Mudik Lebaran Lewat Pesawat Diprediksi Tembus 4,5 Juta Penumpang

IKPI, Jakarta: Mudik Lebaran 2026 melalui jalur udara diperkirakan akan melibatkan lebih dari 4,5 juta penumpang. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memproyeksikan total penumpang pesawat selama periode angkutan Lebaran mencapai 4.571.347 orang, naik sekitar 2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Direktur Angkutan Udara Kemenhub, Agustinus Budi Hartono menyampaikan bahwa peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan penumpang domestik maupun internasional, meski dengan tren yang berbeda.

Untuk penerbangan domestik, jumlah penumpang diperkirakan mencapai 3.641.655 orang atau naik sekitar 2% dibandingkan Lebaran 2025.

Sementara itu, penumpang internasional diproyeksikan mengalami lonjakan lebih tinggi atau tumbuh sekitar 20% dibandingkan tahun lalu.

“Tentunya kita prediksi untuk total penumpang domestik dan internasional itu sebanyak 4.571.347 penumpang. Mengalami kenaikan sebesar 2% dibandingkan dengan angkutan lebaran tahun lalu,” ujar Agustinus dalam Konferensi Pers yang digelar secara daring, Selasa (17/3).

Puncak arus mudik Lebaran melalui udara diprediksi terjadi pada 18 Maret 2026 dengan jumlah penumpang sekitar 265.810 orang.
Adapun puncak arus balik diperkirakan berlangsung pada 29 Maret 2026 dengan jumlah penumpang sekitar 275.000 orang.

Namun, berdasarkan perkembangan penjualan tiket, terdapat indikasi bahwa lonjakan penumpang sudah mulai terjadi lebih awal.

Data menunjukkan tingkat keterisian kursi pada beberapa rute meningkat signifikan sejak pertengahan Maret, sehingga kemungkinan puncak mudik dapat bergeser dari prediksi awal.

Untuk mendukung kelancaran arus mudik, Kementerian Perhubungan telah membuka Posko Angkutan Lebaran secara nasional sejak 13 Maret hingga 30 Maret 2026. Posko ini melibatkan berbagai kementerian, lembaga, dan operator transportasi untuk memantau pergerakan penumpang lintas moda secara terpadu.

Selain itu, pemerintah juga melakukan berbagai upaya untuk menjaga keterjangkauan tarif pesawat, antara lain melalui pemberian diskon sejumlah komponen biaya kebandarudaraan, diskon pajak, serta dukungan penurunan harga avtur di puluhan bandara.

Pemerintah menilai tingginya harga tiket yang beredar di masyarakat sebagian dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan kursi. Pada periode puncak mudik, tiket kelas ekonomi langsung sering kali sudah habis sehingga yang tersisa adalah penerbangan dengan transit atau kelas layanan lebih tinggi yang harganya jauh lebih mahal.

“Kalau kita perhatikan ternyata juga yang ditawarkan oleh online travel agent itu juga rute-rute yang mungkin kalau secara direct rutenya sudah habis, dan ternyata juga dilakukan adanya beberapa transit dan ternyata transitnya ini lebih dari satu kali transit dan mengakibatkan memang harganya ini cukup membengkak. Itu yang akhirnya menjadi persepsi yang sedikit salah di masyarakat, dianggapnya harga tiket itu sangat mahal,” katanya. (ds)

en_US