliun atau naik 43,4%, sementara belanja non-K/L tumbuh lebih tinggi sebesar 51,5% menjadi Rp 329,1 triliun.
Adapun transfer ke daerah relatif stabil di level Rp 204,8 triliun, meskipun tercatat sedikit menurun 1,1%.
Perbedaan pertumbuhan antara pendapatan dan belanja tersebut membuat defisit APBN melebar menjadi Rp 240,1 triliun atau sekitar 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit keseimbangan primer juga tercatat sebesar Rp 95,8 triliun.
Untuk menutup kebutuhan pembiayaan tersebut, realisasi pembiayaan anggaran telah mencapai Rp 257,4 triliun, setara 37,3% dari target yang ditetapkan dalam APBN. (ds)
